Yamaha

Industri Animasi Indonesia Rambah Pasar Dunia

  Senin, 17 Februari 2020   Widya Victoria
Indonesia-Korea Animation Industry Cooperation Forum

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sebagai salah satu upaya berkontribusi terhadap neraca pembayaran Indonesia, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mengembangkan sektor-sektor yang potensial mendatangkan devisa.

Salah satu potensi dari Indonesia di pasar luar negeri adalah produk animasi. Baik itu berupa jasa pembuatan, hasil karya berupa tayangan di televisi, di aplikasi digital serta produk hasil intelectual properti dari sebuah karya animasi.

Pemerintah memandang perlu memberikan dukungan kepada pelaku jasa animasi untuk dapat berkembang dan berdaya saing di pasar global.

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan Kemendag dengan mempertemukan para pelaku dari dalam negeri dengan pelaku animasi dari Korea Selatan pada kegiatan Indonesia-Korea Animation Industry Cooperation Forum 12-14 Februari 2020 di Jakarta.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar, Sutriono Edi menyampaikan, selama ini sektor jasa Indonesia umumnya dikaitkan hanya dengan kuliner dan distribusi maupun perdagangan yang memberikan sumbangan besar terhadap perekomian.

Setelah melalui pengamatan, diperoleh informasi potensi yang cukup besar pada jasa animator Indonesia yang tersebar di berbagai tempat seperti Jakarta, Jogjakarta, Solo dan Bali. Diam-diam industri animasi Indonesia telah diakui di dunia internasional dengan banyaknya kontribusi para animator Indonesia.

“Sebut saja beberapa karya animasi terkenal di dunia, seperti Lego Movies, Sonic, Rabbids Invation, The Advantures of Tintin dan lainnya, melibatkan industri animasi Indonesia,” jelas Sutriono Edi dalam sambutannya.

Kegiatan Indonesia-Korea Animation Industry Cooperation Forum merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pengembangan EksporNasional (DJPEN), Kementerian Perdagangan dengan ASEAN-Korea Center (AKC), The Korea Creative Content Agency (KOCCA), dan Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI).

Sebanyak 16 pelaku animasi Korea Selatan dan 40 pelaku animasi Indonesia berpartipasi pada acara ini. Bersama para pelaku dari Korsel, Sekretaris Jenderal AKC, Mr Lee Hyuk dan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom turut mendampingi dan hadir pada kegiatan forum bisnis.

Sekretaris Jenderal AINAKI, Eka Chandra mengharapkan kedua belah pihak mendapat manfaat ganda dari kerjasama ini.

“Di masa depan diharapkan terjadi  kemungkinan-kemungkinan baru dalam produksi bersama, pengembangan sumber daya manusia dan penetrasi IP di kedua negara,” ujar Eka Chandra.

Selama di Indonesia, para pelaku animasi Korea Selatan diajak untuk melihat kemajuan industri animasi Indonesia dengan berkunjung ke lokasi produksi MNC Animation dan The Little Giantz, serta ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pada tahun 2018 industri animasi dunia telah mencapai nilai yang fantastis, yakni 259 miliar dolar AS. Diperkirakan akan meningkat menjadi 270 miliar dolar AS pada tahun 2020.

Secara khusus, untuk industri animasi 3D, Grand View Research menyatakan mempunyai nilai pasar sebesar 13,75 miliar dolar AS pada tahun 2018 dan pertumbuhan rata-rata investasinya antara tahun 2019 hingga 2025 (CAGR) diperkirakan 11 persen. 

Sementara itu, perkembangan industri animasi Indonesia hingga saat ini belum tercatat dengan baik sehingga data yang dapat disajikan relatif minim. Menurut perkiraan Indonesia Service Dialogue (ISD) pertumbuhan sektor animasi dan video Indonesia pada tahun 2015 adalah 6,8 persen.

Di lain pihak, jumlah pelaku animasi Indonesia belum dapat dicatat dengan baik. Menurut perkiraan AINAKI, terdapat 35 buah studio dan lima buah partner industri animasi di Indonesia. Sebagian besar aktivitas pelaku animasi Indonesia adalah service works, yakni sebesar 80 persen dari kegiatan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar