Melihat Jauh ke Depan...

  Kamis, 20 Februari 2020   Editor
(Repro internet)

Menurut catatan ilmu pengetahuan, makhluk hidup telah bertahan hidup di bumi sejak ribuan, bahkan jutaan tahun lampau. Namun manusia modern, mencakup seluruh umat manusia yang saat ini terpencar ke berbagai belahan bumi, diyakini banyak ilmuwan, baru dimulai dari sebuah lokasi di daratan Afrika pada 300 ribu - 200 ribu tahun lalu.

Diyakini pula bahwa makhluk hidup mengalami perubahan pada pola kehidupan dan pasang-surut besaran populasinya, seiring proses seleksi alam. 

Perubahan iklim secara ekstrem semacam peristiwa mendingin-nya seluruh permukaan bumi atau mencairnya zat yg membeku di dua kutub bumi, adalah perangkat seleksi paling berpengaruh dalam menentukan pola dan populasi makhluk hidup, termasuk manusia. Kecuali faktor lain yang sulit diprediksi, yaitu bumi ditabrak asteroid atau benda besar angkasa lain. Faktor lain yang juga berpengaruh tapi terlalu rumit untuk diprediksi adalah peristiwa semacam perang nuklir

Banyak ilmuwan meyakini bahwa bumi telah berkali-kali mengalami peristiwa dimana suhu permukaan bumi menjadi sangat dingin, sebuah era yang diidentifikasi sebagai zaman es. Meski teori tentang periodisasinya masih beragam, tapi sebagian besar percaya bahwa zaman es terakhir terjadi pada 12 - 10 ribu tahun lalu.

Karena manusia modern sekarang ini terlalu hobi mengumbar karbon diaoksida ke lingkungannya, para ahli memperkirakan kalo sempat terjadi lagi Zaman Es yang berikutnya, pasti akan melebihi 100 ribu tahun lagi.

Para ilmuwan yang juga mendasari kepercayaannya pada faktor religi, juga menyepakati perkiraan bahwa awal keberadaan spesies manusia modern yang sekarang ini, rentang peradabannya tidak seberapa dibanding usia bumi, atau bahkan dibanding rentang keberadaan makhluk hidup (golongan tumbuhan & hewan), selain percaya tidak memiliki keterkaitan asal muasal. Terutama dari rumpun samawi yang percaya bahwa manusia pertama merupakan ciptaan khusus dari Sang Maha Pencipta.

Menurut ajaran Hindu yang memiliki catatan cukup rinci tentang asal muasal melalui berbagai versi kitab Purana, manusia modern sekarang ini berasal dari leluhur era ketujuh dari 14 era yang seharusnya, meski tidak menyebut secara spesifik soal waktu, namun menyepakati soal periode peradabannya.

Jadi dengan mengacu pada berbagai alternatif catatan periode keberadaan manusia modern dalam rentang peradabannya di muka bumi, sejak awal hingga kini, semua menyepakati bahwa rentangnya sangat tidak seberapa dibanding rentang keberadaan bumi yang sudah berlangsung miliaran tahun. 

Melalui bukti otentik, makhluk hidup sudah dimungkinkan menjalani kehidupannya di muka bumi sejak jutaan tahun lalu. Fosil primata tertua yang pernah ditemukan, diperkirakan berusia 55 juta tahun. Jadi dibandingkan keberadaan rentang peradaban manusia, jauh lebih panjang.

Realitas menyatakan, dalam rentangnya yang sedemikian singkat, keberadaan manusia modern sekarang ini sudah mencapai tingkatan populasi yang fantastis. Populasi mamalia yang bisa menyaingi jumlah manusia modern, mungkin hanya tikus rumah. 

Menurut catatan resmi, populasi manusia modern pada tahun 2011 lalu ada di kisaran angka tujuh miliar orang. Menurut publikasi di situs internet tentang "Population Clock", populasi manusia saat ini sudah melebihi angka 7,7 miliar di seluruh dunia.

Beberapa ahli berpendapat, ketika populasi manusia sudah mencapai angka delapan miliar, cenderung akan memicu potensi masalah. Apa potensi masalahnya? Yan pasti adalah problem sosial yang terlalu rumit untuk diulas secara ringkas. 

Yang lebih pasti, makhluk hidup, termasuk manusa, sangat bergantung pada keberadaan Oksigen (O2) dan kita tahu bahwa produsen oksigen adalah proses fotosintesis pepohonan yang jumlah dan luasa-nya bukan bertumbuh, tapi malah berkurang. Itulah sebabnya banyak pihak yang begitu peduli pada proses penghijauan lahan dan hutan.

Di beberapa negara yang memiliki keunggulan pada bidang teknologi luar angkasa, bahkan India, sudah mencanangkan program eksplorasi kehidupan di luar wilayah bumi. Mungkin mencari peluang untuk membangun koloni yang layak untuk dihuni manusia pada saatnya nanti.

Paling menonjol dalam publikasinya adalah Program SpaceX di AS yang dimotori oleh Elon Musk. Secara terus terang menyatakan sudah merancang dan merekayasa sebah pemukiman di luar bumi untuk bisa dihuni oleh manusia kelak, salah satu yang ditujunya adalah Planet Mars.

Bumi bukan hanya akan terlalu sesak nantinya, bukan sekedar karena populasi manusia-nya yang makin membengkak secara signifikan dari tahun ke tahun. Tapi juga sumber daya penunjang peradabannya, seperti kadar oksigen di udara, serta sumber daya lain, seperti air bersih, mineral pendukung kehidupan, kemudian lingkungan yang sehat.

Kita sudah sering mendengar, beberapa varietas tanaman jadi semakin langka dan cenderung punah. Sesering juga kita dengar banyaknya spesies hewan yang makin langka dan cenderung menuju punah.

Manusia modern sekarang ini boleh saja masih merasa aman, paling tidak sampai puluhan tahun mendatang. Namun bagi yang semestinya peduli pada generasi penerus, seperti layaknya sebuah negara atau pemerintahan, selayaknya punya rencana untuk menghadapi situasi yang bakal terjadi di depan sana….

Sebagai pribadi tapi memiliki keturunan, yakni anak, lalu cucu, kemudian cicit, dan seterusnya, selayaknya sih juga perlu peduli...

Mungkin kini saatnya kita merenung dan melihat jauh ke depan, baik sebagai pribadi atau salah satu bagian dari seorang warga negara...

Orang seperti Elon Musk, sejak dia mempelajari realitas dan bisa berpikir ke depan, mungkin sudah mulai mikir hal ini dan pasti-nya sejak bertahun-tahun lau. Karena program yang dipimpinnya (SpaceX), sudah bisa cerita banyak hal….


Heru Nugroho 
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing PANDI; Mantan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar