Yamaha

Gegara Korona, Bank Indonesia Koreksi Proyeksi Ekonomi 2020

  Kamis, 20 Februari 2020   Budi Cahyono
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan para Deputi Gubernur menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2020 di Komplek Bank Indonesia, Kamis (20/2). Foto: Republika/Lida Puspaningtyas

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Gegara wabah virus korona, Bank Indonesia juga turut mengoreksi sejumlah proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun 2020. Proyeksi tersebut telah memperhitungkan respons kebijakan BI dan pemerintah.

Keterangan tersebut disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo, Kamis (20/2/2020). Dia menjelaskan, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2020 akan lebih rendah, yaitu menjadi 5,0 persen-5,4 persen, dari prakiraan semula 5,1 persen-5,5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 5,2 persen-5,6 persen. Revisi prakiraan ini terutama karena pengaruh jangka pendek tertahannya prospek pemulihan ekonomi dunia pasca-meluasnya COVID-19,” kata Perry.

AYO BACA : Dialog SMSI Pusat, Ketua Dewan Pers: Eksplorasi Data Lahirkan Jurnalis Kritis

Dia mengatakan penyebaran wabah akan memengaruhi perekonomian Indonesia melalui jalur pariwisata, perdagangan, dan investasi. Ia berkomitmen BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan Otoritas terkait guna memperkuat sumber, struktur, dan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

\"Termasuk di antaranya mendorong investasi melalui proyek infrastruktur dan implementasi RUU Cipta Kerja dan Perpajakan,\" katanya.

Secara lebih rinci, pengaruh Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai dua bulan dan perlu pemulihan hingga enam bulan setelahnya. Selama masa tersebut, akan terjadi penurunan skala ekonomi.

AYO BACA : Wabah Korona, Pendapatan Qantas Turun Rp1,37 Triliun

Seperti pada pariwisata, devisa pariwisata diproyeksikan akan terpengaruh sebesar 1,3 miliar dolar AS. Gangguan logistik akan berdampak sebesar 0,3 miliar dolar AS pada ekspor dan impor sebesar 0,7 miliar dolar AS.

Selain itu, sektor investasi juga akan terdampak, khususnya dari China, yakni sebesar 0,4 miliar dolar AS. Faktor-faktor ini yang menyebabkan BI merevisi proyeksi ke bawah. Perry menyampaikan penilaian ini akan terus diperbarui seiring dengan perkembangan yang terjadi.

\"Kami juga koordinasi dengan pengusaha, importir melaporkan ada gangguan distribusi logistik, tapi mereka masih punya stok sekarang sehingga produksi tidak terganggu,\" katanya.

Ini membuat kondisi produksi dalam negeri tidak terganggu. Perry optimistis, Covid-19 punya pengaruh penurunan namun akan segera kembali pulih. Seiring dengan pemulihan yang dilakukan, maka aktivitas ekonomi global akan kembali normal. 

AYO BACA : Dampak Korona, Singapore Airlines Mengurangi Penerbangan hingga Mei

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar