Kenali Orthorexia, Gangguan Obsesi Makanan Sehat

  Kamis, 20 Februari 2020   Fitria Rahmawati
Ilustrasi dampak gangguan makan. [Shutterstock]

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Mengalami gangguan makanan tidak selamanya terlihat dengan jelas seperti anorexia atau bulimia. Jika Anda memakan waktu lama untuk menentukan apa yang akan dimakan karena harus memenuhi gizi yang seimbang, bisa jadi salah satunya.

Seperti gangguan makan lainnya, orthorexia adalah kondisi psikologis dan dapat dipulihkan dengan bantuan profesional kesehatan.

Dilansir Healthline, kebanyakan orang dengan orthorexia atau orthorexia nervosa, lebih memikirkan kualitas makanan, bukan kuantitas. Umumnya orang yang mengalami gangguan makan ini tidak fokus pada penurunan berat badan.

Orthorexia mulai diakui dalam dunia medis, meski belum secara resmi didefinisikan sebagai gangguan makan oleh American Psychiatric Association atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

AYO BACA : Demi Berat Badan ideal, Hindari Makanan Ini Setelah Pukul 4 Sore

Berdasarkan WebMD, tanda seseorang mengalami orthorexia dapat berupa:

1. Sangat memikirkan makanan

Seseorang dengan orthorexia dapat menghabiskan beberapa jam untuk memilih dan merencanakan makan dengan menimbang nutrisinya.

2. Menolak untuk makan berbagai macam makanan

AYO BACA : Kurangi Risiko Serangan Jantung, Konsumsi Magnesium

Orang dengan orthorexia dapat menyingkirkan banyak jenis makanan dari diet mereka. Misalnya saja kacang, makanan yang memiliki bahan pengawet atau makanan yang dianggap kurang sehat.

3. Takut kehilangan kendali (atas makan)

Orang orthorexia akan merasa telah melakukan hal yang benar dengan mengonsumsi makanan sehat. Tetapi orang tersebut juga mungkin akan ketakutan ketika mereka memakan makanan yang tidak direncanakan, berpikir hal itu akan menjadi 'bencana'.

4. Sangat kritis terhadap pilihan makanan seorang teman

Pada saat yang sama, mereka tidak dapat menjelaskan pilihan makannya sendiri.

5. Berada dalam 'lingkaran setan'

Obsesi mereka terhadap makanan menyebabkan dirinya berada dalam situasi antara rasa senang dan bersalah ketika mereka mengubah dan membatasi makanannya.

AYO BACA : Kenali Jenis Daging yang Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar