Yamaha

AHY Calon Ketua Umum, Gatot Nurmantyo Calon Presiden

  Jumat, 21 Februari 2020   Aldi Gultom
Gatot Nurmantyo saat masih menjabat Panglima TNI. (Antara/Setpres/Agus Suparto)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Boleh jadi, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang akhir-akhir ini rajin safari politik, menjadi calon kuat untuk menggantikan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Democratic Center for Strategic Studies (IndecenterS), Girindra Sandino, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu memang dipersiapkan SBY untuk menjadi penerusnya di pucuk pimpinan partai. 

Langkah AHY maju ke arena Pemilihan Gubernur Jakarta 2017 adalah bagian dari skenario SBY melanggengkan dominasi klan Cikeas di Demokrat. Upaya SBY mendorong AHY menjadi calon wakil presiden pada Pilpres 2019 juga bagian dari skenario itu.

"Maka tidak heran jika kemudian sekarang AHY jadi calon ketua umum. Lihat saja, dengan cepat AHY diberi posisi strategis di Demokrat, mulai jadi Komandan Satuan Tugas Bersama atau Kogasma, sekarang wakil ketua umum," kata Girindra dalam pendapat tertulis yang diterima redaksi.

Padahal, lanjut Girindra, Kogasma adalah lembaga baru yang terkesan dibentuk mendadak. Mungkin semata untuk mengakomodir AHY yang gagal jadi Gubernur Jakarta. Jadi, sangat kentara skenario SBY menyiapkan AHY sebagai calon pemimpin Demokrat di masa mendatang. 

Terkait seberapa kuat kans AHY menjadi nakhoda Demokrat, Girindra yakin sangat besar. Sebab, SBY masih jadi penentu di Demokrat. Pengaruhnya masih amat kuat.

"SBY masih menentukan di Demokrat. Karena itu ya kans AHY jadi Ketum Demokrat sangat besar," ujarnya.

Namun, jika dikaitkan dengan peluangnya berlaga di Pilpres 2024, Demokrat seharusnya mulai mempertimbangkan atau "mengelus" sosok lain, tidak terus tergantung pada klan Cikeas. 

Walau Pilpres 2024 masih jauh, tapi jika menilik kompetisi politik yang pernah diikuti AHY, nilai jual suami dari Anissa Pohan itu tidak terlalu mengkilap. Bahkan, masih kalah oleh sosok lain seperti Anies Baswedan (Gubernur Jakarta) atau Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat).

"Nilai jual AHY sendiri memang sampai saat ini masih kalah oleh Anies atau Ridwan Kamil. Digadangnya AHY sebagai Ketum Demokrat adalah cara untuk mengkatrol nilai jual AHY," ujar Girindra.

Pengamat pemilu di Indonesia ini berpendapat, Demokrat sudah mesti memikirkan calon alternatif yang lebih punya magnet politik mulai dari sekarang. 

Ia menyebut nama Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, eks Panglima TNI yang bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat. Jenderal Gatot, walau namanya sekarang seakan tenggelam, tapi punya magnet politik yang lebih mungkin dikapitalisasi. 

Status Gatot sebagai mantan Panglima TNI, menurut Girindra jadi nilai jual tersendiri. Sepak terjang Gatot juga sempat memikat publik di masa lalu. 

"Saya pikir Gatot bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat," ujarnya.

Jika dibandingkan sosok berlatar militer lainnya seperti Prabowo Subianto, kelas Gatot Nurmantyo bisa dikatakan setara. Misalnya saja AHY berhadapan dengan Prabowo di Pilpres 2024, ada hambatan psikologis politik mengingat AHY hanya pensiunan Mayor meski sama-sama mantan tentara. 

"Saya pikir suasana psikologis ini akan terasa di tengah publik, andai nanti misalnya, AHY bisa maju ke Pilpres dan lawannya itu adalah Prabowo. Berbeda kalau itu lawannya adalah Gatot," ujarnya.

Girindra tetap yakin segala kemungkinan bisa terjadi dalam politik. AHY bisa saja jadi kuda hitam jika dipoles dengan cerdas oleh pendukungnya. Apalagi Pilpres 2024 masih jauh. Menempatkan AHY di pucuk pimpinan Demokrat adalah satu-satunya cara untuk menaikan nilai jualnya. 

"Hanya cara itu, tidak ada strategi lain," tutup Girindra.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar