Yamaha

Lahir dari Media, Dompet Dhuafa Gelar A Tribute to BJ Habibie

  Kamis, 27 Februari 2020   Hendy Dinata
Diplomatic Forum dengan tema Freedom of the Press, A Tribute to BJ Habibie, Rabu (26/2/2020) (Humas Dompet Dhuafa)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Voice of Indonesia bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, Republika dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyelenggarakan gelar wicara Diplomatic Forum dengan tema Freedom of the Press, A Tribute to BJ Habibie.

Acara tersebut digelar di Auditorium Jusuf Ronodipuro, Gedung RRI, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2020), dengan menampilkan sejumlah pembicara, antara lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informartika Niken Widiastuti, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Dr. Peter Schoof, Kepala Media dan Komunikasi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta John Nickell, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal Sembiring, dan Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi. 

Menurut Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Imam Rulyawan, antara kebebasan pers dan mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie tidak bisa dipisahkan. Imam mengatakan, peran Habibie dalam kebebasan pers sangat signifikan. 

Hal itu juga menjadi pelajaran penting bagi Dompet Dhuafa dan Republika. Bahkan kebebasan pers di Indonesia menjadi terlihat perkembangannya. Kebebasan pers tersebut juga terlihat dengan perkembangan filantropi di Indonesia. 

Bacharuddin Jusuf Habibie mengambil andil besar dalam mewujudkan kebebasan pers di Indonesia. Saat menjabat presiden RI, Habibie mengesahkan UU 40/1999 tentang Pers. 

Menurut Direktur Voice of Indonesia Agung Susatyo mengatakan bahwa Habibie telah mengambil langkah penting dalam mendorong proses demokratisasi di Indonesia.  

“Mustahil kita bisa berbicara tentang demokrasi jika pers masih terkekang,” katanya, Rabu (26/02/2020).

Peran pers sebagai pilar demokrasi terus mendapat tantangan. Peningkatan Indeks Kebebasan Pers, tekanan terhadap awal media hingga munculnya fenomena hoax kerap muncul di permukaan. Agung Susatyo mengatakan, tantangan ini harus dijawab bersama oleh semua pihak, baik media, pemerintah dan masyarakat. 

“Warisan dari Pak Habibie dalam bentuk kebebasan pers ini harus kita rawat dan kita pelihara. Tantangan itu akan terus ada tapi kita harus mampu menjawabnya,” tegasnya.  

Baharuddin Jusuf Habibie wafat pada 11 September 2019 lalu. Habibie meninggalkan warisan besar bagi kemajuan demokrasi Indonesia dalam bentuk kebebasan pers. Jasa ini akan senantiasa menjadi kenangan manis bagi bangsa Indonesia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar