Yamaha

Bamusi: Pemerintah RI Harus Layangkan Nota Protes ke India

  Jumat, 28 Februari 2020   Widya Victoria
Muslim menjadi target 52 persen dari kekerasan yang berpusat pada masalah sapi selama hampir delapan tahun (2010 hingga 2017) dan terdiri dari 84 persen dari 25 orang India yang terbunuh dalam 60 insiden, menurut analisis konten IndiaSpend dari media Inggris.

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Yayan Sopyani Al Hadi mengecam aksi kekerasan dan pembakaran masjid di India. Aksi rasisme di India ini harus segera dihentikan. 

"Aksi kekerasan yang berbasis dan bermula dari ideologi, doktrin dan nilai-nilai rasisme tak boleh ada lagi di belahan dunia manapun," kata Yayan, beberapa saat lalu (Jumat, 28/2/2020). 

Yayan menerangkan, tindak kekerasan ini bermula dari UU Kewarganegaraan India. Kelompok muslim menolak UU kontroversial ini karena dinilai diskriminatif dan rasis. Namun, demonstrasi menentang UU ini berujung pada tindak kekerasan terhadap umat Islam di India. Umat Islam meninggalkan rumah dan masjid di rusak. 

Yayan pun berharap pemerintah Indonesia bisa melayangkan nota-protes ke India. Terlebih, Indonesia merupakan negara sahabat India. 

"Indonesia dan India pernah bersama-sama Indonesia dalam menginisiasi Konferensi Asia Afrika dan juga melawan imperialisme. Dan dalam imperilisme senantiasa ada benih rasisme, selain karena motif politik-ekonomi," tutur Yayan.

Yayan menilai semangat anti-rasisme sejatinya mengakar dalam hati orang-orang India. Sebab pengalaman pahit India dalam hal ini sudah cukup paniang. 

"Dan karena itu pula, deklarasi KAA, yang di dalamnya ada India, berisi pengakuan atas hak-hak dasar manusia dan pengakuan yang sama pada setiap suku bangsa," jelas Yayan.

Bercermin dari kasus India, Yayan mengajak warga Indonesia komitmen dan konsisten dalam menjalankan dan mengamalkan Pancasila yang digali Bung Karno dari nilai-nilai bangsa itu sendiri. Sebab Pancasila merupakan dasar dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang mempersatukan semua elemen, baik suku, agama, bahasa dan ras yang ada di Indonesia.

"Kita harus bersyukur punya Pancasila. Mari jalankan sungguh-sungguh. Bangsa lain kagum pada kita karena memiliki Pancasila," kata Yayan. 

Dalam Pancasila, sambung Yayan, Bung Karno menjelaskan bahwa semua orang Indonesia tak boleh tak beragama. Namun keberagamaan Indonesia harus berbasis para ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban. Yaitu Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur dan yang hormat-menghormati satu sama lain. 

"Dalam Pancasila, segenap pemeluk agama mendapat tempat yang sama dan tempat yang sebaik-baiknya. Tanpa ada diskriminasi atas nama apapun. Mari jalankan Pancasila bersama-sama secara istiqomah," demikian Yayan.

 

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar