Yamaha

Menengok Matangnya Sebuah Rencana, Mampir ke Happy City Sejong

  Selasa, 31 Maret 2020   Mirza Zulhadi
Kota Sejong (Wikiwand)

RIUH kepindahan ibu kota negara RI seperti senyap kembali. Pupus oleh isu wabah Corona. Sejak awal 2010, ibu kota pindah sepi dari pergunjingan. Hal yang sudah sering terjadi.

Isu berpindahnya ibu kota, dengan segudang permasalahannya, ramai dibicarakan namun kemudian lenyap bak ditelan bumi. 

Mungkinkah kali ini juga mengulang seperti itu? Ramai bergosip lalu senyap. Kali ini tampaknya Pemerintahan Jokowi serius untuk memindahkan ibu kota.

Berkunjung ke Sejong, kota administratif baru di Korea Selatan, memaksa kepala kita mengangguk. Menyetujui sebuah perencanaan yang matang, tentang sebuah kota ideal di masa depan. Dua jam perjalanan dari Seoul, ibu kota Korea Selatan, Sejong berangkat dari ide awal yang dicetuskan pada tahun 2002. 

Selama tiga tahun, rencana melahirkan sebuah kota bernuansa modern dimatangkan. Menampung segala permasalahan kota-kota besar dunia, lalu seolah menawarkan sebuah solusi. Tahun 2007, dimulailah  pembangunan “Happy City Sejong”.

Kota seluas 465 km2 ini dirancang untuk ditempati 800 ribu penduduk di tahun 2030. Saat ini, penduduk yang mendiami area yang berada pas di tengah-tengah wilayah Korsel itu berjumlah 284 ribu. Migrasi berjalan cepat. Saat mulai renovasi besar-besaran wajah kota, penduduknya tak lebih 100.000 orang. 

Dari 22 kantor pemerintahan, sebagian besar mulai mengalihkan kegiatan utamanya ke sana. Didesain menempati sebuah kompleks pemerintahan yang modern, kecuali Kementerian Pertahanan, Luar Negeri, dan Keuangan, yang mungkin akan tetap berdomisili di Seoul.

Kota yang dibangun berdasarkan peraturan khusus itu didesain menjadi “smart city” masa depan. Sebagai sebuah percontohan pembangunan yang berimbang di Korsel. Harmonisasi antara mengejar modernisasi dengan nilai-nilai kehidupan, menjadi dasar utama perencanaan. Pusat administratif pemerintahan akan dipadukan dengan kenyamanan bertempat tinggal bagi penduduknya.

“Kota yang membuat wanita dan anak-anak betah. Ada 50 taman atau area hijau nantinya di seluruh kota,” kata Wali Kota Sejong, Dr. Lee Choon Hee, saat berbincang dengan puluhan wartawan mancanegara yang sengaja diundang ke sana, di Taman Beruang, Sejong, akhir tahun lalu. 

Tentu, Sejong adalah kota yang juga menjanjikan keamanan bagi warganya. ICT atau Teknologi Informasi dan Komunikasi dibangun di seantero sudut kota.

Komite Kepresidenan Korsel sudah memutuskan, Sejong sebagai percontohan penerapan revolusi industri 4.0 seperti Big Data, AI (artificial intelligence) dan lainnya. Dan, telah dihubungkan lewat jaringan 5G guna menjadikan Sejong sebagai “smart city” terdepan di dunia. Gedung sebagai pusat informasi terintegrasi, berdiri dengan megah. Ada informasi tentang lalu lintas real time. CCTV untuk hal-hal yang bersifat darurat. Kalimat kuncinya: “Prosperity for all are begins”.

Selain kenyamanan dengan area hijau dan teknologi mutakhir, Sejong yang dipilih karena faktor geografisnya (2 jam perjalanan dari berbagai kota besar di Korsel) juga akan dilengkapi dengan puluhan perpustakaan yang dirancang secara artistik, agar orang betah membaca dan berdiskusi di dalamnya. 

Fasilitas lain dari kota yang bersemboyan “kota bagi semua orang untuk gembira bersama” ini, adalah infrastruktur kesehatan yang dibangun secara lengkap dan modern. Fasilitas untuk penyandang disabilitas. Tak ketinggalan, kompleks untuk berbagai kegiatan masyarakat, seperti berolahraga, sekaligus tempat terselenggaranya berbagai kegiatan kultural. Tempat masyarakat bercengkrama satu sama lain.

Sejumlah universitas ternama Korsel juga sudah membuka cabang di Sejong. “Nantinya di sini akan ada 20 lembaga riset dan teknologi,” kata Wali Kota Lee dengan bangga. Lalu, area pertanian dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, dibangun di pinggiran kota. 

Ada 850 farmhouse yang menghubungkan kebutuhan penduduk dengan produk pertanian yang dikembangkan. Makanan sehat untuk dimakan, adalah taglinenya. Karena kegembiraan harus dibarengi dengan tubuh sehat. Karena harapan indah di masa depan tak mungkin tergapai bila faktor kesehatan diabaikan.

Kaum muda, sebagai penentu masa depan, juga diberi kenyamanan untuk tinggal. Kawasan Jochiwon dibangun dengan melibatkan partisipasi kaum muda, tentang kebutuhan yang mereka butuhkan. Konsep lama tentang pusat kota sudah ditinggalkan. 

Sebuah youth center serba canggih sedang dalam penyelesaian proses. Namun desain kota tetap mengedepankan keserasian lingkungan. Hadir pula pasar tradisional dengan gaya khas plus jalan kultural, yang lebih ditujukan untuk menarik para turis.

Lengkap sudah sebuah kota yang dilahirkan untuk masa depan. Banyak kesempatan yang ditawarkan kota dengan pertumbuhan cepat itu. Kawasan tempat tinggal dirancang dengan sistem terintegrasi, yang membuat penduduk tinggal dengan rasa gembira. Membuang rasa bosan. 

Tempat tinggal dibangun berdekatan dengan kawasan perkantoran, sebagian dibangun tak jauh dari kawasan indutri. Tujuannya menghilangkan kesemrawutan lalu lintas. Tak lupa, sepanjang ratusan kilometer dibangun jalur untuk bersepeda di sekeliling kota meski jalan-jalan lebar plus angkutan massal seperti kereta api dan Bus Rapid Transit tetap mewarnai pemandangan.

Sejong dibangun agar orang tinggal dengan rileks dan menikmati keindahan hidup, di tengah derap pacu teknologi yang kerap memaksa manusia modern diliputi stres atau rasa khawatir yang berlebih. 

“Masalah kota metropolitan di banyak negara coba dipecahkan di sini. Pusat kota dibuat hijau. Sesuai dengan orientasi pembangunan kota, selalu menambah area hijau,” kata Lee, yang sudah puluhan tahun berkecimpung di pemerintahan, menggeluti bidang konstruksi dan transportasi.

Namun Lee menggeleng ketika ditanya: apakah Sejong akan menggantikan Seoul sebagai ibu kota negara? Manajemen kota smart city memang menjanjikan sebuah kota untuk masa depan. “Mimpi saya memang begitu,” katanya, untuk mengelak. 

Atau, mungkinkah saat dua Korea, Selatan dan Utara,  bersatu, Sejong ditunjuk menjadi ibu kota? Tak seorang pun berani meramal. 

Sementara Lee hanya tersenyum. "Tugas saya menyiapkan sebuah kota yang bisa menjanjikan kehidupan di masa depan yang lebih ramah,” ucapnya.

Ya, inilah contoh kematangan perencanaan dalam membangun sebuah kota.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar