Yamaha

Ini Pendapat Pakar soal Rapid Test untuk Uji Corona

  Rabu, 01 April 2020   Budi Cahyono
Petugas medis merawat pasien virus corona di Italia. (Foto: AFP)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Penggunaan metode rapid test untuk menguji virus corona di Indonesia dinilai tidak tepat, karena alat tersebut tidak mendeteksi virus namun antibodi virus.

Pendapat tersebut disampaikan, pakar biologi dari Stem Cell and Cancer Institute, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menilai rapid test yang dipakai pemerintah untuk menguji corona tidak tepat. Pasalnya, alat tersebut tidak mendeteksi virus namun antibodi virus.

"Rapid test yang dibeli pemerintah adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus. Padahal yang dicari harusnya bukan antibodinya, melainkan adalah virusnya sendiri yang harus dicari," kata Utomo seperti dikutip dari Hops.id--jaringan Suara.com, Selasa (31/3/2020).

AYO BACA : Diklaim Lebih Akurat, Pemprov DKI Lakukan Rapid Test dengan Serum

Menurut Utomo, rapid test adalah metode yang sangat sederhana sehingga dikhawatirkan bakal memberikan 'false negative' atau hasil negatif yang palsu. Pasien yang dites menggunakan metode ini bisa saja menunjukkan hasil negatif corona padahal aslinya positif.

Penyebabnya karena waktu yang dibutuhkan untuk mengetes antibodi sangat singkat.

Selain itu, harga rapid test juga murah, tidak seperti metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT- PCR) yang selama ini digunakan oleh negara-negara lain untuk melakukan uji corona.

AYO BACA : Pemprov DKI Jakarta Kecewa Menhub Bolehkan Bus Beroperasi Normal

"Indonesia nih menarik, melakukan tes yang sangat besar namun dengan alat yang belum pernah digunakan di dunia. Dunia semua pakainya PCR. Kita pakainya ini rapid test. Sebab untuk memutus mata rantai corona, tetap PCR yang tak boleh ditinggalkan," tegas Utomo.

Harga rapid test juga berkisar puluhan ribu, sama seperti tes diabetes yang murah meriah dan mudah dilakukan.

Bandingkan dengan alat PCR yang per satu kali tes bisa memakan biaya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

"Kalau rapid test kan cuma puluhan ribu, ini seperti tes diabetes, murah sekali," imbuhnya.

Padahal, menurut Utomo, sangat mungkin jika Indonesia merakit sendiri alat PCR dengan melibatkan para ilmuwan. Kualitas dan tingkat akurasinya pun tidak jauh berbeda dengan negara lain.

"Padahal seandainya ilmuwan dilibatkan sejak awal, itu mungkin bisa kita rakit (PCR), dengan kualitas dan akurasi sama. Karena sebenarnya Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar," katanya lagi.

AYO BACA : Corona di Jakarta: 51 Sembuh, 87 Wafat, dan 794 Positif

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar