Yamaha

Estimasi Jumlah Terpapar Corona Belum Terdeteksi Tiap Provinsi dan Nasional dengan Rapid Tes Ideal

  Minggu, 05 April 2020   Editor
Ilustrasi alat tes deteksi virus corona(Shutterstock)

Setelah merenung sambil bolak balik memantau perkembangan berita selama dua hari terakhir, semenjak Gubernur DKI Jakarta melakukan rapat virtual dengan Wakil Presiden, dan lebih dikuatkan lagi setelah mendengar laporan Gubernur Jawa Barat kepada Wakil Presiden yang juga secara virtual, penulis memutuskan untuk menuliskan pandangan pribadi ini.

Tidak ada maksud penulis sedikitpun untuk menakut-nakuti dengan tulisan ini, atau menambah rasa takut dan khawatir ditengah rasa takut dan khawatir yang mingkin menyelimuti kita atas Pandemi Corona yang melanda negara kita tercinta, Indonesia.

Tulisan ini lebih dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, untuk lebih meningkatkan kehati-hatian, untuk lebih meningkatkan kedisiplinan menjalankan PODIS (Pencegahan Oleh Diri Sendiri) seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Tulisan ini ditujukan sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat Indonesia untuk lebih serius memperhatikan dan melaksanakan dengan sangat sungguh-sungguh anjuran pemerintah dalam menghadapi Pandemi Corona. Entah itu anjuran menjaga jarak, anjuran mencuci tangan, anjuran berdiam di rumah, maupun anjuran untuk tidak mudik. 

Penulis berkeyakinan pemerintah teramat bersungguh-sungguh menghadapi serangan Virus Corona ini sehingga sudah sepatutnya seluruh lapisan masyarakat lebih bersungguh-sungguh lagi untuk mengindahkan dan mematuhi arahan pemerintah.

Dan di atas semua itu tulisan ini penulis goreskan agar laju penyebaran Virus Corona bisa dikendalikan dan masyarakat Indonesia segera bisa terbebas dari pandemi corona ini.

***

Gubernur DKI Jakarta melaporkan kepada Wakil Presiden bahwa situasi penyebaran Virus Corona di Wilayah DKI Jakarta sudah sangat mengkhawatirkan. 

Jumlah orang meninggal dunia yang dimakamkan dengan protokol Pasien Posititf Corona sebanyak 401 orang, sementara jumlah Pasien Positif Corona yang diumumkan Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sehari sebelumnya (1/4/2020) secara nasional sebanyak 157 orang.

Ada sebanyak 255,41 persen orang yang dimakamkan di daerah DKI Jakarta dengan protokol Pasien Positif Corona dibanding orang meninggal sebagai Pasien Positif Corona secara nasional.

Melihat data ini penulis sulit untuk tidak sepakat dengan pernyataan Gubermur DKI Jakarta bahwa tingkat penularan dan penyebaran Virus Corona sudah sangat mengkhawatirkan. 

Kenapa demikian? Karena 401 orang meninggal yang dimakamkan dengan protap Pasien Positif Corona itu secara keilmuan bisa dipandang sebagai 9,11 persen dari jumlah penderita potensial yang belum terdata di seluruh DKI Jakarta. 

Hal ini jika menggunakan perbandingan data terakhir yang dimumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 antara jumlah yang meninggal dan jumlah Pasien Positif Corona terakhir (3/4/2020), yaitu 181 orang meninggal berbanding 1.986 Pasien Positif Corona.

Dapat disimpulkan sementara bahwa jumlah potensial warga DKI Jakarta yang sudah tertular Virus Vorona adalah 4.402 orang. Hampir lima kali lipat lebih dari jumlah data resmi Pasien Positif Corona di DKI Jakarta.

**

Gubernur Jawa Barat menyampaikan laporan kepada Wakil Presiden dengan keyakinan bahwa orang terpapar Virus Corona di Jawa Barat jumlahnya berlipat-lipat dari data resmi yang dimililiki oleh pemerintah.

Keyakinan Gubernur Jawa Barat didasarkan pada realitas hasil rapid tes yang sudah dilakukan terhadap 15.000 orang di seluruh Jawa Barat.

Hasil rapid tes menunjukan 677 orang positif terpapar Corona dan harus mengikuti tes lebih lanjut atau sekitar 4,51 persen dari jumlah rapid tes yang dilakukan. Sebelumnya tidak terdeteksi sama sekali dan baru terdeteksi setelah dilakukan rapid tes.

Gubernur Jawa Barat juga melaporkan kepada Wakil Presiden bawa angka 15.000 yang dilakukan rapid tes tersebut belum bisa digunakan untuk melihat peta penyebaran Virus Corona di Jawa Barat jika merujuk kepada Korea Selatan yang berhasil mengendalikan penyebaran Virus Corona. Korea Selatan adalah negara yang sering dirujuk oleh pemerintah Indonesia sebagai model yang hampir cocok diterapkan di Indonesia: Lakukan rapid tes dan tidak lockdown.

Korea Selatan melakukan rapid tes sebanyak 15.000 per hari dengan total keseluruhan sekitar 300.000 atau sekitar 0,6 persen dari jumlah penduduk.

Jumlah penduduk Jawa Barat dengan jumlah penduduk Korea Selatan hampir mirip, yaitu 48.680.000 menurut data tahun 2018. Namun rapid tes di Jawa Barat baru dilakukan terhadap 0,031 persen penduduk. Untuk memotret data penyebaran Virus Corona di Jawa Barat jika mengikuti model Korea Selatan, harusnya rapid tes untuk Jawa Barat adalah sebanyak 292.080 rapid tes.

Maknanya adalah rapid tes yang dilakukan di Jawa Barat baru 5,14 persen dari yang seharusnya. Itupun mendapatkan data 4,51 persen dari yang melakukan rapid tes positif terpapar Virus Corona.

Bagaimana jika rapid tes dilakukan sesuai standar Korea Selatan, berapa estimasi penduduk Jawa Barat yang positif terpapar Virus Corona yang belum terdeteksi oleh pemerintah jika rapid tes dilakukan terhadap 0,6 persen penduduk Jawa Barat?

Sederhanya saja menghitung untuk memproyeksikan estimasinya yaitu 100 persen dibagi 4,45 persen, sebagai prosentase positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes terjadap 15.000 orang yang sudah dilaksanakan, dikalikan 677, orang yang positif tepapar Virus Corona hasil rapt tes tersebut.

Didapatkan hasil 15.011 orang yang potensial sudah terpapar Virus Corona di seluruh Jawa Barat dan belum terdata oleh pemerintah. 

Rekomendasi sementara adalah kesiapan pemerintah Jawa Barat dalam menangani penduduk terpapar Virus Corona adalah pada angka 15.000 orang. Itupun jika pengendalian penyebaran Virus Corona bisa dilaksanakan dengan baik sebagaimana dilakukan pemerintah Korea Selatan.

Sekali lagi, melihat data dan hitung-hitungan di atas penulis tidak bisa tidak memiliki pendapat yang sama dengan Gubermur Jawa Barat, walaupun hati kecil penulis ingin sekali untuk tidak memoercayai angka-angka di atas, bahwa jumlah sebenarnya orang positif terpapar Virus Corona di Jawa Barat berlipat-lipat dari data yang ada saat ini

**

Salah satu negara rujukan utama yang digunakan untuk memilih opsi tidak lockdown dan melakukan rapid tes untuk memotret dan memgendalikan penyebaran Virus Corona di Indonesia adalah Korea Selatan.

Korea Selatan melakukan rapid tes setiap hari sebanyak 15.000 dan segera hari itu juga melakukan tindakan yang diperlukan berdasar data harian tersebut untuk mengendalikan laju penyebaran Virus Corona. Baik tindakan pengobatan kepada penduduk yang terdeteksi positif terpapar Virus Corona maupun tindakan lain seperti melakukan tracing dan tracking. 

Tanpa diikuti tindakan tracing dan tracking sesegera mungkin maka penyebaran Virus Corona tetap tidak akan terkendali karena pembawa Virus Corona yang belum terdata masih berinteraksi di tengah-tengah masyarakat. 

Guna dapat memotret penyebaran Virus Corona dan agar optimal dalam menahan laju penyebaran Virus Corona melalui tindakan tracingn dan tracking Korea Selatan melakukan rapid tes di seluruh Korea Selatan sebanyak dan terjadap 300.000 penduduk dari sekitar 51 juta penduduk atau sekitar 0,6 persen dari jumlah penduduk. 

Itupun dengan catatan memerlukan kecepatan 15.000 orang tes per hari atau sekitar 5 persen rapid tes per hari dari keseluruham total rapid tes, atau dengan bahasa lain tes dengan rapid tes sudah harus selesai dalam kurun waktu 20 hari. Setelah itu fokus menggunakan data hasil rapid tes untuk melakukan tindakan pengobatan dan tindakan pencegahan penularan.

***

Prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 sekitar 271.000.000 penduduk.

Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyampaikan jumlah alat rapid tes yang didistribusikan ke seluruh Indonesia sebanyak 125.000 atau sekitar 0,045 persen dari jumlah penduduk atau baru sekitar 7,5 persen dari yang seharusnya jika menggunakan model Korea Selatan sebagai rujukan (Korea Selatan: 0,6 persen dari jumlah penduduk).

Idealnya rapid tes di Indonesia (sekali lagi jika merujuk Korea Selatan) adalah sekitar 1.700.000 rapid tes. 

Untuk bisa menyelesaiakan rapid tes dalam kurun waktu 20 hari, idealnya diperlulan tes sebanyak 85.000 rapid tes setiap hari dengan sebaran yang terukur di seluruh pelosok Indonesia.

Dan idealnya juga, hasil 85.000 rapid tes harian tersebut segera hari itu juga ditindaklanjuti dengan pengobatan dan tindakan tracingn dan tracking. Begitu seterusnya selama 20 hari berturut-turut.

Kalau itu tidak dilakukan maka orang yang positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes berpotensi menyebarkan Virus Corona kepada sekitarnya. Perlu diperhatikan dengan serius bahwa orang yang dinyatakan positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes tersebut rata-rata tidak menunjukan gejala dan orangnya sendiripun tidak mengetahui dan tidak sadar kalau tubuhnya membawa Virus Corona.

Kalau itu tidak dilakukan maka siapapun yang berinteraksi dengan orang yang dinyatakan positif terpapar positif Corona hasil rapid tes berpotensi terpapar juga dan berpotensi menularkan lagi ke sekitarnya. Demikian seterusnya mengikuti hukum deret ukut : 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, dst

Inilah fokus utama Rapid tes dilakukan yaitu untuk mencegah laju penyebaran seperti deret ukur diatas, untuk mencegah penyebaran Virus Corona secara tidak terkendali ditengah-tengah masyarakat tanpa disadari oleh penyebar maupun yang terpapar.

**

DKI Jakarta telah melakukan 20.532 rapid tes dari idealnya 57.600 tes, mengingat jumlah penduduk DKI Jakarta sekitar 9.600.000 penduduk. Hasilnya ditemukan 428 orang positif terpapar Corona atau sekitar 2,09 persen. Jika tidak dilakukan rapid tes maka tidak akan diketahui.

Angka ini di luar data yang dimiliki pemerintah DKI Jakarta maupun pemerintah pusat. Angka ini adalah jumlah orang yang selama ini sudah terpapar dan berpotensi menularkan Virus Corona di wilayah DKI Jakarta namun masih bertinteraksi secara bebas di tengah masyarakat karena memang tidak ada gejala dan tidak tahu kalau dia terpapar Virus Coroma.

Berapa jumlah orang terpapar Virus Corona dan berpotensi sebagai penular Virus Corona di wilayah DKI Jakarta jika rapid tes dilakukan dalam jumlah ideal?

Tentu tidak bisa dipastikan jumlahnya, bisa diatas atau di bawah angka 428. Namum jika trennya sama atau mirip, maka jika rapid tes dilakukan terhadap 0,6 persen penduduk DKI Jakarta, dengan kata lain dilakukan 57.600 rapid tes, maka jumlah orang positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes bisa saja pada kisaran 1.203  orang.

Ada 1.203 warga Jakarta yang sangat potensial positif terpapar Virus Corona dan sangat potensial sebagai penular Virus Corona namun orangnya tidak menyadari dan masih berinteraksi seolah tidak terjadi apa-apa, setidaknya masih berinteraksi dengan anak, istri, keluarga, dan secara terbatas dengan tetangga jika yang bersangkutan disiplin Work From Home.

Jumlah yang sangat mengkhawatirkan memang. Sangat mengkhawatirkan jika memikirkan daya penularannya. Sangat mengkhawatirkan mengingat dampak laju penularannya.

**

Jawa Barat telah melakukan 15.000 rapid tes dari idealnya 292.080 tes dengan asumsi jumlah penduduk Jawa Barat sekitar 48.680.000 penduduk. Hasilnya ditemukan 677 orang positif terpapar Corona atau sekitar 4,51 persen. Jika tidak dilakukan rapid tes maka tidak akan diketahui. 

Sama dengan DKI Jakarta, angka ini diluar data yang dimiliki pemerintah Jawa Barat maupun pemerintah pusat. Angka ini adalah jumlah orang yang selama ini sudah terpapar dan berpotensi menularkan Virus Corona di wilayah Jawa Barat namun masih bertinteraksi secara bebas di tengah masyarakat karena memang tidak ada gejala dan tidak tahu kalau dia terpapar Virus Coroma.

Berapa jumlah orang terpapar Virus Corona di Jawa Barat jika rapid tes dilakukan dalam jumlah ideal? 

Tentu tidak bisa dipastikan, bisa di atas atau dibawah angka 677. Namum jika trennya sama atau mirip, maka jika rapid tes dilakukan terhadap 0,6 persen penduduka Jawa Barat, sejumlah 292.080 rapid tes, maka jumlah orang positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes bisa saja pada kisaran 13.183 orang.

Tidaklah salah mengatakan angka tersebut merupakan jumlah yang berlipat-lipat dibandingkan data resmi yang dimiliki pemerintah, sebagaimana disampaikan Gubernur Jawa Barat kepada Wakil Presiden dalam rapat virtual hari Jum'at (3/4/2020).

Dan sangat mengkhawatirkan jika mengingat jumlah orang yang sangat berpotensi positif terpapar Virus Corona dan berpotensi sebagai penular diatas angka sepuluh ribu orang namun mereka tidak menyadarinya dan masih berinteraksi seolah tidak terjadi apa-apa dengan anak, istri, keluarga, dan secara terbatas dengan tetangga jika yang bersangkutan disiplin menjalankan Work From Home.

***

Pertanyaan lanjutannya adalah berapa estimasi orang positif terpapar Virus Corona di seluruh Indonesia yang belum terdata dalam data pemerintah dan masih berinteraksi dengan orang sekeliling, setidaknya dengan keluarga terdekat, jika menggunakan tren hasil rapid tes di DKI Jakarta sebagai estimasi bawah dan hasil rapid tes Jawa Barat sebagai estimasi atas?

Berikut hitung-hitungan yang penulis lakukan, namun ini bukan data riil orang terpapar Virus Corona di tiap provinsi maupun nasional. 

Sekali lagi ini hanya data estimasi jika menggunakan hasil rapid tes DKI Jakarta sebagai estimasi bawah (bukan terbawah) dan hasil rapid tes Jawa Barat sebagai estimasi atas (bukan teratas) dan menggunakan prosentase rapid tes yang dilakukan Korea Selatan terhadap jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang digunakan adalah jumlah penduduk tahun 2019 proyeksi Badan Pusat Statistik dan sebagian dari google.

Provinsi Aceh
Jumlah penduduk : 5,459 juta
Rapid tes ideal (Korsel : 32.754
Estimasi bawah : 685 orang
Estimasi atas : 1.478 orang

Provinsi Sumatera Utara
Jumlah penduduk : 14,700 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 88.200
Estimasi bawah : 1.844 orang
Estimasi atas : 3.978 orang

Provinsi Sumatera Barat
Jumlah penduduk : 5,196 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 31.176
Estimasi bawah : 652 orang
Estimasi atas : 1.407 orang

Provinsi Riau
Jumlah penduduk : 7,128 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 42.768
Estimasi bawah : 894 orang
Estimasi atas : 1.929 orang

Provinsi Jambi
Jumlah penduduk : 3,677 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 22.062
Estimasi bawah : 462 orang
Estimasi atas : 995 orang

Provinsi Bengkulu
Jumlah penduduk : 2,019 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 12.144
Estimasi bawah : 254 orang
Estimasi atas : 547 orang

Provinsi Sumatera Selatan
Jumlah penduduk : 8,567 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 51.402 
Estimasi bawah : 1.075 orang
Estimasi atas : 2.319 orang

Provinsi Lampung
Jumlah penduduk : 8,521 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 51.126
Estimasi bawah : 1.069 orang
Estimasi atas : 2.306 orang

Provinsi Kepulauan Riau
Jumlah penduduk : 2,242 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 13.452
Estimasi bawah : 282 orang
Estimasi atas : 607 orang

Provinsi Bangka Belitung
Jumlah penduduk : 1,517 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 9.102
Estimasi bawah : 191 orang
Estimasi atas : 411 orang

Provinsi Banten
Jumlah penduduk : 13,160 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 78.960
Estimasi bawah : 1.651 orang
Estimasi atas : 3.562 orang

Provinsi DKI Jakarta
Jumlah penduduk : 9,600 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 57.600
Estimasi bawah : 1.204 orang
Esrimasi atas : 2.591 orang

Provinsi Jawa Barat
Jumlah penduduk : 48,680 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 292.080
Estimasi bawah : 6.105 orang
Estimasi atas : 13.172 orang

Provinsi Jawa Tengah
Jumlah penduduk : 34,940 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 209.640
Estimasi bawah : 4.382 orang
Estimasi atas : 9.455 orang

Provinsi Jawa Timur
Jumlah penduduk : 39,886 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 239.316
Estimasi bawah : 5.002 orang
Estimasi atas : 10.794 orang

Provinsi D.I. Yogyakarta
Jumlah penduduk : 3,882 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 23.292
Estimasi bawah : 487 orang
Estimasi atas : 1.051 orang

Provinsi Bali
Jumlah penduduk : 4,380 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 26.280
Estimasi bawah : 550 orang
Estimasi atas : 1.186 orang

Provinsi NTB
Jumlah penduduk : 5,125 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 30.750
Estimasi bawah : 643 orang
Estimasi atas : 1.387 orang

Provinsi NTT
Jumlah penduduk : 5,541 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 33.246
Estimasi bawah : 695 orang
Estimasi atas : 1.500 orang

Provinsi Kalbar
Jumlah penduduk : 5,234 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 31.404
Estimasi terbawah : 657 orang
Estimasi teratas : 1.417 orang

Provinsi Kalteng
Jumlah penduduk : 2,769 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 16.614
Estimasi bawah : 348 orang
Estimasi atas : 750 orang

Provinsi Kalsel
Jumlah penduduk : 4,304 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 25.825 
Estimasi bawah : 540 orang
Estimasi atas : 1.165 orang

Provinsi Kaltim
Jumlah penduduk : 3,600 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 452 orang
Estimasi bawah : 452 orang
Estimasi atas : 975 orang

Provinsi Kaltara
Jumlah penduduk : 716 ribu
Rapid tes ideal (Korsel) : 4.296
Estimasi bawah : 90 orang
Estimasi atas : 194 orang

Provinsi Sulsel
Jumlah penduduk : 8,928 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 53.568
Estimasi bawah : 1.120 orang
Estimasi atas : 2.416 orang

Provinsi Sulbar
Jumlah penduduk : 1,405 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 8.430
Estimasi bawah : 177 orang
Estimasi atas : 381 orang

Provinsi Sulteng
Jumlah penduduk : 3,097 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 18.582
Estimasi bawah : 389 orang
Estimasi atas : 839 orang

Provinsi Sultra
Jumlah penduduk : 2,755 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 16.530
Estimasi bawah : 346 orang
Estimasi atas : 746 orang

Provinsi Gorontalo
Jumlah penduduk : 1,219 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 7.314
Estimasi bawah : 153 orang
Estimasi atas : 330 orang

Provinsi Sulut
Jumlah penduduk : 2,528 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 15.168
Estimasi bawah : 318 orang
Estimasi atas : 685 orang

Provinsi Maluku
Jumlah penduduk : 1,831 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 10.986
Estimasi bawah : 230 orang
Estimasi atas : 496 orang

Provinsi Maluku Utara
Jumlah penduduk : 1,278 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 7.668
Estimasi bawah : 161 orang
Estimasi atas : 346 orang

Provinsi Papua Barat
Jumlah penduduk : 981 ribu
Rapid tes ideal (Korsel) : 5.886
Estimasi bawah : 124 orang
Estimasi atas : 266 orang

Provinsi Papua
Jumlah penduduk : 3,701 juta
Rapid tes ideal (Korsel) : 22.206
Estimasi bawah : 465 orang
Estimasi atas : 1.002 orang

**

Jumlah ideal rapid tes untuk seluruh Indonesia jika mengikuti Korea Selatan sebagai model adalah sekitar 1.700.000 rapid tes.

Ada sekitar 33.676 orang hasil estimasi bawah orang positif terpapar Virus Corona di seluruh Indonesia berdasarkan hasil rapid tes jika mengikuti prosentase hasil rapid tes DKI Jakarta (2,09 persen) dan itu belum termasuk data yang diumumkan pemerintah sebelum rapid tes dilaksanakan.

Dan ada sekitar 72.667 orang hasil estimasi atas orang positif terpapar Virus Corona di seluruh Indonesia hasil rapid tes jika mengikuti prosentase hasil rapid tes Jawa Barat (4,51 persen) dan itu belum termasuk data yang diumumkan pemerintah sebelum rapid tes dilaksanakan.

Tidaklah salah menurut hemat penulis jika mengasumsikan bahwa jumlah tersebut sebagai jumlah orang yang positif terpapar Virus Corona jika rapid tes ideal dilakukan dan jumlah tersebut masih belum terdata dalam data resmi pemerintah, khususnya dan tidak terbatas untuk digunakan dalam merumuskan kebijakan penanggulangan penyebaran Virus Corona kedepan.

Tidaklah salah juga jika mengasumsikan bahwa jumlah tersebut adalah jumlah orang positif terpapar Virus Corona jika dilakukan rapid tes ideal namum mereka belum menyadarinya sehingga mereka tetap berinteraksi sebagaimana biasanya setidaknya dengan keluarga terdekat, sebingga berpotensi sebagai penular aktif.

Terhadap mereka meraka tentu saja tidak bisa diasumsikan telah secara lebik aktif melakukan PODIS (Pencegahan Oleh Diri Sendiri) dan secara lebih disiplin melakukan isolasi mandiri. 

Kenapa? Karena sebenarnya mereka merasa dan terlihat sehat-sehat saja, karena mereka tidak mengetahui apakah pernah berinteraksi dengan orang tertular Virus Corona karena memang tidak ada informasi tentang siapa saja dan dimana saja korban penderita Virus Corona tersebut yang diberikan pihak berwenang kepada mereka.

Ya, mereka tidak pernah tahu apakah pernah berinteraksi dengan korban terpapar Virus Corona sehingga kewaspadaan, kehati-hatian, dan kedisiplinan menjalankan PODIS (Pencegahan Oleh Diri Sendiri) tidak maksimal, walaupun tanpa mereka sadari mereka adalah pembawa dan pemyebar Virus Corona.

**

Hasil estimasi bawah dan atas yang merujuk hasil rapid tes DKI Jakarta dan hasil rapid tes Jawa Barat ini bukanlah realitas sebenarnya. Bisa saja hasil rapid tes sebenarnya di bawah estimasi bawah atau di atas estimasi atas atau di antara estimasi bawah dan estimasi atas jika rapid tes ideal dilaksanakan.

Hasil estimasi ini adalah hasil estimasi jika rapid tes dilaksanakan secara ideal dan bukan estimasi jumlah Pasien Positif Corona. Penetapan Pasien Positif Corona memerlukan tes lanjutan setelah dinyatakan positif hasil rapid tes.

Namun demikian, esrimasi hasil rapid tes tidal dapat diabaikan sedikit pun karena seseorang yang dinyatakan positif hasil rapid tes sangat berpotensi menularkan Virus Corona kepada sekelilingnya walaupun karena satu dan lain hal, seperti daya tahan tubuh yang baik, seseorang yang dinyatakan positif rapid tes bisa saja akhirnya negatif sebagai Pasien Positif Corona.

Namun bisa saja seseorang yang tertular Virus Corona dari seseorang yang positif rapid tes namun negatif sebagai Pasien Positif Corona berujung sebagai Pasien Positif Corona karena daya tahan tubuh yang berbeda.

Sebagai pembanding saja, pada awalnya di Sekolah Pembentukan Perwira Setukpa Lembaga Pendidikan Polri (Setukpa Lemdikpol) Sukabumi, Jawa Barat hanya ditemukan satu orang sebagai Pasien Positif Corona, selang beberapa waktu menjadi tujuh orang Pasien Positif Corona, dan setelah dilakukan rapid tes ditemukan sekitar 300 orang siswa yang positif terpapar Virus Corona padahal secara fisik tidak menunjukan gejala apa-apa.

Dan jika tidak dilakukan tindakan segera maka 300 siswa positif terpapar Virus Corona hasil rapid tes tersebut dapat saja semakin parah menjadi Pasien Positif Corona dan menularkan kepada sekelilinya dengan kecepatan penyebaran yang, meminjam istilah Gubermur DKI, sangat mengkhawatirkan, dan meminjam istilah Gubermur Jawa Barat, berlipat-lipat.

Apalagi mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas, terdiri dari lima pulau besar dan puluhan pulau-pulau kecil. Apalagi mengingat infrastruktur kesehatan yang sangat jauh berbeda di tiap daerah. Jika ada penular Virus Corona di suatu daerah dengan infrastruktur kesehatan kurang memadai maka akan semakin mempercepat laju penularan. Apalagi jika mengingat sosiologis masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, jika ada yang sakit berbondong-bondong menengok.

*

Semoga hasil hitungan estimasi ini bisa mencambuk seluruh masyatakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan kehati-harian, meningkatkan upaya PODIS (Pencegahan Oleh Diri Sendiri), dan terutama meningkatkan kepatuhan untuk melaksanakan anjuran dan arahan pemerintah.

Semoga dengan demikian mata rantai penyebaran Virus Corona dapat diputus dan pandemi corona segera dapat diatasi di seluruh pelosok negeri tercinta, Indonesia, dan masyarakat Indonesia kembali bisa menjalani kehidupan dengan normal, allahumma amiin.


Hendra J Kede
Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar