Yamaha

Dampak Corona, Omzet Penjualan Kain Sutra di Tasik Anjlok 90 Persen

  Senin, 06 April 2020   Budi Cahyono
Seorang perajin kain sutra di Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, tengah menenun kain sutra. (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

AYO BACA : Di Tengah Pandemi Corona, Ekspor Sarung Produksi Tegal Meningkat

AYO BACA : Ratusan Hotel di Kota Bandung Tutup Sementara, Ini Penjelasan PHRI Jabar

TASIKMALAYA, AYOJAKARTA.COM -- Pandemi Covid-19 berimbas pada beberapa sektor usaha. Di antaranya petani ulat sutra sekaligus perajin kain sutra di RT 06 RW 03 Kampung Karanganyar 2 Sabilulungan 3, Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya. Petani ulat yang tergabung dalam Koperasi Petani Pengrajin Ulat Sutra (KOPPUS) merasakan langsung dampak Covid-19.

"Semua perajin sutra sangat terdampak dengan keadaan sekarang. Pameran-pameran semua dibatalkan. Dalam penjualan kita mengalami penurunan drastis," kata Yuan salah satu perajin sutra, Senin (6/4/2020).

Yuan menambahkan, perajin kain sutra sangat rugi besar akibat penyebaran dan pandemi Covid-19. Sebelumnya, para perajin bisa menjual 50 potong kain sutra terjual ke berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Jawa Tengah dan daerah lainnya. Namun kini, perajin hanya bisa menjual paling banyak tujuh potong kain sutra.

"Bulan kemarin saja, seharusnya omzet kita dapat Rp150 juta, namun akibat dari adanya kebijakan sosial distancing hanya Rp 10 juta saja pada bulan kemarin. Kerugiannya mencapai Rp140 juta," tambahnya.

Berbagai stategi penjualan yang dipakai, kata Yuan, dalam kondisi saat ini tidak maksimal. Kecuali penjualan melalui online, itu pun tidak terlalu banyak hanya 20 persen saja. Biasanya, omzet paling besar yakni dari pameran yang bisa mencapai 70 persen.

Meskipun pasar dalam kondisi lesu, lanjut Yuan, pihaknya masih memproduksi kain jenis sutra maupun katun. Pasalnya, jika produksi dihentikan, sangat berisiko para pegawai yang jumlahnya mencapai 15 orang akan beralih profesi.

Jumlah produksi pun masih sama tidak ada penurunan hasil produksi. Dalam sebulan bisa mencapai 500 potong. Para pegawai rata-rata memiliki cicilan mingguan dan bulanan, sehingga pegawai tidak menghiraukan pengaruh Covid-19.

"Kalo misalnyaa pegawai di-PHK, takut pas keadaan stabil para pegawai sudah mempunyai pekerjaan lain. Sehingga sebisa mungkin, modal seadanya kita masih tetap mempertahankan produksi," kata Yuan

Sementara itu, Ketua KOPPUS, Kendra Gunawan mengatakan, untuk produksi kain sutra saat ini masih terus berjalan. Pasalnya jika diliburkan, para pegawai pasti beralih profesi.

"Tapi di sisi lain, produksi harus terus berjalan, adapun hasil produksi tidak bisa ke luar," kata dia

Kendra menyebutkan, omzet yang  biasa didapatkan dalam satu bulan sekitar Rp100 juta hingga Rp 150 jutaan, tapi saat ini hanya sebesar Rp10 juta hingga Rp15 jutaan.

"Sekarang mah hanya bisa untuk membayar upah saja. Dan menghabiskan stok bahan benang yang masih ada saat ini untuk diproduksi," ujar Kendra. (Irpan Wahab Muslim)

AYO BACA : Hipmi Jaya Minta Anies Bentuk Gugus Tugas Ekonomi Khusus DKI

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar