Yamaha

Aesler Banjir Orderan dan IPO Naik 180 Persen di Tengah Pandemi COVID-19

  Selasa, 14 April 2020   Widya Victoria
(Kiri) Direktur utama Aesler Grup Jang Rony Yuwono dan (Kanan) Aswinth Maratimbo, Direktur keuangan dan bisnis (Media Relation Aesler)

 

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pandemi global ini cukup banyak mempengaruhi berbagai sektor perusahaan. Namun tidak demikian PT Aesler Grup Internasional Tbk.

Perusahaan arsitek ini setelah tiga hari melakukan pendaftaran saham, nilai sahamnya sudah naik hingga 240 persen dari hari pertama IPO. Bahkan bisa cukup menyiasati keadaan dengan tetap mendapat project baru bagi perusahaan arsitek pertama yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini. 

Presiden Direktur Aesler, Jang Rony Yuwono mengatakan, harus ada berbagai cara untuk menyiasati keadaan yang sulit ini di tengah merebaknya virus corona. Salah satunya dengan bisa menghadirkan desain arsitektur ruang yang lebih kreatif dan mengintegrasikan pola hidup baru dalam planning arsitektur di dalam bangunan.

"Saat ini saham perusahaan kami terus mengalami kenaikan setelah kami daftarkan di BEI dan ada beberapa permintaan penyesuaian design arsitektur dengan banyaknya penerapan Work From Home, kami menciptakan design apartemen/hunian compact dengan satu bedroom yang terintegrasi dengan study room atau working room," tutur Jang Rony di Jakarta (Selasa, 14/4/2020).

Ia melihat tren ke depan metode bekerja tidak lagi harus dari kantor. Jadi konsep huniannya juga difasilitasi dengan ruangan kerja.

Jang Rony menambahkan, dengan adanya situasi pandemi global ini banyak kantor yang akan mengalami pola desain baru di mana penggunaan teknologi seperti smartphone untuk memanggil lift dan mengatur temperatur. Sebab salah satu faktor utama penyebaran virus melalui sentuhan permukaan. Meja yang biasanya berukuran kecil seperti co-working kini akan membesar, koridor sempit akan mengalami pelebaran. 

"Kami juga banyak mendapat orderan dengan konsep new social live dan work space. Karena dengan adanya pandemi sekarang kantor formal mungkin juga harus cepat untuk beradaptasi apabila bisnisnya ingin survive di masa pasca COVID-19 nantinya. Meeting room akan lebih dikontrol menggunakan smartphone sehingga antara meeting yang pertama dan selanjutnya akan ada jeda dan dipakai untuk pembersihan. Menurut riset ini akan banyak perubahan untuk hunian dan kantor," papar Jang Rony. 

Jang Rony juga memberikan saran kepada pemerintah agar aset-aset milik negara yang tidak produktif dan cukup membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk bisa dikolaborasikan dengan pihak swasta. Dengan begitu, kerjasama ini bisa saling memberikan keuntungan dan meringankan pihak swasta juga di masa ekonomi sulit.

"Jadi dampak dari keadaan yang diakibatkan virus corona ini bukan hanya negatif saja, tetapi dari kondisi ini kita bisa tetap melihat banyak opportunity dan ide-ide baru yang bisa dikembangkan dan akhirnya bisa membuat masyarakat lebih produktif dan lebih lebih kreatif dalam mengakselerasikan bisnis mereka," tutup Jang Rony.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar