Yamaha

KPAI Pecat Sitti Hikmawatty

  Jumat, 24 April 2020   Fitria Rahmawati
KPAI pecat Sitti Hikmawatty sebagai komisioner. instagram: st.hikmawatty
AYO BACA : Soal Berenang Bisa Hamil, KPAI Bentuk Dewan Etik

AYO BACA : Berenang di Tempat Umum Bisa Hamil? Begini Penjelasan Seksolog

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Komisioner Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawatty akhirnya dipecat.
 
Pemberhentian tidak terhormat itu dikarenakan Sitti pernah membuat geger dengan pendapatnya soal sperma yang bisa menyebabkan kehamilan di kolam renang. Meski tidak ada penetrasi, namun menurut Siti ada sperma yang kuat dan bisa menghamili perempuan yang berada dalam satu kolam renang.
 
"Menindaklanjuti rekomendasi Dewan Etik, KPAI telah menyampaikan surat kepada Presiden RI untuk memberhentikan saudari SH dari jabatannya sebagai anggota KPAI," bunyi salah satu bagian dari siaran pers KPAI yang ditandatangani Ketua Susanto di Jakarta, Kamis (23/4/2020).
 
Pemberhentian secara tidak hormat tersebut tidak seketika dilakukan. Sebelumnya, KPAI telah membentuk Dewan Etik yang beranggotakan I Gede Palguna, Yosep Adi Prasetyo, dan Menanti Wahyurini untuk menilai pernyataan kontroversial Sitti sebelumnya.
 
Menurut siaran pers tersebut, Dewan Etik telah mengeluarkan keputusan Nomor 01/DE/KPAI/III/2020 yang ditindaklanjuti dengan rapat pleno KPAI yang dihadiri sembilan Komisioner KPAI pada 17 Maret 2020.
 
Dalam rapat pleno tersebut, delapan Komisioner menerima rekomendasi Dewan Etik dan meminta kepada Sitti untuk mengundurkan diri dari jabatannya atau KPAI akan mengusulkan kepada Presiden untuk memberhentikan secara tidak hormat. Dalam rapat pleno tersebut, Sitti meminta waktu untuk berpikir dan delapan Komisioner lainnnya memberikan waktu hingga Senin, 23 Maret 2020 pukul 13.00 WIB.
 
Namun hingga waktu yang disepakati, KPAI tidak menerima surat pengunduran diri dari Sitti sehingga KPAI memutuskan mengusulkan pemberhentian secara tidak hormat kepada Presiden.
 
Keputusan tersebut merujuk pada Pasal 21 Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2016 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang menyebutkan: Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota KPAI diberhentikan oleh Presiden atas usul KPAI melalui Menteri.
 
Pasal 23 Peraturan tersebut menyebutkan: Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota KPAI diberhentikan tidak dengan hormat karena: a. dijatuhi pidana karena bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; atau b. melanggar kode etik KPAI.

AYO BACA : Belajar di Rumah, KPAI Dapat Aduan Kuota Habis, sampai Siswa Tensi Tinggi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar