Yamaha

Bolehkah Ibadah Itikaf di Rumah?

  Selasa, 28 April 2020   Editor
Ilustrasi itikaf di masjid

AYOJAKARTA.COM -- Beribadah di masjid secara simbol memang tampak lebih bermakna dan menjanjikan pahalanya, namun akan menjadi malapetaka tatkala berakibat tersebarnya wabah penyakit. Hal demikian jelas merupakan larangan agama Islam.   

Salah satu ibadah khusus yang hanya dapat dilakukan di masjid adalah itikaf. 

Menyadur dari NU Online, itikaf yang biasanya gencar dilakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan guna menggapai malam lailatul qadar, memang hanya dapat dilakukan di masjid dengan berpijak pada pendapat mayoritas ulama. 

"Namun dalam kondisi saat ini, perlu kiranya untuk lebih mengedepankan keselamatan diri sendiri dan masyarakat secara umum dengan cukup itikaf di ruangan yang dikhususkan untuk shalat yang terdapat di rumah kita, atau yang biasa disebut dengan istilah “masjid al-bait” (masjid rumah)," jelas pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember, ustadz M. Ali Zainal Abidin. 

"Masyarakat Jawa menyebutnya pasalatan, atau sebagian orang menyebut mushala rumah," lanjutnya.

Hukum melaksanakan ibadah itikaf di ruangan dalam rumah yang dikhususkan untuk shalat boleh dan sah dilakukan bagi perempuan menurut pandangan Imam Abu Hanifah dan qaul qadim (pendapat lama) Imam Syafi’i. Sedangkan bagi laki-laki juga sah dan diperbolehkan menurut pandangan sebagian ulama mazhab Syafi’i, dengan mengikut pada nalar “jika shalat sunnah saja yang paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf di rumah semestinya bisa dilakukan”.

Wanita melaksanakan itikaf di masjid rumahnya, maksudnya adalah ruangan tempat menyendiri (di rumah) yang diperuntukkan untuk shalat, apakah hal tersebut sah? Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat. 

Qaul jadid (pendapat baru Imam Syafi’i), Imam Malik dan Imam Ahmad berpandangan tidak sah, sebab tempat tersebut bukanlah masjid secara hakiki, karena tak ubahnya seperti tempat-tempat lainnya. Pendapat ini juga didasari dalil bahwa para istri Rasulullah melaksanakan itikaf di masjid. Kalau saja boleh beritikaf di rumah, niscaya mereka menetapkannya.

Sementara, qaul qadim dan Abu Hanifah berpendapat boleh itikaf di rumah (ruangan yang dikhususkan shalat). Berdasarkan pandangan ini, maka dalam bolehnya itikaf di rumah bagi laki-laki juga terdapat dua pendapat, meskipun lebih utama bagi laki-laki untuk tidak itikaf di tempat tersebut. 

Dalil bolehnya itikaf di rumah bagi laki-laki adalah pemahaman bahwa shalat sunnah bagi laki-laki yang paling utama adalah dilaksanakan di rumah, maka ibadah itikaf mestinya sama dengan ibadah shalat sunnah” (Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i, al-‘Aziz Syarh al-Wajiz, huz 6, hal. 503).  

Imam Abu Hanifah berkata: ‘Sah bagi wanita untuk beri’tikaf di masjid rumahnya, maksudnya adalah ruangan di rumahnya yang diperuntukkan untuk shalat, dan tidak boleh bagi laki-laki untuk itikaf di masjid rumahnya. 

Senada dengan Abu Hanifah yakni Qaul Qadim Imam as-Syafi’i, meskipun dianggap pendapat yang lemah menurut para ashab. Sebagian ulama mazhab maliki dan ulama mazhab syafi’i memperbolehkan beri’tikaf di masjid rumah bagi laki-laki dan perempuan” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim li an-Nawawi, juz 3, Hal. 3).

Salah satu ulama terkemuka mazhab Hanafi, Ibnu Abidin mendeskripsikan tentang ruangan di dalam rumah yang diperuntukkan untuk shalat dengan sekiranya ruangan tersebut terdapat mihrab (tempat pengimaman), bersih dan wangi, sebagaimana tempat-tempat yang digunakan untuk ibadah shalat pada umumnya.

Sedangkan niat i’tikaf di ruangan rumah yang dikhususkan untuk shalat dapat dilakukan dengan niat mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan i’tikaf di tempat tersebut lalu melafalkan kalimat berikut dalam hati:   

نَوَيْتُ الإعْتِكَافَ فِى هَذَا الْمَكَانِ لله تَعَالَى   

“Nawaitu al-i’tikâfa fî hâdza al-makâni lillâhi ta’âlâ”   
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melaksanakan i’tikaf di ruangan khusus untuk shalat yang terdapat di rumah merupakan persoalan khilafiyah (ada ragam pendapat).

Mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan dapat dijadikan sebagai solusi bagi kita agar tetap dapat melaksanakan itikaf di tengah persebaran pandemi COVID-19, ketika melaksanakan itikaf di masjid sudah tidak memungkinkan atau berpotensi tertular.

Ustadz Ali menyarankan dalam keadaan normal, sebaiknya i’tikaf tetap dilaksanakan di masjid, sebagaimana pandangan mayoritas ulama Mazhab Empat (Madzahib al-Arba’ah), agar ibadah dapat lebih sempurna dan mendapatkan fadilah yang berhubungan dengan tempat ibadah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar