Yamaha

Masa Pandemi, Begini Suasana Ramadan di Makam Kramat Pangeran Jayakarta

  Jumat, 08 Mei 2020   Hendy Dinata
Masjid Jami’ Assalafiyah di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur (Ayojakarta.com/Hendy Dinata)

JATINEGARA, AYOJAKARTA.COM -- Masjid Jami’ Assalafiyah atau juga dikenal dengan nama Masjid Pangeran Jayakarta, tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan Pangeran Jayakarta, penguasa terakhir kota pelabuhan Jayakarta. 

Masjid tua ini terletak di kawasan Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dibangun pada tahun 1620 oleh Pangeran Achmad Jaketra alias Pangeran Jayakarta guna mensyiarkan agama Islam dan menyusun strategi saat melawan tentara VOC (Belanda).

Tepat di samping masjid berdiri sebuah bangunan, mirip pendopo berukuran 10x10 meter yang berisi lima makam. Salah satunya makam Pangeran Jayakarta. 

Empat makam lainnya milik putra beliau, Pangeran Lahut, Pangeran Sagiri & istrinya, Ratu Rapi'ah serta Pengeran Soeria, putra dari Pangeran Padmanegara yang dipindahkan dari Kramat Tangkil Tahun 1978.

Pangeran Jayakarta dikenal sebagai pemimpin yang gigih untuk memperjuangkan Kota Jaketra (sekarang Jakarta) pada masa penjajahan Belanda tahun 1619-1640.

Penjaga Makam Pangeran Jayakarta, Mahfud (45) menuturkan, sebelum pandemi corona, makam ini tidak pernah sepi pengunjung.

"Ya selalu ada pengunjung yang berziarah, bahkan pernah sampai ribuan orang pada Ramadan tahun lalu, tapi sejak ada corona pengunjung sepi, tapi masih suka ada yang datang," ujarnya kepada Ayojakarta, Kamis (7/5/2020).

Saat memasuki makam asli Pangeran Jayakarta itu, peziarah akan disambut dua gapura layaknya kerajaan masa lalu. Melepas alas kaki jadi kewajiban tiap pengunjung yang datang.

Menurut Ketua Pengurus Masjid atau DKM, Raden Haji Ahmad Suhendar, yang masih memiliki garis keturunan Pangeran Achmad Djaketra, bukan hanya masyarakat biasa yang datang ziarah, ada juga dari kalangan pejabat. 

"Pak Jokowi, Pak Djarot, Sandi Uno, dan banyak pejabat lainnya yang pernah datang kesini untuk ziarah, istilahnya permisi atau minta izin terlebih dahulu. Agar niat baiknya tersampaikan saat menjabat," ucapnya. 

Suhendar pun akui memang suasana Ramadan kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. "Ibadah tarawih, buka puasa bersama, tadarusan bagi remaja. Kemudian kegiatan-kegiatan lain tidak dapat digelar, kita ikuti imbauan dari pemerintah," katanya.

Ia berharap pandemi covid-19 segera berakhir, agar umat Islam dapat kembali meramaikan masjid dengan ibadah. 

"Ya berharapnya agar segera berakhir, biar bisa ibadah lagi di masjid sebagaimana mestinya," ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar