Yamaha

Menelisik "Kampung Pengemis" Bandung, Mulai Alih Profesi dan Bekerja Layak

  Kamis, 14 Mei 2020   Budi Cahyono
Suasana "kampung pengemis" di kawasan RT 009 RW 004 Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Nur Khansa)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- -Predikat "kampung pengemis" sudah cukup lama tersemat pada daerah di kawasan RT 009 RW 004 Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Sejak lama, kawasan padat penduduk tersebut banyak didiami oleh warga luar provinsi yang harus hidup tanpa pekerjaan di perantauan.

Hal ini menjadikan para perantau berupaya mencari nafkah dengan mengharap derma di sejumlah titik di Kota Bandung. Namun, saat ini, keadaan tersebut diakui warga berangsur-angsur membaik.

Berdasarkan penuturan Neng (40) Kepala RT 009, kegiatan mencari nafkah dengan mengemis di kawasan tersebut telah terjadi secara turun temurun. Neng mengatakan, sejak dia kecil, warga yang berdatangan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke tempat tersebut cukup banyak.

"Banyak di antara mereka yang sewa kontrak tempat tinggal bertahun-tahun dan akhirnya bikin KK (Kartu Keluarga) jadi warga Bandung juga," ungkapnya ketika ditemui Ayobandung.com, di kediamannya, Rabu (13/5/2020).

Para perantau tersebut kemudian menikah dan membangun keluarga di kawasan ini. Anak-anak yang lahir sebagian membawa nasib keluarganya berubah, sebagian lain mengikuti jejak yang sama.

"Anak-anaknya itu kan sekarang sudah besar dan sudah pada bisa kerja. Mereka disekolahkan, jadi nasibnya membaik. Tapi itu tergantung orang tuanya juga," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, generasi penerus keluarga perantau tersebut saat ini kebanyakan bekerja tidak jauh dari tempat tinggalnya dan lebih layak dibanding saat mengemis. Beberapa menjadi cleaning service di Rumah Sakit Hasan Sadikin, beberapa lainnya berdagang.

Bahkan, dia mengatakan, kawasan tempat tinggalnya sempat disambangi warga asal Korea Selatan yang memberikan pelatihan menjahit bagi sejumlah warga. Beberapa warga disebut masih menekuni kegiatan menjahit tersebut hingga saat ini dan sesekali menjual hasil jahitannya.

Selain itu, para warga yang sebelumnya mengemis kini mayoritas pun telah 'alih profesi' menjadi pedagang. Banyak di antara mereka yang memilih berjualan makanan ringan di gerobak ataupun membuka warung kecil-kecilan di depan rumahnya.

"Kebanyakan sih jualan di roda (gerobak). Ada yang awalnya ngemis jadi buka warung kecil-kecilan, ada yang jual jajanan dadakan seperti bala-bala di lapangan. Di lapangan dekat sini kan suka ada kontes burung, nah banyak yang berjualan di sana," paparnya.

Neng menyebutkan, dari total 105 kepala keluarga dan 400-an jiwa yang tinggal di kawasan tersebut, populasi warga yang masih "mengemis" tidak lebih dari 20%. Itu pun, dia mengaku, kegiatannya tidak meminta-minta meskipun masih berada di sekitaran lampu merah jalan raya.

"Kalau yang minta uang begitu sudah tidak ada. Karena banyak yang dilarang juga, suka kena razia di jalan. Akhirnya jadi berjualan di lampu merah, seperti jual stroberi, jual tisu atau vitamin C," ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan salah satu warga setempat, Hendra (27). Pria yang bekerja di RSHS tersebut mengatakan bahwa para pengemis masih cukup ramai terlihat ketika dirinya duduk di bangku sekolah.

"Dulu memang banyak, kebanyakan bukan asli orang sini tetapi ngontrak di RT 009. Tapi makin ke sini makin berkurang," ungkapnya.

"Kerasa sih bedanya dulu dan sekarang. Mungkin karena sering dapat julukan itu (kampung pengemis), jadi ya mulai berbenah karena enggak mau dibilang seperti itu," tambahnya.

Menanti Bantuan

Meski mayoritas warga disebut tidak lagi mengemis, kondisi permukiman Gang Eme RT 009 tersebut tidak bisa dibilang sepenuhnya layak. Ketika Ayobandung.com menelusuri kawasan tersebut, rata-rata rumah berdiri berdempetan satu sama lain.

Lebar gang padat penduduk tersebut tidak lebih besar dari satu kali rentangan tangan orang dewasa. Terdapat beberapa cabang gang yang bahkan lebih sempit, cahaya matahari pun sulit untuk menerobos masuk.

AYO BACA : 'Manusia Karung' di Bandung Raya Diprediksi Terus Bertambah

Warga bisa bernapas sedikit lebih lega saat memasuki area sekitar lapangan karena jarak antar-rumah yang lebih lebar. Namun suasana kumuh masih terasa.

Di area gang, banyak anak kecil yang bermain dan berlarian, sehingga mengharuskan pengemudi sepeda motor untuk ekstra berhati-hati. Di dekat lapangan, seorang warga nampak tengah mencuci perabotan masak di sebuah reruntuhan bangunan.

Neng menyebutkan, selama pandemi Covid-19 berlangsung, pihaknya dan para warga di RT nya tersebut belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah secara merata. Sejauh ini, dia melaporkan baru 10-15 orang yang menerima bantuan.

"Itu juga dari Dinas Sosial Kota Bandung, kalau bantuan sembako dan uang bulanan yang dijanjikan provinsi sama sekali belum ada," ungkapnya.

Dia menyayangkan tidak adanya pendataan ulang dari pihak pemerintah kota, provinsi maupun pusat mengenai warga yang saat ini terdampak Covid-19. Hal tersebut membuat bantuan yang turun cenderung salah sasaran.

"Para RT di sini menyesalkan tidak ada pendataan ulang, takutnya kan ada yang sudah meninggal atau sudah pindah masih dapat bantuan. Kemarin saja ada warga yang sudah meninggal malah dapat bantuan," ungkapnya.

Padahal, bantuan sosial adalah salah satu hal yang dinanti bagi warga setempat. Terlebih saat pandemi di tengah bulan Ramadhan, penghasilan warga yang berjualan ikut berkurang.

"Masyarakat jadi bertanya-tanya juga, mengetahui pembagiannya dan pendataannya seperti ini dari mulut ke mulut, ya sudahlah jadi banyak yang sudah pasrah," ungkapnya. (Nur Khansa)

AYO BACA : Kisah 'Manusia Gerobak' Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar