Yamaha

Bedakan Karantina dan Isolasi Diri Saat Wabah Corona

  Selasa, 19 Mei 2020   Widya Victoria
Ilustrasi karantina saat wabah COVID-19

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Di tengah pandemi, istilah karantina dan isolasi diri juga sering kita dengar. Keduanya dapat dilakukan sekitar 14 hari bahkan sebelum timbul gejala. 

Dalam kurun waktu tersebut sistem kekebalan tubuh mampu membentuk vaksin sehingga dapat menekan sebaran virus dalam tubuh penderita dan ke sekitarnya.

Isolasi adalah perawatan medis bagi yang sudah positif terinfeksi virus corona dengan cara dipisahkan dari orang sehat dan yang sakit tetapi tidak terinfeksi virus ini. Sedangkan karantina diri berarti tinggal di rumah dan tidak bepergian untuk menurunkan resiko terinfeksi atau menjadi pembawa virus.

Karantina dilakukan jika memiliki riwayat perjalanan terutama ke Provinsi Hubei, China (termasuk Kota Wuhan) atau pernah keluar negeri sejak bulan November 2019 hingga Februari 2020 termasuk jika dilakukan oleh anggota keluarga serumah atau tetangga sebelah rumah. 

Karantina diri juga harus dilakukan oleh mereka yang berisiko terpapar COVID-19, seperti sedang demam, batuk, pilek, dan sakit lainnya, memiliki riwayat demam atau ISPA, ada kecurigaan melakukan kontak atau ada riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi virus ini, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien yang sudah positif COVID-19.

Sederhananya, imun kita sedang berjuang agar tubuh dapat kembali sehat sehingga jika diharuskan isolasi diri atau karantina maka lakukan dengan serius. 

Saat kondisi ini, kita harus cukup beristirahat, tidak stres, tetap berolahraga ringan, mendapatkan sinar matahari pagi, dan dibantu dengan asupan makanan bergizi dan vitamin. 

"Saat Anda harus dikarantina misalnya, jangan keluar rumah karena dapat menyebabkan penularan. Jika selama 14 hari tubuh menunjukkan kemajuan, seperti tidak ada lagi gejala ISPA dan penyakit lain maka karantina atau isolasi diri dapat diakhiri,” ujar Section Head of Claim Sequis dr. Yosef Fransiscus.

Jika selama menjalankan isolasi dalam tiga hari berturut-turut suhu badan tetap tinggi, di atas 38 derajat Celcius, batuk dan sesak nafas maka harus segera mencari pertolongan medis. 

"Juga bagi pasien pneumonia dan yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromised) haruslah waspada karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas," imbuhnya. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar