Yamaha

Kupas Tuntas GERD-Anxiety: Mematikan? Bagaimana Mengatasinya?

  Selasa, 19 Mei 2020   Aldi Gultom
Ilustrasi (womanltalk.com)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Kamu sering merasakan nyeri di dada disertai sesak, terasa tercekik di kerongkongan, sering bersendawa, mual hingga muntah-muntah?

Jika iya, bisa jadi kamu adalah penderita GERD, singkatan dari gastroesophageal reflux disease (GERD).

GERD secara harfiah adalah penyakit di mana asam lambung yang seharusnya ada di lambung bergerak naik ke kerongkongan melewati klep yang seharusnya selalu tertutup. 

Dikutip dari perbincangan Podcast "Let's Talk Gerd" dan sejumlah sumber bidang kesehatan yang terpercaya, gejala paling umum dari GERD adalah gangguan menelan dan munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung yang sifatnya membakar naik ke kerongkongan. 

Rasa asam di mulut bisa disusul kerusakan gigi bahkan sampai keropos, kemudian gangguan bau mulut.

Samakah dengan sakit maag?

GERD agak berbeda dengan sakit maag. Sakit maag adalah meningkatnya jumlah asam lambung, sedangkan GERD adalah naiknya asam lambung ke kerongkongan. 

Orang yang menderita GERD biasanya mengalami gangguan maag. Tapi, orang yang menderita maag belum tentu menderita GERD.

Namun, perlu diketahui bahwa para penderita GERD bisa jadi tidak merasakan gejala yang sama persis. Semua gejala itu bisa muncul, namun tergantung pada derajat keparahan GERD atau sensitivitas masing-masing orang.

Hal yang wajar bila kebanyakan penderita GERD pada awalnya menduga diri mereka menderita serangan jantung karena gejala atau sensasinya memang amat mirip. 

Karena itu disarankan, bila kamu kerap merasa nyeri di dada seperti sakit jantung, Anda harus memeriksakan diri lebih dulu ke dokter spesialis jantung. Jika dokter sudah memastikan Anda tidak menderita sakit jantung, barulah Anda bisa melanjutkan pemeriksaan ke dokter spesialis penyakit dalam.

Apa saja penyebab GERD? 

Pertama, jumlah asam ambung yang banyak. Kedua, gangguan kerja lambung sehingga pengosongan asam lambung ke bawah jadi terhambat. Ketiga, klep antara kerongkongan ke lambung yang seharusnya tertutup malah terbuka. 

Apa faktor risiko GERD?  

Pola makan yang tidak baik (kebiasaan makan asam dan pedas), pola makan yang tak teratur (sekali makan kenyang, lalu tidak makan lagi dalam sehari), kebiasaan langsung tidur sehabis makan, konsumsi kopi dan teh, makan terlalu banyak lemak yang memperlambat pengosongan lambung.

Kondisi Psikis

Asal lambung juga bisa meningkat karena kondisi psikis. Stres, cemas atau rasa khawatir berlebihan adalah salah satu pencetus meningkatnya asam lambung selain pola makan dan makanan yang tidak sehat.

Jika kamu sudah yakin sudah menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan asam lambung naik, maka mungkin saja penyebab Anda terkena GERD adalah kondisi psikis yang tidak baik.

Adakah hubungan antara GERD dan Anxiety (cemas berlebihan)?

Sangat mungkin. Salah satu pencetus GERD adalah anxiety. Bisa saja orang tidak mengalami anxiety, namun ia menderita GERD. 

Tapi ada juga orang-orang yang sudah menghindari banyak faktor pencetus GERD namun tetap mengalami GERD dalam waktu lama, sangat mungkin ada faktor anxiety. Dalam hal ini, penyembuhan mesti melibatkan pakarnya yaitu psikolog atau psikiater. 

GERD dan Anxiety itu bisa menjadi siklus yang berulang. Ketika penderita cemas, asam lambungnya meningkat dan melahirkan keluhan mirip serangan jantung, yang akhirnya membuat si penderita semakin cemas lebih lanjut.

Tips dari GERD Survivor

Laura Marrylin adalah salah seorang penyintas GERD. Dalam 6 bulan terakhir, Laura mengaku sudah bisa "berdamai" dengan GERD-Anxiety. Kuncinya, menurut Laura, ada pada "tiga pola" yang ia terapkan.

"Saya yakin saya bisa sembuh karena atur pola makan, pola hidup dan pola pikir. Karena pola pikir berkaitan dengan anxiety. Ketika kamu stres, akan memicu naiknya asam lambung, maka sensasi-sensasinya muncul. Heartburn, sesak, susah menelan itu akan menimbulkan ketakutan," jelas Laura, kepada Ayojakarta. 

Untuk menjadikan pengalamannya berguna buat para penderita GERD-Anxiety, Laura selama ini berbagi lewat Podcast (program Let's Talk GERD) dan membuat konten YouTube yang mengupas segala hal terkait GERD dan anxiety.

Dari pembicaraannya dengan dokter spesialis dan orang-orang yang bisa berdamai dengan GERD, Laura simpulkan bahwa penyakit ini tidak berbahaya dan tidak mematikan.

"Saya pernah berdialog dengan dr. Candra Wiguna Sp.PD., dia spesialis penyakit dalam dari RS Siloam. Dia pastikan, GERD ini tidak mematikan. Ini bisa dihindari dan bisa sembuh. Yang penting atur tiga pola itu tadi," kata Laura.

Laura juga prihatin dengan pandangan umum masyarakat yang belum benar-benar memahami GERD. 

"Masih banyak yang mengatakan ini penyakit akibat guna-guna, penyakit jiwa dan bisa membunuh. Itu semua tidak benar," tambahnya.

Laura mengatakan, cara paling mudah pulih dari GERD adalah menjauhi pantangan-pantangannya seperti makanan pedas, asam, berlemak; menghindari minum kopi atau teh; juga memperbanyak aktivitas yang menyehatkan tubuh juga pikiran. 

Terakhir, Laura menyebut faktor penting yang mempercepat kesembuhan penderita GERD dan anxiety adalah dukungan keluarga dan orang terdekat.

"Ketika GERD-Anxiety muncul, dukungan keluarga atau orang terdekat sangat membantu si penderita untuk cepat pulih," tutupnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar