Yamaha

Korea Selatan Hadapi Sebaran Klaster Baru Covid-19

  Selasa, 19 Mei 2020   Budi Cahyono
Seorang petugas kesehatan di National Medical Center, Korea Selatan ( Chung Sung-Jun/Getty Images)

AYO BACA : Waspada! WHO Prediksikan Gelombang Kedua Covid-19

AYO BACA : Kasus Corona di Rusia Tertinggi Kedua setelah Amerika

SEOUL, AYOJAKARTA.COM -- Korea Selatan berhasil melandaikan kurva jumlah kasus Covid-19 lewat virus dengan pengetesan masif dan pelacakan kontak, di mana kasus positif per-hari tidak pernah menyentuh angka 10 orang. Namun, negara tersebut belakangan kembali mengalami peningkatan kasus yang cukup signifikan.

Sebagaimana dilansir dari kantor berita lokal, Yonhap, Selasa (19/5/2020), peningkatan jumlah kasus positif terjadi setelah seorang pria berusia 29 tahun dinyatakan positif pada 6 Mei 2020. Pria tersebut mengunjungi lima kelab malam di distrik Itaewon pada awal Mei.

Berdasarkan keterangan Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), kasus tersebut menyebabkan munculnya klaster penyebaran baru di Itaewon. Selain di kelab malam Itaewon, kasus serupa juga terjadi di Buncehon, di mana seorang pasien positif asal Vietnam mengunjungi kelab malam di distrik tersebut awal bulan ini.

Hingga Senin (18/5/2020), setidaknya terdapat 170 kasus positif Covid-19 di Korea Selatan yang berhubungan dengan penyebaran kasus kelab malam. Saat ini, otoritas setempat mengatakan telah berhasil mengendalikan sebaran kasus dari klaster baru tersebut.

Kemudian, kasus baru kembali muncul di salah satu rumah sakit umum terbesar di Seoul, Samsung Medical Center. Wali Kota Seoul Park Won-soon mengatakan bahwa setidaknya ada empat perawat di rumah skait tersebut yang dinyatakan positif Covid-19.

Rute infeksi kasus rumah sakit tersebut hingga saat ini belum diketahui. Park menyebutkan sebanyak lebih dari 200 orang yang mengalami kontak dengan perawat positif tersebut telah diperiksa, dan rumah sakit ditutup untuk sementara.

"Kami mendesak warga untuk mengimplementasikan protokol karantina dalam keseharian, karena ketika kita melonggarkan pengamanan terhadap virus, infeksi baru bisa menyerang kapan saja," ungkap pejabat kesehatan senior setempat, Yoon Tae-ho.

Hingga saat ini, negara dengan total populasi lebih dari 50 juta jiwa tersebut telah melakukan pengetesan terhadap 765.574 orang sejak 2 Januari 2020. (Nur Khansa)

AYO BACA : Ilmuwan Prediksi Covid-19 Hilang Sebelum Vaksin Ditemukan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar