Yamaha

Kata Kak Seto Soal Kondisi Psikologis NF yang Hebohkan Warga Sawah Besar

  Kamis, 21 Mei 2020   Fitria Rahmawati
NF, remaja usia 15 tahun yang membunuh balita merupakan korban pemerkosaan dua pamannya sendiri, serta mantan kekasihnya. Kini NF harus menanggung beban mengandung janin usia 14 minggu. (dok)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - NF (15) remaja yang membunuh balita di Sawah Besar memiliki kondisi psikologis yang mengarah pada perilaku callous unemotional. Hal itu dikemukakan psikolog senior Seto Mulyadi alias Kak Seto.

"Jadi ada saja anak yang mempunyai 'bakat' callous unemotional istilah untuk anak-anak bisa saja memiliki itu, tapi tidak akan menjadi aktual kalau tidak mendapatkan rangsangan negatif," jelasnya kepada Suara.com - jaringan Ayojakarta.com, Rabu (20/5/2020).

"Jadi ini semacam bertemunya antara faktor 'bakat' tadi, dengan lingkungan yang mendorong lahirnya sebuah tindakan yang sadis, tidak berperikemanusiaan dan sebagainya."

AYO BACA : NF Pembunuh Balita di Sawah Besar Hamil, Tetangga Tak Tahu Keberadaan Keluarganya

Dalam sebuah studi yang terbit dalam Jurnal Pediatri Italia BMC, perilaku CU termasuk kurangnya empati, rasa bersalah, dan emosi yang dangkal.

Kondisi ini juga dapat mengidentifikasi subkelompok anak-anak yang menunjukkan perilaku antisosial parah dan persisten.

Berdasarkan data yang terbit dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry dari Wirral Child Health and Development Study (WCHADS) menunjukkan, respon anak terhadap emosi orang lain dapat meningkat dengan adanya respon dan 'kehangatan' pola asuh sang ibu selama masa bayi.

AYO BACA : NF, Pembunuh Balita di Sawah Besar Adalah Korban Kekerasan Seksual

Penelitian yang dilakukan oleh Nicola Wright dan rekannya ini merupakan yang pertama dalam mengidentifikasi hubungan antara pengalaman bayi tentang perhatian emosional empatik dan risiko lebih rendah dari sifat CU.

"Kami memperkirakan bahwa sensivitas seorang ibu terhadap isyarat kesedihan bayinya akan memiliki peran spesifik dalam menurunkan sifat-sifat CU karena mengalami empati orang tua akan meningkatkan empati pada anak," tuturnya, dilansir Association for Child and Adolescent Mental Health.

Hasilnya, peneliti menemukan sensivitas terhadap kesedihan bayi memang memprediksi risiko lebih rendah dari sifat CU pada anak, begitu pun dengan kehangatan sang ibu.

"Respon anak-anak terhadap emosi orang lain dapat ditingkatkan dengan respon ibu mereka sendiri terhadap mereka dan kehangatan ibu mereka," tulis peneliti.

AYO BACA : NF, Pembunuh Bocah di Sawah Besar Kini Gemar Gambar Anime

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar