Yamaha

ABK WNI Kapal Pesiar Meninggal karena Corona, Orang Tua: Ia Pencari Nafkah Keluarga

  Selasa, 26 Mei 2020   Editor
Pujiyoko

AYOJAKARTA.COM --  Keluarga Pujiyoko (27), ABK Indonesia yang meninggal karena virus corona, menuntut pihak Royal Caribbean Cruises karena dianggap abai melindungi para pekerjanya. 

Pujiyoko meninggal dunia bulan April lalu setelah hasil tesnya menunjukkan positif virus corona.

Dikenal sebagai seorang yang suka bepergian, berpetualang, dan mencintai kehidupan, Pujiyoko yang tumbuh dalam keluarga miskin mengadu nasib di kapal pesiar Symphony of the Seas.

Dengan bekerja di kapal, ia tidak hanya ingin menafkahi keluarganya, tapi juga mewujudkan mimpinya untuk berkeliling dunia.

"Dia senang sekali bekerja di kapal itu. Dia mendengar tentang pekerjaan itu dari temannya, lalu meminta izin saya, akhirnya saya izinkan," kata ayahnya, Isanto.

"Ini keinginannya sendiri. Ia memang adalah pencari nafkah bagi keluarga kami."

Pujiyoko bekerja di bagian tata graha atau housekeeping.

Pada 23 Maret lalu, seminggu setelah para penumpang kapal tempat Pujiyanto bekerja berlabuh di Miami, Amerika Serikat, ia merasakan gejala seperti tertular virus corona.

Berdasarkan gugatan yang diajukan pihak keluarga ke pengadilan Miami, disebutkan gejala yang dialami Pujiyoko semakin memburuk setiap melakukan konsultasi mingguan di fasilitas kesehatan kapal pesiar tersebut.

Seiring waktu, gejala demam dan sakit badan Pujiyoko berkembang menjadi pneumonia atau gangguan pernafasan parah. Sejak tanggal 28 Maret, dia harus memakai tabung oksigen.

Hari selanjutnya, ia dinyatakan positif mengidap COVID-19, namun baru keesokan harinya dilarikan ke rumah sakit dan mendapat bantuan penggunaan ventilator atau alat bantu pernafasan.

Kurang dari dua minggu setelah dirawat, Pujiyoko dinyatakan meninggal dunia karena cedera otak parah.

Mendengar hal tersebut, orangtuanya di Indonesia kini menuntut Royal Caribbean karena tidak melakukan tes COVID-19 terhadap Pujiyoko dan membawanya ke darat lebih cepat.

"Mereka tidak melakukan tindakan cepat. Mereka tidak memperhatikan dia. Seandainya dia dibawa ke rumah sakit lebih awal, dia pasti masih hidup sekarang."

Ibu Pujiyoko, Sukarni menangis terisak melihat foto anaknya ketika masih bekerja di kapal pesiar.

"Rencana dia adalah untuk bekerja, untuk membahagiakan kami," kata dia.

"Ia bilang kepada saya bahwa suatu hari akan membiayai saya naik haji karena kami sangatlah miskin."

Ketika dihubungi ABC, perusahaan Royal Caribbean menolak untuk memberikan komentar tentang kasus yang sudah masuk ke pengadilan tersebut.

Pengacara dari keluarga Pujiyoko di Amerika Serikat, Michael Winkleman mengatakan, pria asal Jawa Tengah itu bukan satu-satunya yang kondisinya diabaikan oleh Royal Carribbean.

Menurutnya, pihak kapal juga tidak melakukan perlindungan terhadap kru kapal, bahkan setelah penumpang sudah diturunkan. Padahal sudah muncul kekhawatiran bahwa sebenarnya virus corona sudah menyebar di kapal itu.

Catatan dari gugatan yang diajukan bahkan mengatakan kru kapal juga "didorong untuk menghadiri pesta, acara, dan aktivitas lainnya", dua minggu setelah penumpang sudah diturunkan.

Pihak kapal menyuruh kru kapal untuk tetap berkumpul dan dalam keramaian tanpa menerapkan protokol perlindungan COVID-19.

"Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menutup seluruh aktivitas pelayaran pada tanggal 13 Maret," kata Michael.

"Namun setelah dilakukan, tetap saja tidak ada perlindungan pada kru kapal. Tidak ada imbauan social-distancing, karantina, ataupun masker."

Sementara itu, masih menurut keterangan Michael, di kapal tersebut sempat diadakan pesta untuk merayakan 'St Patrick's Day' di mana terdapat ratusan hingga ribuan kru kapal.

"Lagi-lagi, tidak ada masker, tidak ada imbauan apapun, dan tidak ada tindakan pencegahan untuk melindungi kru," katanya.

Di dalam gugatan yang diajukan, tercatat bahwa satu minggu sebelum semua penumpang diturunkan, tepatnya pada 7 Maret, paling tidak satu penumpang kapal 'Symphony of the Seas' memiliki gejala virus corona.

Pujiyoko adalah salah satu dari setidaknya lima warga Indonesia yang meninggal karena COVID-19 di kapal pesiar, dan satu dari dua kru kapal yang meninggal di kapal milik perusahaan 'Royal Caribbean'.

I Putu Sugiartha asal dari Bali, adalah kru kapal yang meninggal di kapal lain milik perusahaan 'Royal Caribbean' bernama 'Oasis of the Seas' pada 18 April lalu, sebulan setelah meninggalkan kapal tersebut.

Menurut laporan yang diterima ABC, kasus I Putu Sugiartha sudah diselesaikan di pengadilan.

Lebih dari 100 kru kapal Oasis of the Seas lainnya dinyatakan positif COVID-19 ketika masih berlayar, menurut keterangan gugatan di pengadilan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar