Yamaha

Kapan Istilah New Normal Pertama Kali Muncul?

  Rabu, 27 Mei 2020   Andres Fatubun
Ilustrasi New Normal (Shutterstock)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Istilah New Normal marak diperbincangkan dalam dua pekan terakhir di Indonesia. 

New Normal jadi trending topic setelah pemerintah mengklaim penyebaran COVID-19 di Indonesia stabil dan bisa dikendalikan. Soal klaim ini, tentu masih sangat bisa diperdebatkan dan nyatanya memang banyak yang menggugatnya.

Tapi, kapan sebetulnya istilah New Normal pertama kali muncul?

New Normal pada awalnya adalah jargon dalam dunia ekonomi dan bisnis. Istilah tersebut mengacu pada pembuat kebijakan dunia bahwa ekonomi industri akan kembali ke "cara terbaru" setelah dihantam krisis keuangan pada 2007-2008.

Istilah New Normal pertama kali muncul dalam publikasi pada artikel yang ditulis oleh Rich Miller dan Matthew Benjamin berjudul "Post-Subprime Economy Means Subpar Growth as New Normal in U.S." Artikel tersebut tayang di Bloomberg pada 18 Mei 2008.

Setahun kemudian, New Normal kembali ramai diperbincangkan setelah muncul dalam kolom opini berjudul "Prepare for the Best" yang ditulis oleh Paul Glover. Artikel tersebut tayang di media daring Philadelphia Citypaper pada 29 Januari 2009.

New Normal yang dimaksud oleh Glover adalah panduan bagi warga Kota Philadelphia dalam menghadapi isu global warming. Istilah New Normal versinya adalah masa depan dunia yang sangat memperhatikan isu lingkungan.

Pada tahun 2010, istilah New Normal semakin populer sehabis Ketua PIMCO, Mohamed A El-Erian, menyampaikan kuliah umum yang berjudul "Navigating the New Normal in Industrial Countries". Kuliah umum tersebut disampaikan pada 10 Oktober 2010 dan disiarkan secara online ke seluruh dunia. PIMCO merupakan lembaga manajemen investasi global yang berfokus pada manajemen pendapatan tetap aktif.

El-Erian menyampaikan istilah New Normal dengan mengacu pada artikel yang ditulis Rich Miller and Matthew Benjamin yang terbit di Bloomberg dua tahun sebelumnya.

Sejak itu, istilah New Normal semakin sering digunakan dalam pemberitaan di media-media besar di berbagai negara seperti ABC News, BBC News, dan the New York Times.

Bahkan istilah New Normal dijadikan sebagai salah satu tema dalam debat Calon Presiden AS tahun 2012 antara Barack Obama dan Mitt Romney.

Sejak pandemi COVID-19 di seluruh dunia, istilah New Normal kembali ramai digunakan.

New Normal dalam konteks pandemi COVID-19 pertama kali disuarakan oleh tim dokter di University of Kansas Health System. 

Mereka menyatakan pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 350.000 jiwa di seluruh dunia per 27 Mei 2020 akan mengubah tatanan hidup keseharian manusia. New Normal akan membatasi kontak fisik manusia yang sebelumnya adalah aktivitas biasa seperti berjabat tangan dan berpelukan.  

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo sudah meminta jajarannya untuk mensosialisasikan New Normal secara besar-besaran. Ia bahkan meninjau secara langsung persiapan menjalani New Normal itu dengan mengunjungi sarana publik Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta dan Mal Summarecon Bekasi.

Pemberlakuan New Normal ini pun disambut baik oleh pemerintah daerah.

Sekretaris Gugus Tugas P2 COVID-19 Jawa Barat, Daud Achmad, menyatakan New Normal di Jabar siap dilakukan karena pihaknya sudah memetakan kondisi masing-masing daerah ke dalam berbagai tingkatan kewaspadaan.

Daud mencontohkan, skema new normal di dalam sebuah mal dapat terlihat seperti jumlah pengunjung mal yang dibatasi, adanya sarana cuci tangan di area masuk, dan kewajiban memakai masker bagi seluruh pengunjung dan penjual. Protokol jaga jarak atau physical distancing juga tetap harus dilaksanakan.

Secara umum, seperti yang disampaikan tim kedokteran University of Kansas Health System, New Normal akan berdampak siginifikan pada aktivitas, perilaku, dan kebiasaan manusia terutama di tempat umum dan yang melibatkan kerumunan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar