Yamaha

Ratapan Pelaku Bisnis Wedding Organizer di Tengah Pandemi COVID-19

  Kamis, 28 Mei 2020   Hendy Dinata
Ilustrasi wedding organizer (Kompas.com/Shutterstock)


TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Tak semua sektor bisnis lega atas rencana pemerintah pusat menerapkan fase normal baru di sejumlah daerah.

Padahal, alasan utama pemerintah mencanangkan new normal adalah demi menggerakkan lagi roda perekonomian yang selama ini mandek akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun, rencana beralihnya fase PSBB ke fase normal baru dianggap dingin oleh kalangan pelaku usaha wedding organizer. Kegiatan resepsi pernikahan yang menjadi lahan bisnis wedding organizer tetap dilarang di masa pandemi karena mengundang banyak orang dan berpotensi besar menjadi klaster penularan baru.

John Richard (26), pelaku usaha wedding organizer di Depok, Jawa Barat, menganggap protokol kesehatan COVID-19 menghentikan pemasukan bisnis.

"Hancur, sama sekali tidak ada pemasukan. Klien yang sudah booking membatalkan resepsi," katanya kepada Ayojakarta, Kamis (28/5/2020).

John terpaksa merumahkan belasan pekerjanya akibat pandemi. 

"Mau enggak mau, akibat pandemi ini kami rumahkan hampir 20 orang. Mau dipertahankan bagaimana? Enggak ada pemasukan sama sekali," keluhnya.

Nasib serupa dirasakan pemilik usaha wedding organizer di Jakarta Selatan, Rizky Maulana (32). Dia mengaku baru menggulirkan bisnis wedding organizer pada awal tahun ini.  

Sebelumnya, Rizky hanya membuka jasa foto dan video pernikahan sejak 2014. Awalnya usaha WO berpotensi besar, walau baru berjalan tiga bulan. Beberapa klien sudah masuk. 

Sebelum virus corona merebak, Rizky bisa mendapatkan rata-rata 2-4 klien per bulan. Dari situ, laba bersih bisnisnya Rp40 juta-Rp60 juta sebulan. Namun, saat ini, situasinya langsung terbalik. Semua klien yang siap menggelar pernikahan di bulan-bulan ini langsung memutuskan untuk menunda sampai dengan waktu tidak ditentukan.

Ia sendiri memberi toleransi penundaan jadwal pernikahan sampai tahun depan. Rizky menyebut semua kliennya memilih untuk menunda.

"Kalau omzet pasti terjun bebas. Tadinya bisa pegang Rp60 juta bersih. Kini bayar pegawai saja harus bobol celengan," katanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar