Yamaha

Dirut TVRI Iman Brotoseno Luruskan Soal Masa Lalu di Majalah Playboy dan Cuitan 'Bokep'

  Jumat, 29 Mei 2020   Aldi Gultom

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI yang baru dilantik dua hari lalu, Iman Brotoseno, meluruskan isu negatif menyangkut dirinya. 

Komentar di Twitter yang sudah bertahun-tahun lalu dipostingnya, kembali diviralkan oleh netizen hari ini lewat tangkapan layar (screenshot). Beberapa dianggap vulgar dan bernuansa pornografi, salah satunya menggunakan kata 'bokep'. Viralnya cuitan lama di Twitter itu disusul tagar #BoikotTVRI yang kemudian populer di Twitter. 

Karena itu, Iman merasa perlu menyampaikan pernyataan resmi lewat keterangan tertulis. 

Dia juga menglarifikasi rekam jejaknya sebagai eks kontributor foto dan artikel tentang penyelaman di berbagai majalah, termasuk salah satunya pernah dimuat hanya satu kali di majalah Playboy Indonesia, edisi September 2006 dengan judul “Menyelam di Pulau Banda“. 

Menurut Iman, tulisan itu fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi.

Dalam keterangan persnya, Iman merasa ada gelagat ke arah pembunuhan karakter terhadap dirinya setelah dilantik sebagai Dirut TVRI.

Ini adalah isi lengkap pernyataan pers Iman Brotoseno:

Puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala atas ridho dan karuniaNya sehingga saya dilantik sebagai Direktur utama LPP TVRI ( PAW ) 2020 – 2022.

AYO BACA : Jangan Sampai TVRI Putar Film-film Porno

Latar belakang saya adalah seorang pekerja seni – sutradara film, penulis, fotografer yang mungkin mempunyai cara pandang bersikap yang bisa dianggap berbeda bagi sebagian orang. Banyak tulisan tulisan saya di blog pribadi atau majalah yang bisa menunjukan siapa saya. Mulai dari topik kebangsaan, sejarah, alam, fotografi, masalah aktual(current issue ), politik, budaya juga agama Islam.

Dalam tahun 2006 - 2008 saya sering menjadi kontributor foto dan artikel tentang penyelaman di berbagai majalah, termasuk salah satunya pernah dimuat hanya satu kali, di majalah Playboy Indonesia, edisi September 2006 dengan judul “Menyelam di Pulau Banda“. Tulisan ini fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi.

Majalah tersebut, sangat berbeda dengan versi di luar negeri. Banyak penulis juga mengisi majalah tersebut dan banyak tokoh nasional juga yang diwawancara di Playboy Indonesia. Tentunya hal ini tidak menghilangkan integritas penulis dan tokoh yang bersangkutan, karena substansinya tidak terkait pornografi. Bahkan sikap Dewan Pers ketika itu menilai terhadap putusan MA yang memvonis Erwin Arnada sebagai Pemred majalah Playboy Indonesia pada tahun 2010. Dewan Pers secara tegas menolak menyebutkan majalah Playboy Indonesia melanggar pasal pornografi. Bahkan Dewan Pers menilai, putusan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi pers.

Sesudah pelantikan menjadi Direktur Utama TVRI, saya menyatakan, dalam era digital sekarang kita semua punya rekam jejak digital dan peristiwa masa lalu. Sejak awal, saya tidak pernah berbohong kepada publik, di mana semua bisa dilihat dalam jejak digital dan tidak ada kasus pelanggaran hukum di masa lalu. Saat itu Netizen masih belum terpolarisasi dan belum terjadi perpecahan kubu aspirasi politik maupun ideologi seperti sekarang. Dalam percakapan itu yang juga melibatkan beberapa orang seperti pekerja seni termasuk saya, dapat saja menggunakan bahasa gurauan yang oleh pihak lain dapat dianggap sebagai hal serius.

Setiap orang memiliki rekam jejak masa lalu, termasuk bagaimana percakapan di media sosial. Apapun itu, setiap orang tentu memiliki masa lalu, termasuk kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja. Saat 14 tahun lalu, saya sebagai pekerja seni tidak menyangka bahwa, saya akan menduduki jabatan publik di TVRI. Saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya tulis di media sosial dan juga sikap saya sebagai warga negara. Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi Direktur Utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu - niatan sengaja membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter - tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi. 

Bagi saya, sangat penting untuk menguatkan komitmen saya untuk memperbaiki hal hal yang buruk dimasa lalu dan memulai tahap baru. Saya berdoa dan memohon ridha Allah untuk senantiasa mampu mengemban beban amanah melalui jabatan Direktur Utama LPP TVRI. Apa yang diungkap di masyarakat tentu merupakan kritik dan masukkan bagi saya agar semakin lebih baik ketika menyandang amanah Allah bekerja di TVRI. Termasuk tata cara perilaku dan narasi di ruang publik.

Saya akan fokus bekerja sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negara. Saya juga sudah mulai berusaha menyelesaikan urusan internal yang sangat strategis ialahm menyelesaikan urusan tunjangan kinerja karyawan khususnya mengenai rapel tunkin yang merupakan hak hak karyawan. Sejalan dengan itu saya bersama kolega anggota Direksi juga memulai penyelesaian pengisian jabatan struktural yang masih kosong guna memperlancar urusan penyelenggaraan TVRI. Ini menjadi priroritas saya agar sebagai media Lembaga Penyiaran Publik TVRI dapat segera meningkatkan karyanya agar semakin maju berkarya, semakin bermanfaat untuk publik, bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia serta membawa kemajuan manajemen dan kesejahteraan pegawai. Saya berpedoman, bahwa jauh lebih penting untuk bekerja dan mewujudkan janji saya dalam membawa TVRI ini menjadi lebih maju ke depannya.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Pengasih senantiasa menolong dan membimbing saya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Iman Brotoseno
29 Mei 2020

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar