Yamaha

PKS Curiga New Normal Desakan Pengusaha Industri Besar

  Minggu, 31 Mei 2020   Widya Victoria
Aboe Bakar Alhabsyi (dok pribadi)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah seyogyanya tidak terburu-buru menerapkan tatanan new normal di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

"Belajar dari Korsel (Korea Selatan), baru dua pekan mereka bikin new normal, sekarang sudah naik lagi angka covid-nya. Akibatnya sekarang Korsel akan melakukan pembatasan kembali," ujar anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboebakar Alhabsyi kepada wartawan, Sabtu (30/5/2020).

Apalagi, ia mencatat masih ada wilayah yang recovery rate-nya rendah seperti Surabaya. Akibatnya, kini RSUD dr Soetomo Surabaya yang menjadi salah satu RS rujukan mengalami kelebihan kapasitas pasien COVID-19. 

"Tentunya kita khawatir apa yang disampaikan Ketua Gugus Kuratif Penanganan COVID-19 Jatim bahwa Surabaya bisa jadi Wuhan akan menjadi kenyataan," tutur anggota Komisi III DPR ini.  

"Belum lagi jika sekolah dibuka, apakah memang siap untuk menerapkan new normal," sambungnya. 

Menyetir data KPAI, papar Aboebakar, ada 831 anak terinfeksi COVID-19. Gambaran ini dinilainya akan menjadi ancaman baru. 

Aboebakar mengingatkan, tidak mudah menerapkan protokol kesehatan di sekolah. Apalagi adanya keterbatasan alat pelindung diri (APD) sejenis masker. Demikian pula keterbatasan luas ruang kelas untuk menerapkan physical distancing. 

"Terus terang masyarakat banyak yang mempertanyakan, apa sebenarnya yang dicari dengan gencarnya kampanye new normal. Apakah ini lantaran desakan pengusaha pada sektor industri besar? Ataukah ada sebab lainnya?" kritiknya. 

Ia memandang seharusnya pemerintah mengutamakan keselamatan rakyat. "Ingat Salus Populi Suprema Lex Esto, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi," pungkas Aboebakar yang juga ketua Mahkamah Kehormatan Dewan. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar