Yamaha

Penelitian di Inggris Sebut Wabah Ebola Sama Bahayanya dengan Covid-19

  Selasa, 02 Juni 2020   Budi Cahyono
[ilustrasi] Virus Corona [Shutterstock]

INGGRIS, AYOJAKARTA.COM – Penyakit virus corona (Covid-19) sama berbahayanya dengan virus Ebola yang kini tengah merebak di Republik Demokratik Kongo (DRC). Pendapat tersebut disampaikan Profesor Calum Semple yang memimpin penelitian paling komprehensif tentang pasien virus corona di Inggris.

Melansir dari Express, berbicara di sebuah konferensi pers virtual Profesor Semple menunjukkan lebih dari sepertiga pasien yang dirawat di rumah sakit telah meninggal.

"Itu sama bagi mereka yang dirawat di rumah sakit dengan Ebola, orang-orang perlu mendengar ini dan memasukkannya ke dalam kepala mereka bahwa alasan pemerintah ingin orang tinggal di rumah sampai wabah mereda adalah karena ini adalah penyakit yang sangat berbahaya," kata Semple.

AYO BACA : Wabah Ebola Gelombang Kedua Serang Kongo

Konsorsium Karakterisasi Klinis Coronavirus, yang dipimpin oleh Profesor Semple merilis data klinis hampir 17.000 kasus virus corona di rumah sakit di seluruh negeri. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat kematian tinggi terjadi pada pasien yang lebih tua.

Itu juga mengungkapkan wanita hamil tidak memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Tetapi obesitas dikaitkan dengan tingkat kematian, bahkan setelah pasien beradaptasi dengan masalah kesehatan lainnya.

"Sel-sel lemak mengeluarkan bahan kimia yang meningkatkan kondisi peradangan dalam tubuh," ujar profesor profesor Semple.

AYO BACA : Dubes RI untuk Swiss: Ada Prediksi Vaksin Ditemukan Akhir Tahun Ini

Para ahli berupaya mengenali faktor-faktor risiko yang mungkin menunjukkan pasien yang akan memiliki hasil yang buruk.

Profesor Peter Openshaw, seorang ahli dalam kedokteran eksperimental di Imperial College London, mengatakan penelitian menunjukkan angka serius dan jalannya virus yang kompleks.

"Ada laporan anekdotal tentang orang-orang mulai dengan batuk dan sesak napas, kemudian tampak membaik, dan kemudian kembali dengan penyakit yang lebih sistemik, peradangan pada pembuluh darah dan kecenderungan untuk membentuk bekuan darah di berbagai bagian tubuh," kata Profesor Openshaw.

"Jadi itu membuktikan penyakit yang jauh lebih kompleks daripada yang kita duga sebelumnya," tambahnya.

Menurut penelitian, yang diterbitkan di situs medRxiv, 83 persen orang yang terkena dampak telah dirawat di bangsal rumah sakit tanpa dipindahkan ke perawatan intensif. Namun 31 persen dari mereka meninggal dunia.

AYO BACA : Jadi Sorotan Dunia, Ini Identitas Pemuda Bertato Peta Indonesia Ikut Demo Kematian George Floyd

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar