Yamaha

Jakarta Bisa Tiru Pola Hidup Higienis Orang Jepang untuk Cegah Covid-19

  Rabu, 03 Juni 2020   Khoirur Rozi
[ilustrasi] Bagi orang Jepang memakai masker sudah menjadi gaya hidup. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

GAMBIR, AYOJAKARTA.COM -- Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak menyatakan peningkatan kasus pascapembatasan berskala besar (PSBB) Jakarta berakhir tidak bisa dihindarkan. Hal ini sebagai konsekuensi melonggarkan pembatasan untuk mengembalikan perekonomian daerah yang terpuruk.

"Penambahan kasus pasti, karena kita buka. Pasti akan ada sedikit peningkatan kasus. Tapi itu jangan kemudian dianggap bahwa ini akan menuju gelombang kedua, tidak," kata Gilbert dalam keterangannya, Rabu (3/6/2020).

AYO BACA : Hoaks, Kabar PSBB Jakarta Diperpanjang hingga 18 Juni

Gilbert menjelaskan, Jakarta bisa mengikuti jejak Jepang tetap menjalankan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Di Jepang, kata dia, ada puluhan ribu kasus positif namun tidak menerapkan lockdown atau pembatasan. Kuncinya adalah dengan menerapkan pola hidup higienis yang ketat.

"Kita lihat Jepang juga memiliki kasus ini, tapi mereka tidak menerapkan lockdown karena memang standard hidup mereka sudah higienis. Mereka pakai masker keluar, mereka jaga jarak, dan itu bukan berarti mereka tidak suka dengan orang, tapi mereka punya pandangan hidup higienis," terangnya.

AYO BACA : Polemik Larangan Ojol Bawa Penumpang oleh Kemendagri Sudah Selesai

Oleh karena itu, menurut Gilbert, Indonesia khususnya Jakarta sebagai pusat perekonomian negara, jika ingin ekonomi berjalan di tengah pandemi maka pola hidup higienis harus dilakukan masyarakat. 

"Ini yang akan kita terapkan juga di indonesia. Kalau jepang bisa menerapkan ekonominya normal dan tidak lockdown, tentu ini bisa kita adopsi di indonesia dengan menerapkan perilaku yang sama," kata dia.

Namun persoalannya adalah tidak semua masyarakat mampu menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Selain faktor kedisiplinan, masalah ekonomi juga jadi kesulitan untuk konsisten dengan pola hidup higienis. Gilbert mencontohkan banyak masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak mampu membeli masker sesuai standard medis.

"Masyarakat menengah ke bawah mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengadakan masker sehari-hari. Nah pemda harusnya bisa mengantisipasi hal ini kalau mau menerapkan sesuatu kebiasaan yang baru. Masker kain perlu diberikan secara rutin kepada masyarakat," ungkapnya.

AYO BACA : Komisi VIII DPR: Lagi-lagi Menag Fachrul Offside!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar