Yamaha

Menumpuk di Jam Pulang dan Berangkat, PT KCI Soroti Pembagian Jam Kerja Karyawan

  Selasa, 09 Juni 2020   Fitria Rahmawati
Sebagai ilustrasi, penumpang berjalan di gerbong Commuterline tanpa menggunakan masker, Jakarta, Rabu (8/4/2020). [Suara.com/Alfian Winanto]

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - VP Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba menyoroyi soal pembagian jam kerja di perusahaan. Hal itu ia kemukakakan lantaran masih banyak penumpang kereta rel listrik (KRL) yang menumpuk di jam keberangkatan dan jam pulang kantor.

Anne mengimbau para pengguna KRL untuk tidak memaksakan diri menggunakan KRL pada jam-jam sibuk. Pasalnya, jam operasional diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB dengan mengoperasikan 935 perjalanan KRL setiap harinya.

Ia menuturkan antrean yang terjadi pada pagi dan sore hari, terjadi karena banyak masyarakat yang sudah kembali bekerja, namun tampak tidak ada pengaturan dan pembedaan jam kerja dibanding masa sebelum Covid-19.

"Seluruhnya masih diminta untuk masuk kerja pada jam 8 hingga jam 9 pagi, dan pulang kerja pada jam 4 atau jam 5 sore. Pengaturan jam kerja ini sangat penting terutama bagi mereka yang menggunakan transportasi publik pada masa PSBB transisi ini, karena pembatasan dari segi jam operasional maupun kapasitas pengguna masih berlaku," tutur Anne melalui siaran persnya, Senin (8/6/2020) malam.

Ia mengklaim sejaun ini kondisi antrean pengguna KRL masih kondusif. Antrean pengguna terjadi di sejumlah stasiun yang menjadi lokasi pemberangkatan pengguna untuk jam sibuk sore hari, misalnya di Stasiun Tanah Abang, Stasiun Jakarta Kota, dan Stasiun Juanda.

Pada Senin kemarin, ia mencatat lebih dari 287.048 pengguna KRL hingga pukul 20.00 WIB pada Senin 8 Juni 2020. Jumlah tersebut meningkat, ketimbang hari saat dilakukan PSBB.

"Jumlah pengguna ini juga telah jauh melebihi rata-rata pengguna di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yaitu 180 ribu hingga 200 ribu pengguna setiap harinya," ujar Anne.

Anne menyebut, KRL saat ini berlaku pembatasan pengguna sejumlah 35% sampai 40% dari kapasitas, atau sekitar 74 pengguna per kereta.

Pembatasan kata Anne, agar terjaga jarak aman diantara pengguna di dalam KRL.

Agar batasan ini dapat diterapkan, pihaknya melakukan pembatasan masuk stasiun dan KRL sehingga pengguna di stasiun-stasiun berikutnya juga dapat terlayani.

"Pembatasan ini dengan penyekatan oleh petugas di sejumlah titik menuju ke peron, antara lain di hall stasiun, sebelum masuk gate elektronik stasiun, dan di koridor menuju ke peron. Dalam mengatur antrian petugas juga senantiasa mengingatkan pengguna untuk jaga jarak," ucap dia.

Lebih lanjut, Anne mengatakan antrean pengguna ini masih akan terjadi di hari-hari berikutnya.

Selain itu, ia menyebut pihaknya sudah menyiapkan sejumlah tahapan untuk menambah batasan kapasitas pengguna yang diizinkan dalam KRL jika volume pengguna terus naik.

"Penambahan kapasitas ini nantinya harus disertai dengan memperketat protokol dan alat pelindung bagi pengguna antara lain menggunakan masker, pelindung wajah, sarung tangan, dan baju lengan panjang," tutur Anne.

PT KCI juga mengajak masyarakat yang masih hendak menggunakan KRL untuk senantiasa berdisiplin mengikuti aturan yang ada terutama mengenai jaga jarak dan pengaturan antrean dari petugas.

"Pengguna juga tetap diwajibkan menggunakan masker, mengikuti pengukuran suhu tubuh, dan sangat disarankan untuk memanfaatkan fasilitas wastafel yang ada di stasiun agar dapat cuci tangan sebelum dan sesudah naik KRL," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar