Yamaha

Pahami Kondisi Hiperkapnia Saat Mengenakan Masker

  Selasa, 09 Juni 2020   Fitria Rahmawati
Ilustrasi masker. (Pexels/Billy Markus)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Penggunaan masker di masa pandemi dan masa transisi menjadi hal yang wajib untuk mencegah penularan wabag Covid-19. Masker menjadi salah satu cara dari sekian banyak jalan yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari virus corona.

Namun, pengguna masker juga harus mengenali risiko agar tidak timbul efek samping saat mengenakan masker. Beberapa kasus yang sangat langka menimpa pengguna masker yang memiliki efek samping. Misalnya, mengalami lemas, sesak napas dan pengap, serta merasa pusing dan sulit berkonsentrasi.

Dari cerita tersebut, menimbulkan ketakutan penggunaan masker yang menyebabkan kurangnya asupan oksigen, karena sedikit banyak akan menghirup karbondioksida yang tertinggal di masker.

Lincoln Park, seorang pengemudi di New Jersey yang menabrakkan mobilnya ke tiang mengaku kecelakaan ini disebabkan oleh maskernya.

Ia mengatakan penggunaan masker N95 terlalu lama telah membuatnya pingsan. Sebelumnya, seseorang juga bercerita pingsan di dalam mobil karena memakai masker yang mengurangi asupan oksigen melalui Facebook.

Tapi, pihak kepolisian masih belum meyakini 100% bahwa penggunaan masker N95 bisa menyebabkan kecelakaan. Kepolisian menduga ada faktor medis lain yang menyebabkan orang itu pingsan.

Menurut National Institutes of Health (NIH), penggunaan masker bisa sangat berbahaya meski kasus seperti itu jarang terjadi. Penggunaan masker terlalu lama bisa membuat orang menghirup banyak karbon dioksida (CO2) tingkat tinggi yang mengancam jiwa.

Kondisi itu mungkin bisa memicu hiperkapnia (toksitas karbon dioksida) yang juga bisa menyebabkan sakit kepala, vertigo, penglihatan ganda, kesulitan berkonsentrasi, tinitus, kejang hingga mati lemas.

Namun, Bill Carroll, seorang profesor kimia di Universitas Indiana, Bloomington mengatakan, kondisi itu bisa terjadi bila karbon dioksida yang dihirup dalam level tinggi. Jadi, karbon dioksida yang tinggi menyebabkan kerusakan dalam tubuh.

"CO2 hadir di atmosfer pada tingkat sekitar 0,04%. Jumlah itu berbahaya di atmosfer ketika lebih besar dari 10 persen," kata Bill Carroll dikutip dari Health.

Seseorang mungkin juga hanya menghirup sedikit CO2, terutama ketika mengeluarkan napas terlalu cepat dan sering.

"Jika Anda menahan napas, Anda akan menghasilkan terlalu banyak CO2. Masalah intinya adalah CO2 berfungsi mengatur pH darah akibat terlalu banyak CO2, darah terlalu asam dan terlalu banyak basa," jelasnya

Dalam kasus tersebut, tubuh akan mendeteksi perubahan keasaman dan seseorang bisa pingsan. Tapi, sejauh mana masker bisa memengaruhi tingkat CO2 di dalam tubuh tergantung pada bahan dan ketatnya pemakaian masker tersebut.

"Jika Anda menggunakan kantong plastik di kepala dan mengikatnya kencang di leher, maka tidak akan ada virus corona yang masuk, tetapi juga tidak ada oksigen yang bisa masuk. Karena itu seseorang bisa mati lemas," jelas Carroll.

Carrol sendiri meragukan seseorang bisa pingsan hanya karena memakai masker kain yang dipercaya membuatnya kekurangan oksigen.

Saat Anda menghembuskan napas dan menghirup udara, udara bisa mengitari masker melalui pori-pori material. Karena itu, masker kain tidak bisa melindungi 100 persen dari virus dan dapat mengganggu aliran pernapasan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar