Yamaha

Cegah Tumpukan Penumpang KRL, Wali Kota Bogor Desak Kantor di Jakarta Berlakukan Shifting

  Rabu, 10 Juni 2020   Fitria Rahmawati
ilustrasi penumpang di commuterline atau KRL yang menjaga jarak/ Suara.com

KOTA BOGOR, AYOJAKARTA.COM - Wali Kota Bogor, Bima Arya, mendesak perusahaan di DKI Jakarta untuk memberlakukan jam kerja bergantian atau shifting mengingat masa transisi PSBB di Jakata kembali membuka perkantoran. Hal itu memicu penumpukan penumpang KRL di berbagai daerah penyangga Ibu Kota, tak terkecuali di Kota Bogor.

"Saya juga mengusulkan agar untuk ibu-ibu atau perempuan diprioritaskan untuk shift yang pagi, agar bisa pulang lebih cepat ke rumah,” jelas Bima melalui siaran pernya, Rabu (10/6/2020).

Perihal usulannya itu, kata Bima, sudah dibicarakan langsung dengan Pemprov DKI Jakarta, Menko Perekonomian, Mentri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Mentri Tenaga Kerja dan Kepala daerah se-Jabodetabek dalam sebuah pertemuan.

Bahkan dalam pertemuan, ucap Bima, ia mengusulkan agar ada pengaturan dua shift jam kerja yakni pukul 08.00 dan 11.00. Ia juga mendesak perusahaan yang memiliki karyawan di luar Jakarta untuk menyediakan armada angkutan bus. Sehingga, tak semua karyawan yang bekerja di Jakarta memilih moda transportasi kereta rel listrik (KRL).

Bima mengakui, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) telah menyediakan armada bus untuk mengantisipasi lonjakan penumpang KRL. Namun, dia menilai, bus itu belum cukup untuk mengurangi jumlah penumpang KRL.

“Tidak hanya bus bantuan dari BPTJ tapi semaksimal mungkin ada bus antar jemput (dari perusahaan). Tidak usah semua di stasiun, saya kira bisa di beberapa titik jemputannya," kata dia.

AYO BACA : Menumpuk di Jam Pulang dan Berangkat, PT KCI Soroti Pembagian Jam Kerja Karyawan

Selain itu, dia meminta, PT KAI maupun PT KCI menambah jumlah petugas stasiun. Dia mengatakan, penambah itu dapat dibantu oleh personel TNI-Polri untuk menertibkan antrean di stasiun-satasiun.

Bima menyatakan, usulan itu sebagai upaya untuk menyambut fase kenormalan baru (new normal). Pasalnya, pada pelonggaran PSBB, di Stasiun Bogor telah terjadi lonjakan 10 persen atau 11.000 penumpang dari yang sebelumnya 9.000 penumpang KRL.

Bima mengkhawatirkan, penumpang KRL berpotensi kembali normal dengan jumlah 22.000 per harinya. Bila itu terjadi, kata Bima, dipastikan penumpukan dan kepadatan penumpang akan terus berulang.

“Jadi perlu sistem yang baru. Sistem yang diusulkan kemarin sudah disetujui, tinggal secara teknis akan dieksekusi oleh kementerian terkait dan juga dikoordinasikan dengan Gubernur DKI Jakarta,” katanya.

Sebelumnya, VP Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba menyoroyi soal pembagian jam kerja di perusahaan. Hal itu ia kemukakakan lantaran masih banyak penumpang kereta rel listrik (KRL) yang menumpuk di jam keberangkatan dan jam pulang kantor. 

Anne mengimbau para pengguna KRL untuk tidak memaksakan diri menggunakan KRL pada jam-jam sibuk. Pasalnya, jam operasional diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB dengan mengoperasikan 935 perjalanan KRL setiap harinya. Ia menuturkan antrean yang terjadi pada pagi dan sore hari, terjadi karena banyak masyarakat yang sudah kembali bekerja, namun tampak tidak ada pengaturan dan pembedaan jam kerja dibanding masa sebelum Covid-19.

AYO BACA : Imbauan Dokter Reisa Soal Peggunaan Masker

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar