Yamaha

Suku Baduy, Mereka Sedang Berada di Persimpangan

  Jumat, 19 Juni 2020   Editor
Suasana kampung Baduy Cisimeut (dok Heru Nugroho)

Lima belas tahun lalu ketika saya mengunjungi wilayah yang dikenal sebagai salah satu cagar budaya di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, saya mulai mengenal masyarakat suku Baduy. 

Mereka mendiami sebuah wilayah tanah adat yang dilindungi secara konstitusi oleh negara. Seluruh wilayah tanah adat seluas sekitar 5.000 hektar tersebut, dikenali secara administratif oleh negara sebagai Desa Kanekes. 

Sebagian dari masyarakat komunitas suku Baduy memang bisa dibilang terpaksa harus tinggal di luar tanah adat, lebih cenderung karena luasan lahan yang tetap, sedangkan populasi jumlah penduduknya cenderung terus tumbuh.

"Menggelikan" adalah kesan awal yangg saya rasakan menilai kultur yang mereka anut dan jalani, seolah tidak ingin bersentuhan dengan perkembangan zaman atau peradaban manusia lumrah saat sekarang. Di wilayah tanah adat Baduy, seluruh lahan infrastruktur transportasi menggunakan cara tradisional dan bahan alami, bisa dibilang semua "handmade", maka bisa dipahami kalau sebuah sepeda pun tak akan kita temui di wilayah itu.

Sangat dikenali masyarakat luas, komunitas Baduy ini agak unik. Tidak ada aliran listrik di seluruh wilayah tanah ulayatnya. Namun, keunikan lebih spesifik lagi ketika sampai pada kunjungan ke tiga kelompok masyarakat yang dikenal sbg wilayah Baduy Dalam, berupa tiga kampung yang berada di dalam tanah ulayat, yakni: kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikertawarna.

Meskipun hampir semua anggota masyarakatnya seolah tidak punya ekspresi "tidak suka" pada orang asing (bukan Baduy) apalagi membenci. Tapi juga tidak nampak punya ekspresi "suka", apalagi hasrat ingin menyenangkan orang asing. Ya datar-datar saja, lebih tepatnya mungkin "lugu".

Di masing-masing tiga kampung Baduy Dalam tersebut, berdiri puluhan rumah tinggal yang seluruh penghuni tetapnya sekitar lima ratusan orang, selain adanya bangunan lumbung-lumbung persediaan pangan dan bangunan-bangunan lain seperti normalnya sebuah kampung. Tapi uniknya, seluruh bahan dasar bangunan menggunakan kayu dan bambu, kadang ada batu sebagai perkuatan pondasi, cara menyambung setiap struktur hanya dengan tali atau menggunakan pasak dari kayu/bambu. Tidak satu pun sambungan atau perekatan bahan bengunan dengan menggunakan paku, tak ada genteng untuk atap, semua menggunakan daun kiray atau daun rumbia. 

Ketahanan pangan boleh diacungi jempol. Mereka punya simpanan bahan pangan dasar berupa hasil tanam padi (gabah) yang bahkan katanya ada gabah sudah berusia seratus tahun. Lauk-pauk, minimal sudah terpenuhi dengan berbagai tanaman di sekitar yang bisa dimakan berupa daun, buah dan tunas buah. Hanya garam yang mereka harus cari dari luar wilayah.

Pakaian yang dikenakan sehari-hari, menutupi aurat normatif manusia,  berpola dan bercorak dasar sangat sederhana bagi ukuran fashion masa kini. Tidak terdapat variasi jahitan pada seluruh kain yang dipakai yang seluruh bahan tersebut merupakan hasil tenun sendiri yang dilakukan secara sangat sederhana dan tradisional.

Nampak jelas sebuah peradaban manusia normal yang lengkap dalam konteks pangan - sandang - papan, tapi dalam formasinya yang sangat sederhana untuk ukuran peradaban manusia modern sekarang. Masih banyak keunikan lain yang bisa ditemui di tiga kampung tersebut. 

Khusus satu hal yang menarik perhatian, tidak ditemukan nyamuk penghisap darah di seluruh area kampung, karena memang tidak ada ekosistem yg membuat nyamuk mampu berkembang biak, yakni; air yang menggenang dalam tempo cukup lama. Sontak kecenderungan menggelikan yang menggelitik diawal, mulai bergeser menjadi rasa heran, kemudian penasaran.

Sejenak waktu itu, lima belas tahun lalu itu, saya menemukan kenyamanan luar biasa dan merasa pertama kali menemukan kenikmatan yamg gak terlukiskan saat merenung di pojokan sepi kampung, apalagi saat itu pas bulan purnama. Suasana indah alamiah yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain.

Besoknya, karena baterai HP hampir habis, mulai gelisah dan ingin cepat keluar.

Sekarang, lima belas tahun kemudian, saya selalu punya dorongan kuat untuk ke lokasi yang sama di saat-saat tertentu, terutama menemui momen yang sama. Dan masih sering mampu bertahan hanya sehari semalam, meskipun saat ini sudah lebih banyak punya kenalan dekat di sana.

Sudah sejak awal saya ke sana, di wilayah kampung selain wilayah tiga kampung tersebut, baru bisa ditemukan unsur-unsur yang tidak lagi bisa disebut sederhana, karena mulai ditemukan penggunaan paku dalam struktur bangunan tempat tinggal, bahkan sekarang sudah ada pria Baduy luar yang merasa aksi pakai celana jeans dan kaos ketika mau bepergian, meski dalam jumlah yang tidak banyak.
 
Namum sampe saat ini, di seluruh tanah Desa Kanekes tetap tidak ada aliran listrik, dan nampaknya masih memiliki ketahanan pangan  jempolan, karena memiliki gudang-gudang penimbunan makanan berupa lumbung-lumbung padi seperti di wilayah Baduy Dalam.

Bagi banyak orang, seperti kesan pertama saat saya meninjakkan kaki disana, mereka ini kok ya tolol amat sih bersusah-susah menjalani cara hidup seperti itu, sampai tidak mau ada listrik.

Bagi penduduk Baduy Dalam, pergi ke mana pun harus selalu jalan kaki, bahkan kalaupun ketika pergi ke ibu kota, harus menempuh waktu perjalanan tiga hari, serta tidak pernah menggunakan alas kaki. Beda memang kalau memperhatikan warga Baduy Luar yang sebagian sudah jadi biasa menggunakan kendaraan umum jika berada di wilayah luar tanah Baduy, bahkan ada yang sudan punya smartphone, meski tetap tidak bisa nge-charge gadget-nya di rumah sendiri.

Meski semua pihak sepakat menilai bahwa komunitas Baduy punya karakter sosial budaya yang unik di tengah peradaban modern sekarang ini, namun terdapat banyak versi. Sebagian besar uraiannya tidak didukung data empiris, serta lebih sering dibungkus cerita irasional yang membuat saya cenderung skeptis pada setiap tulisan atau cerita yang menerangkan atau menjelaskan keunikan masyarakat Baduy. Apalagi kalau sudah berupa cerita yang berbumbu mistik dan klenik. Saya memang tidak tertarik dan tidak peduli dengan urusan macam begitu.

Bahkan tulisan di laman Wikipedia yang mungkin paling ilmiah yg bisa dltemui di internet (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes) pun masih banyak bagian cerita yang tidak saya sepakati. 

Jadi mending lebih nyaman pada apa yang saya saksikan sendiri, kebetulan karena punya semacam tempat tinggal di salah satu sisi yg berbatasan dg tanah adat dan cukup sering berkunjung, terutama pada momen yang paling saya suka, saat musim duren. Hingga, saya merasa lebih menikmati penilaian saya sendiri.

Yang bisa saya simpulkan tentang keunikan komunitas masyarakat Baduy di era sekarang, mereka (melalui lembaga adat) masih coba niat ingin tetap menjunjung tinggi tatanan nilai adatnya. Warganya masih diminta berkomitmen menjalani ajaran nilai-nilai tersebut untuk diyakini dan diipatuhi secara mutlak. 

Seseorang yang masih mengaku bagian dari Suku Baduy yang menjadi warga Baduy Luar atau di luar wilayah Baduy sekalipun, bukan berarti kemudian diartikan boleh menggunakan teknologi dan peralatan modern. Juga bukan kemudian diartikan boleh menganut adat istiadat dan tata-cara hidup yang menyimpang dari ketetapan lembaga adat. Hal itu akan tetap dianggap sebagai pelanggaran tatanan nilai adat. 

Sedikit saja penyimpangan yang dilakukan seorang penduduk Baduy Dalam terhadap tatanan adat, sudah dijadikan bahan pertimbangan untuk dikeluarkan dari wilayah Baduy Dalam. Meskipun semakin ke sini, makin toleran….

Pada prinsipnya, jika ada seorang warga Baduy dalam yang bersikap dan berkegiatan meyimpang dari tatanan nilai adat, maka akan kehilangan hak menjadi bagian dari komunitas tiga kampung di Baduy Dalam. Meskipun tetap diizinkan tinggal di wilayah Baduy Luar. 

Namun belum pernah ada cerita warga Baduy yang tadinya menetap di wilayah Baduy Luar, kemudian pindah menetap di wilayah Baduy Dalam. Hal ini dianggap mustahil.

Penyimpangan tertentu (seperti naik kendaraan umum dan berdagang) yang dilakukan seorang warga Baduy Luar, sepertinya masih diberi toleransi. Tapi jika sudah terlalu banyak penyimpangan, apalagi sudah  punya kendaraan bermotor sendiri, serta menungganginya untuk bepergian, mereka punya cara sendiri untuk menganggap layaknya sebagai orang kualat. 

Meskpun tidak pernah ada kejadian warga Baduy yang sudah dianggap menyimpang dari tatanan adat, lalu diusir dari wilayah adat. Seringnya, orang yang sudah kualat tersebut akan meninggalkan tanah adat dan menetap di luar wilayah Baduy.

Ironisnya, warga suku Baduy yang saat ini masih patuh total 100 persen terhadap tatanan nilai adat-nya, saya anggap nyaris sudah tidak ada lagi, secara komunitas yang bisa dianggap masih minimimalis penyimpangannya memang masih terlihat di wilayah Baduy Dalam. 

Sedangkan di wilayah Baduy Luar, dijamin tidak ada lagi yang masih patuh total terhadap tatanan nilai adat tersebut. Tapi paling tidak, masih belum ada aliran listrik dan tidak berani secara vulgar menggunakan peralatan teknologi modern, meski kadang-kadang segelintir orang seperti sudah biasa menggunakan smartphone.

Belakangan ini, paling dramatis sejak trend penggunaan smartphone telah meluas sampai ke kalangan masyarakat yang jauh dari perkotaan, apalagi sejak lima tahun belakangan ini sejak smartphone China membanjiri wilayah indonesia, bahkan segelintir generasi muda Baduy Dalam mulai ada yang terlihat akrab dengan gadget, tapi pas sedang tidak berada di dalam wilayah kampung Baduy Dalam.

Sekarang, generasi muda Baduy, terutama di wilayah Baduy Luar, cenderung punya minat mengikuti perkembangan jaman. Padahal lembaga adat (secara formal versi mereka), tetap memutuskan untuk memilih cara-cara hidup peradaban pertanian sederhana yang lebih mirip berkebun, ketimbang bertani seperti yang dipahami masyarakat modern. Dan stop sampe situ.

Tatanan nilai adat Baduy memilih untuk tidak melanjutkan tren peradaban, cara manusia berkegiatan di babak era selanjutnya, seperti cara bertani dengan cara bersawah, berternak, apalagi berteknologi yang berbasis industri. 

Hingga datangnlah era digital yang rasanya tidak lagi bisa terbendung, hal itu dirasakan oleh sekelompok kecil tokoh adat sebagai potensi awal bencana….
Mereka sedang berada di persimpangan….


Heru Nugroho 
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi); Mantan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar