Yamaha

Kenangan Aceh di Kota Tua Jakarta

  Senin, 22 Juni 2020   Editor
Yopi Ilhamsyah (dok pribadi)

Kala merantau ke Bogor dalam rangka tugas belajar, Kota Tua Jakarta kerap menjadi tujuan liburan saya di akhir pekan. Berjalan mengitari kawasan Kota Tua mengingatkan saya akan sejarah awal Kota Jakarta yang kelak menjadi ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Sebagai perantau asal Aceh, saya mengingat kembali kejadian tempo doeloe terkait jejak orang Aceh di kawasan bersejarah ini. 

Catatan sejarah menyebutkan, Kota Jakarta, sebelumnya bernama Jayakarta, didirikan oleh Fatahillah pada 22 Juni 1527. Sumber sejarah berasal dari catatan ilmuwan Portugis bernama Joao de Barros yang hidup dalam rentang tahun 1496-1570 menyebutkan bahwa Fatahillah (dalam Bahasa Portugis disebut Falatehan) berasal dari Pasai, sebuah kerajaan islam di pantai utara Aceh. 

Dalam buku “Decadas da Asia” (Dekade Asia) karangan de Barros, ia menulis setelah Kesultanan Pasai jatuh ke tangan Portugis (sekitar tahun 1521), Fatahillah meninggalkan Aceh untuk berhaji sekaligus mendalami ilmu agama di Mekkah. Setelah tiga tahun, Fatahillah bermaksud pulang ke Pasai. Namun di perjalanan, tatkala mengetahui Pasai masih dikuasai Portugis, ia pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di Demak, sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang bercorak Islam.

Sumber sejarah lain menyebutkan bahwa Fatahillah adalah salah seorang panglima angkatan bersenjata Kesultanan Pasai Aceh. Ketika invasi Portugis mengalahkan Pasai, Fatahillah hijrah ke Demak dan memperkuat basis militer Kesultanan Demak.    

Di Demak, Fatahillah mengabdi kepada Sultan Trenggana. Dari Demak, Fatahillah mendapat tugas penaklukan Banten antara 1524-1525. Dengan kekuatan 1500 hingga 2000 ribu prajurit di bawah pimpinan Fatahillah, Kesultanan Demak berhadapan dengan Kerajaan Banten di Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi pelabuhan dagang penting dan mengalahkan Banten di sana. Dari kawasan pantai, sekitar tahun 1526-1527, Fatahillah beserta pasukannya merangsek masuk ke daratan Sunda Kelapa guna menaklukan sekutu Banten yaitu Portugis yang telah mendirikan benteng di kawasan dalam (Kota Tua sekarang ini). 

Pada 22 Juni 1527, Fatahillah menaklukan Portugis, bandar dagang Sunda Kelapa beralih nama menjadi “Jayakarta” yang berarti “Kota Kemenangan”. Karena konsonan “J” dan “Y” menjadi mirip dalam pelafalan orang Jepang untuk “Jayakarta” maka nama “Jakarta” digunakan hingga kini setelah sempat bernama Batavia. Setiap tahunnya, tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta. Jejak kepahlawanan Fatahillah diabadikan di Museum Sejarah Jakarta yang juga dinamakan Museum Fatahillah.                   
Jejak Aceh lainnya di Kota Tua ini dituturkan dari peristiwa kematian Jan Pieterszoon Coen, pendiri Batavia pada 30 Mei 1619 di atas reruntuhan Kota Jayakarta. Melansir historia.id, Coen terbunuh oleh prajurit intelijen Kerajaan Mataram yang disusupkan ke dalam kastil Batavia pada tahun 1629. 

Alkisah pada rencana penyerbuan kedua Mataram atas Batavia, Sultan Agung berupaya memperkuat basis intelijen kerajaan sejak tahun 1627. Seorang wanita asal Tapos Bogor yang memiliki kemampuan telik sandi dikirim ke Pasai Aceh guna memperdalam ilmu intelijen. Pasai kala itu sudah lepas dari cengkraman Portugis dan menjadi bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam yang beraliansi dengan Mataram. Di Pasai, wanita yang bernama Nyimas Utari ini menikah dengan seorang agen telik sandi lokal bernama Mahmuddin. Pria ini memiliki nama sandi Wong Agung Aceh. 

Mahmuddin yang juga berprofesi sebagai saudagar membina bisnis yang cukup dekat dengan VOC di Batavia. Sebagai mitra dagang, pria Aceh ini serta istrinya Nyimas Utari dapat dengan mudah memasuki kastil Batavia dan bertemu Coen dan keluarga. Kala Mataram kembali menyerang Batavia, Mahmuddin masuk ke ruangan Coen dan menewaskannya dengan golok Aceh. Ketika beranjak meninggalkan kastil, Nyimas Utari terkena tembakan kompeni dan meninggal dunia. Makamnya berada di Desa Keramat, Tapos. 

Jasad Coen sendiri awalnya dikuburkan di Balai Kota Batavia (kini Museum Fatahillah) sebelum dipindahkan ke areal perkuburan di halaman gereja yang kini menjadi Museum Wayang. Di Museum Wayang dahulunya terdapat 18 makam Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Namun, makam-makam tersebut tidak ditemukan lagi setelah sisa tulang belulang dibawa pulang ke negeri Belanda. Hanya batu nisannya saja yang dipajang di museum ini. Salah satu yang terkenal adalah van Imhoff yang membangun Istana Bogor. Ribuan koleksi wayang domestik maupun mancanegara dipamerkan di museum ini. 

Sore hari, pelataran Museum Fatahillah ramai. Turut pula para pegiat seni yang unjuk kebolehan. Ada yang menarik perhatian saya yaitu atraksi orang terbang dengan posisi duduk bersila di depan sebuah gang di bahagian barat, tepatnya sebelum memasuki gang yang diapit oleh kompleks pertokoan.     

Penampilan pelaku seni yang mengenakan pakaian tradisional ditambah kemahiran menerbangkan diri sambil duduk bersila mengingatkan saya akan Gatot Kaca. Sepertinya seniman tersebut memang benar-benar menguasai ilmu meringankan tubuh layaknya Master Kungfu dalam film-film silat Tiongkok.

Guna meyakinkan pengunjung, sang pelaku seni meminta pengunjung untuk duduk di bawah beliau yang sedang terbang. Dan memang nyata!. Tidak ditemukan alat atau media penyangga yang dapat membuat seniman tersebut seperti melayang di udara. Atraksi yang sangat menghibur dan pantas diganjar rewards untuk seniman Gatot Kaca.

Saya pun berlalu menyusuri gang yang jaraknya 20 meter dan tibalah saya di sisi timur Kali Besar. Toko Merah terlihat mencolok di seberang kali. 

Bagi yang sering menonton drama Korea, berada di Kali Besar ya mungkin dianalogikan seperti sedang melihat sungai-sungai dalam film Korea. Kalau yang pernah mengunjungi Jepang, Eropa atau Amerika, ya boleh jadi serasa sedang di sana. Semoga tata ruang modern berkonsep ekowisata air terus terjaga dan dibangun di kali lainnya di Jakarta.

Pada sisi timur, di pelataran toko-toko, ramai pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Masih terlihat jejak peninggalan kolonial lewat gedung-gedung berasitekur Eropa di sekitar Kali Besar. Dahulu, kawasan ini merupakan hunian pembesar VOC. Di bantaran kali dibangun taman beserta tempat duduk. Lokasinya cukup bersih, disediakan tempat sampah untuk berbagai kategori sampah. 

Karena saya berkunjung di sore hari, suasana sedikit teduh karena sinar matahari terhalang gedung tinggi di bagian barat. 

Air kali berwarna kehijauan. Bagi pengunjung yang ingin turun guna menikmati suasana kali, disediakan bantalan-bantalan apung menyerupai jembatan di pinggir kali. Namun, saat saya berkunjung, fasilitas ini dikunci, mungkin sedang tidak dibolehkan karena musim penghujan. 

Ada juga kumpulan bantalan-bantalan apung membentuk taman di tengah kali. Uniknya bila kita perhatikan dengan seksama, bantalan-bantalan ini mirip tunas kelapa seperti lambang Pramuka. Boleh jadi bermakna pembentukan karakter. Cocok dengan saya, seorang perantauan dari Aceh yang kala itu sedang berproses membentuk karakter di tengah kegalauan menyelesaikan disertasi dibarengi serangkaian ujian kelulusan. Kota Tua menyimpan kenangan itu semua. Selamat ulang tahun Jakarta!
  

Yopi Ilhamsyah 
Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

 

 


  

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar