Yamaha

KOPI SUSU CING ABDEL: Kuburan di Depan Rumah & Cerita Tentang Drakula

  Rabu, 08 Juli 2020   Eries Adlin
Komedian Abdel Achrian/Istimewa

Oleh Abdel Achrian

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Sekira sebulan lalu, rumah gue di bilangan Pisangan Lama, Jakarta Timur, ramai dikunjungin wartawan. Ya... itu, gara-gara ada cuitan di Twitter yang memajang foto dan video tentang kuburan yang letaknya di jalanan. Persis di depan rokum ortu di Old Bananas itu.

Gue juga beberapa kali dihubungin wartawan yang mau tahu cerita kenapa kuburan itu ada di sana. Gue sendiri kurang begitu paham coz sejak lahir, itu makam-makam sudah ada duluan. Jumlahnya mungkin sekitar 30-an yang tersebar di beberapa lokasi. Jaraknya gak berjauhan.

Bahkan, ketika bokap nyokap masuk Pisangan Lama sekitar tahun 1961, makam itu sudah ada. Menurut informasi yang justru gue dapat dari berita yang bersliweran tentang kuburan itu, ada makam yang sudah sejak tahun 1940-an ada di sana.

Siapa yang dikubur di sana, gue juga gak begitu tahu banyak. Cuma salah satunya adalah makam Haji Toha. Kuburannya cukup unik. Lebarnya berukuran dua kali lipat makam yang lain. Kenapa gede begitu? Ternyata, makam itu menjadi tempat peristirahatan terakhir Haji Toha bersama istrinya. Jadi dua makam dijadikan satu, pantesan gede ya.

Beliau ini sesepuh Pisangan Lama. Salah satu anak beliau adalah tetangga sebelah rumah. Kami sekeluarga memanggilnya Nek Ije. Mungkin namanya Khadijah...? Nenek tua  itu (namanya juga nenek), sudah seperti keluarga sendiri. Anak dari bokap dan nyokap yang jumlahnya delapan orang, ketika kecil pasti merasakan gendongan beliau.

Waktu gue SD sekitar awal 1980-an, umur almarhum Nek Ije mungkin sudah di atas 70 tahun. Kalau gue itung-itung, mungkin beliau lahir dekade awal tahun 1900-an. Nah, bisa dibayangin, Haji Toha itu terlahir pada tahun berapa?

Ada lagi makam yang juga merupakan sesepuh Pisangan. Namanya Dalu bin Loyo. Lagi-lagi, gue cuma sempat bertemu dengan anak keturunan beliau. Salah satunya almarhum Pak Haji Sabeni. Gak jauh beda dengan Nek Ije, pas gue kecil, beliau sudah dipanggil dengan sebutan Kong Beni. Bisa dibayangin umur sesepuh Pak Dalu bin Loyo itu.

Satu lagi kuburan yang gue sedikit tahu ceritanya adalah makam yang di nisannya ada nama Mardjuki. Beliau ini, menurut info, adalah bapak dari M Sani. Nama terakhir ini termasuk legenda di Pisangan. Panggilan topnya Bang Mat Bolot. Jawara pada masanya. Tentu jago berantem.

Bang Mat Bolot ini meski jauh lebih senior, deket juga dengan anak-anak tongkrongan seumuran gue. Jadi kita sering denger cerita doi dan cerita tentang doi. Biasa, tipikal Betawi tulen. Garang tapi kocak.

Suatu kali Bang Mat Bolot sedikit curhat ke kita-kita. "Abang ini di mata orang-orang kayaknya tetep aja begajulan. Padahal kadang abang subuhan di mesjid lho."

Gue tanya, "kok Abang bisa bilang gitu?"

"Coba deh lo bayangin. Kemaren ada ustadz dateng ke rumah. Mau ngajak abang ikutan jadi panitia mauludan ," begitu kata Bang Mat Bolot.

"Lah, bukannya itu baek bang?" gue jadi keheranan sendiri denger jawaban beliau.

"Iya sih, abang juga seneng. Cuma ustadznya bilang abang nanti ngurusin seksi keamanan. Lah, orang mau mauludan pake ada seksi keamanan? Kan yang dateng orang baek semua. Kalau dangdutan lah pantes ada seksi keamanannye." Begitu logika Bang Mat Bolot.

Kuburan di depan rumah yang jadi viral di media sosial akhirnya jadi pembicaraan juga di tongkrongan temen-temen kecil gue di Old Bananas. Dan dari situ gue dapat pembelajaran yang entah kenapa dulu-dulu gak sampe ke benak gue.

Pencerahan itu datang dari seorang temen yang dulunya badung gak kekira. Dia bilang gini, "Kita yang betaon-taon tinggal di sini dan tiap malem lewat sini, gak pernah merasa takut pas lewat kuburan. Padahal kalau kita malam-malam disuruh jalan ke dalam Kemiri (salah satu Tempat Pemakaman Umum di bilangan Rawamangun), mane berani kita?"

Ocehannya belum berhenti sampai situ. "Terus, tau gak, katanya ziarah ke makam itu salah satu fungsinya adalah untuk mengingatkan bahwa kita semua bakal mati. Lah, kita, saban hari liat kuburan, kayaknya gak ada rasa ape-ape tuh. Santai aje, bahkan malah pade bangor ."

Temen itu terus berhujjah dengan makin serius dan gue dengerin juga dengan saksama. "Rutinitas itu kadang membuat 'rasa' jadi tumpul. Contoh, kite kalau ngeliat orang yang berdarah-darah karena kecelakaan atau ditusuk, pasti gak kuat deh. Ngeri. Cuma, suster dan dokter-dokter ri rumah sakit kayaknya biasa aja tuh ngeliat yang begituan. Padahal, awalnya mereka juga sama lah kayak kita."

Selebihnya, silakan temen-temen menyimpulkan sendiri maksud dari filosofi temen gue itu.

Eh, ngomong-ngomong tentang kuburan yang katanya serem, gue jadi inget cerita tentang dunia lain itu. Tapi ini barang impor, cerita tentang Drakula. Temen itu juga yang cerita, beberapa puluh tahun lalu. 

Begini ceritanya...

Pada satu masa, di tongkrongan para Drakula, berkumpulah tiga makhluk yang dikenal sebagai penghisap darah manusia.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?

Mirip dengan tongkrongan manusia, senioritas di kalangan Drakula cukup berpengaruh. Serupa dengan komunitas manusia, biasanya, ada satu dua junior yang sengak di tongkrongan pada Drakula. Biasa lah, para junior itu pengen eksistensi mereka diakui, bahkan kalau bisa merebut tampuk kekuasaan yang masih dipegang para seniornya.

”Bang, gimana kalau kita adu sangar-sangaran ,” begitu si Drakula junior, kita sebut aja si A, membuka tantangan kepada dua seniornya.

 ”Maksud lo apaan, ngadu sangar-sangaran?” tanya salah satu seniornya. Kita sebut aja si B. Satu Drakula lagi yang paling senior kita sebut Si C.

”Yah, kita tunjukin siapa di antara kita ini yang paling kejam,” si A menjawab dengan nada ngeremehin

 Sontak, si B dan C merasa tersinggung dan menjawab hampir bersamaan. 

”Boleh,” kata mereka. 

”Gimana cara buktiinnya?” tanya B yang terlihat paling kesinggung.

Lalu, si A berdiri sambil diikutin kedua seniornya. Sejurus kemudian (hahahaha, kayak bahasa cerpen beneran), si A melesat menuju arah kampung manusia di sebelah kiri tongkrongan mereka.

 Dua jam berselang, dengan sedikit terengah-engah, si A balik ke tongkrongan. Mulut bahkan mukanya berlumuran darah.

 ”Abang liat kampung manusia di sono?” tanya si A sambil menunjuk ke kampung manusia di arah kiri mereka. 

”Liat,” jawab B dan C berbarengan. 

”Semuanya , udah gue habisin,” kata si A.

 Si B muncul rasa keseniorannya. Tanpa ba bi bu, doi melesat ke kampung manusia di kanan mereka. Satu jam berlalu, lebih cepat dari si A, si B balik ke tongkrongan, juga dengan sedikit terengah-engah.

 Mirip dengan si A, mulut bahkan muka si B berlumuran darah. 

”Lo liat kampung di sono,” tanya si E sambil menunjuk ke kampung manusia di arah kanan mereka. 
”Liat,” jawab A dan C berbarengan. 

”Semuanya, habis,” kata si B sambil menggerakkan tangan dan wajah yang menyeringai.

 Si C yang paling senior, lebih gondok lagi melihat ulah kedua juniornya. Tanpa ngambil ancang-ancang, si C melesat bahkan bak terbang ke kampung manusia di arah depan tongkrongan mereka.

Ternyata, hanya dalam hitungan gak sampai 10 menit, si C sudah kembali, juga terengah-engah dengan wajah dan mulut berlumuran darah.

”Elo-elo liat pohonan di sono,” kata si C menunjuk ke arah kampung manusia di depan mereka. 

”Liat,” jawab A dan B serentak.

 ”Sialan, gue enggak...” kata si C sambil menyeringai kesakitan. 

Hahahaha, Drakula kejedot...!

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar