Yamaha

KISAH ANAK PANCONG: Gita Ceria dari Taman Jelita (1)

  Kamis, 09 Juli 2020   Eries Adlin
Laksamana Muda TSNB Hutabarat/Istimewa

Dear pembaca. Mulai awal Juli ini, redaksi ayojakarta.com menyajikan cerita tentang komunitas yang pernah dan masih eksis di Jakarta. Untuk edisi perdana, kami mengangkat cerita tongkrongan anak muda era 1980—1990-an di seputaran Rawamangun.

Mereka menyebutnya dengan nama Anak Pancong. Kisah tongkrongan ini bahkan sudah dibukukan dengan judul yang sama, Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna. Tulisan akan kami sajikan secara berseri.

 

Oleh TSNB ‘Ucok-Cokky’ Hutabarat

Laksamana Muda Badan Keamanan Laut (Bakamla)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Di satu sudut Jalan Taman Jelita Rawamangun terdapat bangunan dua lantai,  sebuah sekolah negeri yang dibangun berdasarkan Instruksi Presiden pada era Orde Baru, Presiden Soeharto, sehingga acap disebut bangunan sekolah Inpres. Bangunan itu adalah SMPN 74. Di situlah awal cerita ini dimulai.

Sekolah tersebut hanya memiliki sembilan ruang kelas. Proses belajar diatur sedemikian rupa. Setiap tingkatan punya enam kelas dari A sampai F. Kelas tiga yang terdiri dari 3A sampai 3F masuk pagi hari. Tiga kelas lagi ditempati oleh kelas dua dari 2A sampai 2C. Selanjutnya, kelas 2D sampai 2F bersekolah siang hari bersama dengan seluruh kelas 1 dari 1A sampai 1F.

Bangunan SMP kami berbentuk huruf L, sudah termasuk satu ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan, serta toilet. Ruang kepala sekolah pada pagi hari digunakan sebagai kantor oleh kepala sekolah, sedangkan pada siang hari digunakan oleh wakil kepala sekolah.

Di depan bangunan utama sekolah terdapat ruang laboratorium dan lapangan bola basket ‘setengah lapangan’ karena hanya memilik satu ring. Lapangan itu juga dilengkapi satu tiang bendera, sehingga menjadi fasilitas serba guna yang juga digunakan untuk upacara bendera dan kegiatan lainnya. 

Bangunan utama sekolah kami dicat dengan warna krem yang dikelilingi pagar besi berwarna hijau evergreen. Terdapat tiga pintu akses masuk sekolah. Pertama, pintu utama yang berada di depan kantor kepala sekolah.

Kedua, pintu samping yang berada di dekat lapangan bola basket. Pintu ketiga sebenarnya pintu ‘ilegal’ karena sesungguhnya pintu tersebut diperuntukkan bukan untuk siswa, melainkan untuk akses keluar masuk keluarga dari seorang guru yang bertempat tinggal di salah satu sisi sekolah.

Sebenarnya, SMP kami tergolong kecil, jauh berbeda apabila dibandingkan dengan sekolah lain. Namun, keterbatasan lahan tidak membuat penghuni sekolah berserah diri. Justru para guru kami menjadi lebih kreatif.

Misalnya, dua kelas di lantai dasar dipisahkan model dinding yang bisa diatur sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar pasang. Hasilnya, setiap Jumat, ruangan itu digabungkan menjadi satu—dengan membuka dinding pemisah—yang kemudian dimanfaatkan menjadi tempat pelaksanaan shalat Jumat.

Para siswa SMP 74 kebanyakan bertempat tinggal di Rawamangun dan sekitarnya. Saat itu seragam yang digunakan pada hari Senin adalah kemeja putih dengan celana pendek putih sedangkan hari lainnya bercelana pendek berwarna abu-abu. Khusus hari Jumat, kami mengenakan kemeja bermotif batik berwarna kuning gading dengan celana pendek putih, sedangkan pada hari Sabtu mengenakan seragam Pramuka.

AYO BACA : Anak Pancong: Mukadimah (1)

Ketika itu, belum diatur pembedaan seragam SMP dan SMA. Setiap sekolah baik negeri maupun swasta bisa menentukan warna seragamnya masing-masing. Kemudian pada saat kami kelas 3 (tahun 1983)  mulai diberlakukan bagi siswa SMPN untuk memakai seragam berupa kemeja berwarna putih dengan bawahan (celana/rok) berwarna biru tua.

Para siswa cowok banyak yang menggunakan celana pendek ‘cingkrang’ sedangkan siswa cewek memakai rok yang ujung bawahnya setinggi sekitar lutut. Saat itu belum ada siswa yang mengenakan rok panjang hingga menutupi seluruh kaki seperti siswa zaman sekarang.

Saat itu, dalam seminggu, hari kerja (bagi pegawai kantor) maupun hari sekolah masih sebanyak enam hari. Jadi hari Minggu adalah satu satunya hari libur dalam sepekan. Itu pun biasanya masih digunakan untuk aktivitas ekstrakurikuler bagi sebagian siswa seperti kegiatan OSIS, olahraga dan Pramuka.

Kegiatan positif para siswa SMPN 74 cukup variatif dengan prestasi yang membanggakan. Ketika kami masuk pada tahun 1980, SMPN 74 tiga tahun berturut-turut menjadi pemenang acara Cepat Tepat SMP, salah satu program favorit di TVRI bagi siswa sekolah saat itu.

Banyak siswa yang aktif dalam kegiatan karya ilmiah. SMPN 74 memiliki dua Gugus Depan Pramuka (Gudep 361 – 362) yang kerap menjuarai lomba tingkat daerah dan turut berperan dalam Jambore Nasional. Lomba-lomba lain pun kerap diikuti oleh para siswa seperti lomba gerak jalan, senam pagi dan basket.

Sekali lagi, keterbatasan lahan tidak membuat kami berhenti berkreasi. Misalnya untuk mengatasi keterbatasan lahan olahraga, kami menggunakan fasilitas yang ada di Velodrome. Para siswa pun tidak mengeluh walau jarak antara sekolah dan Velodrome membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 30  menit dengan berjalan kaki. Di sarana olahraga itu, kami bisa leluasa menggunakan fasilitas seperti sarana atletik, kolam renang, dan lapangan basket yang sesungguhnya. 

Klub basket di SMP 74 termasuk ekstrakurikuler yang paling aktif. Siswa yang ikut harus menyisihkan waktunya dua kali seminggu berlatih di Velodrome. Walau saat itu klub basket SMP 74 belum menjuarai kejuaraan tinggat nasional, namun kompetisi tingkat Jakarta cukup sering kami ikuti. Bagi kami, aktif berolahraga adalah lebih utama. Selain membuat kami sehat, saat berlatih basket ini para siswa bisa membaur dari kelas 1 hingga kelas 3.

Keunikan sekolah di SMPN 74 adalah banyak murid mempunyai adik atau kakak di kelas lainnya. Sehingga bukan hal yang aneh jika antarkeluarga siswa saling mengenal satu dengan lainnya. Selain hubungan dengan sesama keluarga, hubungan antara siswa dan guru relatif baik. Tidaklah berlebihan jika saya sebut hubungan antara murid dan Guru di SMPN 74 adalah sempurna karena guru menjadi orang tua, kakak, sekaligus sahabat bagi para siswa.

LANJUT YA:

KISAH ANAK PANCONG: Gita Ceria dari Taman Jelita (2)

*****

TSNB Hutabarat sekarang menjabat Deputi Operasi dan Latihan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dengan pangkat Laksamana Muda. Perwira tinggi Angkatan Laut lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1989 ini lebih sering dipanggil dengan panggilan Cokky. Dia merupakan lulusan SMP Negeri 74 dan SMA Negeri 31, keduanya di Jakarta Timur.

Di Angkatan Laut, jenderal berbintang dua ini sempat menduduki jabatan prestisius seperti Kepala Staf Komando Armada 1, Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dan Komandan Gugus Tempur Laut (Guspurla) Komando Armada Barat.

Anak band semasa SMP dan SMA dengan  grup favorit Queen ini juga aktif di lapangan basket  dan kegiatan kepramukaan. Cokky menjadi orang di balik penerbitan buku Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar