Yamaha

KISAH ANAK PANCONG: Gita Ceria dari Taman Jelita (2)

  Kamis, 09 Juli 2020   Eries Adlin
Laksamana Muda TSNB Hutabarat/Istimewa

Dear pembaca. Mulai awal Juli ini, redaksi ayojakarta.com menyajikan cerita tentang komunitas yang pernah dan masih eksis di Jakarta. Untuk edisi perdana, kami mengangkat cerita tongkrongan anak muda era 1980—1990-an di seputaran Rawamangun.

Mereka menyebutnya dengan nama Anak Pancong. Kisah tongkrongan ini bahkan sudah dibukukan dengan judul yang sama, Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna. Tulisan akan kami sajikan secara berseri.

 

Oleh TSNB ‘Ucok-Cokky’ Hutabarat

Laksamana Muda Badan Keamanan Laut (Bakamla)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Pada tahun 1980-an para siswa tentu saja sangat mematuhi guru. Saat itu, bukan hal aneh apabila seorang guru menghukum siswa. Ketika kelas 2, kami satu kelas pernah dihukum berdiri di lapangan upacara karena satu hari sebelumnya kami satu kelas meninggalkan ruang belajar.

Kejadiannya bermula ketika ada guru yang tidak kunjung hadir ke kelas untuk mengajar. Karena bosan menunggu guru, sebagai ungkapan kejengkelan, saya sebagai ketua kelas justru mengarahkan siswa lainnya untuk meninggalkan kelas, pulang ke rumah masing-masing.

Tentu saja, sebagai ketua kelas, saya dapat ekstra tambahan berdiri di lapangan, di bawah terik matahari lebih lama dibandingkan dengan teman sekelas. Pengalaman ini justru berdampak positif buat kami, karena sejak dini kami telah diajarkan dan mempraktikkan makna kebersamaan dalam teamwork serta makna tanggung jawab sebagai pemimpin kelompok.

Hukuman fisik dari guru ke muridnya pada zaman itu masih menjadi hal yang biasa.  Ketika kelas 3, saya dengan dua teman lainnya pernah dihukum dengan cara dipukul betis dengan penggaris kayu  sepanjang 100 cm.  Masing-masing mendapat satu pukulan dan pada pukulan ke tiga (giliran saya), penggaris tersebut patah.

Meski begitu, para siswa tidak merasa dendam bahkan menerimanya sebagai ajaran bahwa manusia harus bertanggung jawab dan menerima konsekuensi dari segala perbuatannya masing-masing.

Dibentak atau dimarahi menjadi hukuman paling ringan bagi kami saat itu. “Monyet, monyet yang tidak pakai topi, sekarang juga maju dan baris di depan!” 

Begitu salah satu contoh ucapan yang dilontarkan kepada para siswa selepas upacara bendera di pagi hari, ketika seorang guru melihat banyak siswa yang tidak memakai topi seragam yang wajib dipakai saat upacara. Walaupun demikian, ada juga guru yang memarahi murid dengan tutur kata halus dan suara yang lembut.

Salah satu bukti bahwa kami tidak dendam dengan para guru adalah ketika para siswa bersatu menggelar demonstrasi untuk membela hak guru yang dikebiri oleh seorang kepala sekolah. Di sinilah terbukti bahwa ada ikatan batin yang kuat antara kami dengan para guru. Duka guru adalah keprihatinan siswa pula.

Demonstrasi diawali oleh pergantian kepala sekolah lama dengan kepala sekolah baru. Berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya yang selalu hadir di antara para siswa, memberi nasihat-nasihat di setiap upacara bendera, menyemangati para siswa di setiap keberangkatan tim sekolah dalam mengikuti lomba, pejabat baru seakan menghilang, tidak kami ketahui keberadaannya.

Yang kami dengar kepala sekolah baru ini mempunyai kegiatan lain di luar sekolah sehingga fokus kerjanya terpecah. Hari berganti hari, namun perubahan tak kunjung dirasakan. Kami seakan tidak memiliki kepala sekolah.

AYO BACA : Anak Pancong: Mukadimah (1)

Hingga akhirnya para siswa mendengar bahwa kepala sekolah yang baru itu ternyata menerapkan kebijakan berupa memotong uang hak guru. Keresahan guru kemudian menjadi keresahan siswa pula. Bila guru dengan usianya yang telah dewasa bisa bersabar, kami yang saat itu masih remaja menjadi ‘terbakar’.

Pagi itu, kebetulan kelas 2C masih kosong, belum ada guru di kelas. Tiga orang senior dari kelas 3 masuk ke kelas dan memanggil saya yang di kelas itu sebagai ketua kelas. Kami keluar dari kelas, lalu datang lagi dua orang senior lainnya dari kelas 3 yang ikut bergabung. Intinya para senior tersebut menceritakan keresahan para guru dan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh kepala sekolah.  

Di saat itulah saya yakin bahwa desas-desus yang saya dengar selama ini tentang keresahan guru benar adanya.  Salah seorang senior mengatakan, “kita akan melakukan protes ke kepala sekolah.” Senior yang lain menambahkan, “kita harus demonstrasi.” Seorang senior yang saya kenal baik bahkan langsung berkata, “kelas elo saat ini pas lagi gak ada guru, gimana kalo dimulai dari kelas 2C saja?”

Entah dari mana asalnya, yang saya ingat di tangan saya sudah ada cat semprot Pilox berwarna merah. Lalu saya masuk dan berdiri di depan kelas sambil memberi berteriak ke teman-teman, “kita hari ini akan demostrasi sebagai tindakan protes ke kepala sekolah!”

Cat merah Pilox saya semprotkan ke dinding kelas 2C, membentuk kata-kata protes, disusul oleh teman lainnya. Aksi di kelas 2C secara serempak disusul oleh temen-teman di kelas lain. Bukan hanya tembok kelas, toilet pun jadi sasaran aksi corat-coret bertuliskan kata-kata protes keras.

Aksi demonstrasi itu terus berlangsung sampai seluruh siswa keluar kelas memenuhi lapangan atau berdiri di lorong depan kelas. Ada seorang senior yang membuat boneka dengan papan nama bertuliskan nama kepala sekolah yang tergantung di dada boneka tersebut. Boneka yang merupakan replika, melambangkan kepala sekolah tersebut digantung di satu-satunya ring basket di lapangan tempat kami berunjuk rasa.

Menyadari manajemen sekolah sudah tidak mampu lagi mengontrol para murid, bel sekolah pun terus dibunyikan dengan dering seperti layaknya tanda pulang sekolah.  Namun para siswa bergeming, kami menunggu kehadiran kepala sekolah untuk datang dan menyatakan akan melakukan perubahan ke arah kebaikan di sekolah yang kami cintai ini. Bahkan salah salah satu siswa memutus kabel bel, sehingga bel yang terus berbunyi dan membuat pening kepala itu tak berbunyi lagi.

Setelah polisi dan pejabat dari Dinas Pendidikan Jakarta Timur datang dan menginterogasi para siswa, barulah kepala sekolah yang kami nanti-nanti datang. Sorakan seluruh siswa pun bergemuruh. Demonstrasi yang riuh namun tetap tertib itu akhirnya membuahkan hasil.

Dinas Pendidikan akan menyelidiki segala penyelewengan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan berjanji akan mengganti orang nomor satu di sekolah kami apabila tuduhan dari para siswa ternyata terbukti.

Hal tersebut akan dilakukan pihak Dinas pendidikan asalkan kami bersedia kembali ke kelas untuk belajar seperti sedia kala dan kami tetap melanjutkan pelajaran walau tembok-tembok penuh coretan, walau papan tulis tak lagi dapat digunakan. Beberapa hari kemudian, kelas menjadi bersih kembali dan tak lama berselang, kami memiliki kepala sekolah baru.

Segala kebersamaan, suka dan duka yang kami rasakan semasa menjalani sekolah di SMPN 74 menjadi awal cerita bagi langkah langkah kami berikutnya. Kami semua bersyukur pernah melalui masa-masa itu. Semua yang terjadi menjadi kenangan indah, seperti harmoni sebuah orkestra yang melantunkan gita ceria dari Taman Jelita.

*****

TSNB Hutabarat sekarang menjabat Deputi Operasi dan Latihan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dengan pangkat Laksamana Muda. Perwira tinggi Angkatan Laut lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1989 ini lebih sering dipanggil dengan panggilan Cokky. Dia merupakan lulusan SMP Negeri 74 dan SMA Negeri 31, keduanya di Jakarta Timur.

Di Angkatan Laut, jenderal berbintang dua ini sempat menduduki jabatan prestisius seperti Kepala Staf Komando Armada 1, Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dan Komandan Gugus Tempur Laut (Guspurla) Komando Armada Barat.

Anak band semasa SMP dan SMA dengan  grup favorit Queen ini juga aktif di lapangan basket  dan kegiatan kepramukaan. Cokky menjadi orang di balik penerbitan buku Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar