Yamaha

KISAH ANAK PANCONG: Sang Pentolan & Kiai

  Selasa, 14 Juli 2020   Eries Adlin
Direktur Umum dan SDM BP Jamsostek Naufal Mahfudz/istimewa

Dear pembaca. Mulai awal Juli, redaksi ayojakarta.com menyajikan cerita tentang komunitas yang pernah dan masih eksis di Jakarta. Untuk edisi perdana, kami mengangkat cerita tongkrongan anak muda era 1980—1990-an di seputaran Rawamangun.

Mereka menyebutnya dengan nama Anak Pancong. Kisah tongkrongan ini bahkan sudah dibukukan dengan judul yang sama, Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna. Tulisan akan kami sajikan secara berseri.

Oleh Naufal ‘Opam’ Mahfudz

Direktur Umum dan SDM BP Jamsostek

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Sesungguhnya gue baru ngeh istilah Anak Pancong itu 10 tahun terakhir ini.  Sejak rame dan eksis di grup BlackBerry atau grup WhatsApp alumni SMPN 74 dan SMAN 31. Anak Pancong ini yang memelopori kumpul-kumpul alumni untuk menggalang dana buat temen-temen yang sakit dan membutuhkan, buka puasa bersama, reuni atau sekadar silaturahmi pengen ketemuan aja.

Walaupun gue bukan anggota Anak Pancong tapi gue kenal baik hampir semua Anak Pancong. Beberapa jadi sahabat gue, pernah belajar dan ngerjain PR bareng di rumah, pernah sebangku di SMP maupun di SMA, atau yang sering nitip motor di rumah gue waktu SMP.

Anak Pancong yang gue tahu adalah nama genk dari sebagian temen-temen SMP dan SMA gue yang hobi nongkrong dan ngobrol bareng di sekitar Terminal Rawamangun era pertengahan 1980-an. Tahun-tahun itu di Jakarta lagi ngetren anak muda nongkrong di sudut-sudut jalan dan gang, ataupun di tempat-tempat keramaian seperti warung dan terminal.  Kalau pakai istilah kekinian, mereka ini hobi hang out setelah penat belajar, walaupun gue nggak tahu beneran belajar atau nggak sebelumnya.

Yang gue salut, sekarang Anak Pancong banyak yang udah jadi orang.  Ada yang pernah jadi redaktur senior surat kabar bisnis nasional terkemuka, pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pejabat di kementerian, direktur sebuah bank swasta nasional, perwira tinggi TNI, ekspatriat di perusahaan multinasional, dan lain-lain.

Mereka dulu suka nongkrong tapi nggak ngelupain cita-cita.  Atau mungkin mereka nggak mau ngecewain orang tua masing-masing. Dan memang juga karena pada dasarnya mereka pinter-pinter. SMPN 74 dan SMAN 31 pada zaman itu merupakan sekolah favorit dan peringkat pertama sekolah menengah di rayon Jakarta Timur.

AYO BACA : KISAH ANAK PANCONG: Ada yang Jadi Jenderal, Ada yang Ngetop Sebagai Komedian (1)

Semenjak lulus SMA memang temen-temen berpencar ke beberapa kota untuk kuliah sesuai minat dan takdirnya masing-masing.  Dan semenjak saat itu kita agak susah ketemu walaupun sekadar untuk silaturahmi.  Tapi gue yakin temen-temen semua berjuang untuk menggapai cita-cita masing-masing, termasuk Anak Pancong.  Gue sendiri bareng dengan delapan temen satu SMA diterima lewat jalur PMDK di Institut Pertanian Bogor (IPB).  Nggak jauh dari Jakarta tetapi tetap jadi anak kos.  Yang gue inget, dari temen-temen yang diterima di IPB nggak ada yang anggota inti Anak Pancong.

Secara pribadi, gue nggak punya kisah khusus dengan Anak Pancong, apalagi ikutan nongkrong di Terminal Rawamangun. Tahu sendiri, semasa gue SMP-SMA Bokap gue pernah jadi lurah di beberapa kelurahan di wilayah Kotamadya Jakarta Timur serta dikenal sebagai dai dan tokoh masyarakat. Bisa dibayangin kalau gue ikutan nongkrong berjam-jam di Terminal Rawamangun, apalagi ada minuman beraroma alkohol dan ketahuan warga atau jamaah Bokap gue. Apa kata dunia?  Kalau kata Si Naga Bonar.

Tapi ada kejadian yang gak gue lupa. Waktu kelas 1 SMA, gue biasa berangkat bareng ke sekolah dengan teman sekelas gue, yang juga Anak Pancong. Nggak usah gue sebutin namanya ya. Kita biasanya naik bus yang jurusan ke Jl. Pramuka. Nunggu busnya di halte Jl. Balai Pustaka Barat, Rawamangun. 

Nah, saat nunggu bus lewat, temen gue ini nawarin dan ngasih sebutir sebutir obat berbentuk pil. Gue disuruh telen pil itu yang gue tahu itu bukan pil biasa.  Supaya temen gue nggak kecewa, pil itu gue kantongin. Gue bilang nanti gue telen saat jam istirahat. Alhasil sampai sekolah bubar dan balik ke rumah, pil itu masih di kantong yang akhirnya gue buang. Daripada gue kegep bokap.

Pertemanan gue dengan beberapa Anak Pancong kayak Ariansyah Aziz, Ucok ‘Cokky’ Tolhas Hutabarat, Ilham Raya, Yulius, Supriyanto ‘Kuple’, Harry Napitupulu, Amir Ali, Sutan Eries ‘Ires’ Adlin, dan lain-lain tetap berjalan baik. Walaupun gue juga punya kelompok belajar sendiri dengan teman-teman yang lain.

KIAI BESAR

Ada juga kisah yang menarik buat gue tentang pentolan Pancong yang terkenal bengal pada masanya. Karena beda mazhab waktu SMP dan SMA, jelas gue gak akrab dengan doi. Kita tahu sama tahu aja. Sama seperti temen yang kasih pil itu, gak usah gue sebutin namanya ya.

Kita baru sering ngobrol setelah sama-sama kerja dan berkeluarga. Kebetulan, adik gue satu angkatan dengan adik kawan kita ini. Sama seperti kita, di SMP 74 dan SMA 31. Kejadian kayak gitu banyak terjadi tuh, kakak sama adik satu sekolah dan temenan.

Suatu kali, dalam satu pembicaraan di grup WhatsApp SMA 31, kita nyenggol-nyenggol nama kiai besar di Jakarta Timur. Kebetulan kiai besar tersebut tinggal di dekat rumah kawan kita itu. KH Abdul Hadi Ismail atau yang lebih dikenal dengan nama Guru Hadi. Kawan ini ternyata sering ngedenger kebesaran ulama yang jadi tempat belajar para ustadz di sekitaran kampungnya. Cuma, dia gak tahu kalau kiai besar itu adalah uwak gue. Bokap gue, KH Mahfudz Ismail, sering dipanggil ustadz Mahfudz, adalah adik dari Guru Hadi.

AYO BACA : KISAH ANAK PANCONG: Gita Ceria dari Taman Jelita (1)

Pas kawan kita itu tahu gue ini keponakan almarhum Guru Hadi, dia kaget banget. Doi berulang kali kirim pesen WA yang isinya kepengen ketemu Bokap gue. Mau silaturahmi, katanya.  Lah, gantian gue yang kaget. Anak bengal 74 dan 31 mau ketemu Bokap yang pasti dia gak kenal. Bokap yang sekarang harus bed rest karena kena serangan stroke sekitar 13 tahun lalu. 

Akhirnya, kita dapat waktu yang pas untuk silaturahmi ke Bokap. Jumat malam selepas jam kerja kita janjian ketemu di rumah Bokap di Rawamangun, dekat SMP 74.  Kawan itu sampai bawa anak lelaki dan perempuannya yang masih SD. “Biar anak gue kenal orang berilmu dan baik,” kata kawan itu ngejelasin alasannya.

Sekitar satu jam kawan ini takzim ngedengerin cerita Bokap. Gue nggak inget detail apa yang diobrolin waktu itu. Yang pasti gue gak nyangka, kawan itu kok ngotot banget pengen silaturahmi dan ngobrol sama Bokap.

“Gue belum pernah ketemu Guru Hadi meski rumah beliau deket rumah. Gue cuma denger-denger namanya. Gue pengen banget sowan ke beliau. Sayang beliau udah wafat.  Ketemu dan sowan ke Bokap lo cukup deh sebagai gantinya,” begitu dia ngejelasin.

Hmmm, meski udah dijelasin gitu, tetep aja gue gak bisa menebak motif utama kawan kita itu dan nggak berusaha tanya kepada yang bersangkutan. Wallahu’alam bisshawab.

Yang jelas, kejadian itu memberikan gambaran kalau Anak Pancong banyak yang sudah berubah dan sebagian di antara mereka malah sukses.

*****

Naufal Mahfudz sekarang menjabat Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) BP Jamsostek atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

Kandidat doktor Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, ini sebelumnya sudah menyandang sarjana S2 Magister Manajemen dari PPM Graduate School of Management dan sarjana S1 jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, Institut Pertanian Bogor.

Sebelum di BP Jamsostek, penggemar sepakbola yang kerap dipanggil Opam oleh teman-temannya ini memang punya pengalaman panjang di bidang human resource antara lain sebagai Direktur SDM dan Umum, Perum LKBN Antara, komisaris PT IMQ Multimedia Utama, dan Direktur SDM dan Keuangan PT IMQ Multimedia Utama.

Opam juga sempat menjabat General Manager of Human Resources,  Sony Indonesia, Japanese Electronics Company, Manajer Biro SDM dan Umum, PT Wijaya Karya Intrade, dan Kepala Bagian SDM dan Umum Divisi Perdagangan, PT Wijaya Karya (Persero).

 

AYO BACA : ANAK PANCONG: Mukadimah (1)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar