Yamaha

KISAH ANAK PANCONG: Sawah Untuk Ibu Sami Tercinta (2)

  Jumat, 17 Juli 2020   Eries Adlin
Farid Arafat, tengah berkaus coklat, bersama gank Anak Pancong/Istimewa

Oleh Farid Arafat & Bonanza Bahar Boer

Dear pembaca. Mulai awal Juli, redaksi ayojakarta.com menyajikan cerita tentang komunitas yang pernah dan masih eksis di Jakarta. Untuk edisi perdana, kami mengangkat cerita tongkrongan anak muda era 1980—1990-an di seputaran Rawamangun.

Mereka menyebutnya dengan nama Anak Pancong. Kisah tongkrongan ini bahkan sudah dibukukan dengan judul yang sama, Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna. Tulisan akan kami sajikan secara berseri.

TEBET, AYOJAKARTA.COM – SETELAH itu, udah gak ada lagi pembeda; junior dan senior. Kita seperti udah jadi keluarga besar dengan sebutan Anak Pancong. Banyak kegiatan yang kita jalanin bareng-bareng dengan menggunakan tagline Anak Pancong. Gue dan beberapa temen pun udah dianggap anak sama Babeh dan Ibu Sami. Mereka seperti orang tua angkat kami.

Karena udah kayak emak sendiri, Ibu Sami gak sungkan-sungkan minta duit ke kita-kita. Dari kita juga gak masalah. Makanya gak heran, ketiadaan Ibu Sami di warung pancong seperti gue tulis di awal jadi perhatian kita semua. Akhirnya, kita-kita rembukan. Gimana cara ngebantu ibunda Pancong ini?

Ada usulan yang mengemuka dan disetujui oleh beberapa temen yaitu beliin tanah atau sawah buat Ibu Sami di kampungnya. Kampungnya di Brebes, tepatnya daerah Ketanggungan, Jawa Tengah. Keputusan itu serius pengen kita realisasikan. Bonan sama Berry bahkan udah survey advance ke sana untuk ngeliat-ngeliat sawah yang bakal dibeli. 

AYO BACA : KISAH ANAK PANCONG: Rahasia Indomie Ibu Sami

Dari hasil kunjungan Bonan and Berry, kita mulai woro-woro ke temen-temen Pancong untuk patungan. Biasa lah, kolek-kolek. Rencananya, kita mau beli tanah atau sawah untuk Ibu Sami. Duit terkumpul, cuma gue lupa berape jumlahnya.

Setelah duit terkumpul, Bonan sama Beny dan Berry planning mau ke kampung Ibu Sami lagi untuk merealisasikan rencana mulia dari temen-temen gue, anak Pancong. Sayang, sebelum semua hal itu terealisasi, kita dapat kabar Ibu Sami meninggal. Yang gue tau Ires khusus berangkat ke Brebes untuk takziah ke rumah beliau.

Begitu ini bahan tulisan gue kirim ke Ires, eh dia malah bilang, “Setau gue, sawah udah dibeli deh. Kalau nggak salah Bonan yang cerita.”

Wah, gue malah gak tahu. Akhirnya, kita klarifikasi ke si Bonan. Doi akhirnya ngaku. Niat anak-anak patungan beli sawah buat Ibu Sami belum terealisasi, tapi sawahnya udah dibeli. Lah, kok bisa?

Begini ceritanya Bonan. Sekitar April 2004, Bonan sama Berry berangkat ke kampung Sami di Marga Sari, Brebes. Benny gak jadi ikut. Mereka nginep di Hotel Dedy Jaya, Brebes. Kampungnya Ibu Sami rada riweuh didatengin. Harus ngelewatin dasar sungai, gak pake jembatan. Kalau pas air lagi tinggi, gak bisa ditembus tuh sungai. Ires juga cerita yang sama ketika takziah ke rumah Ibu Sami.

Kebetulan, ada sodaranya Ibu Sami yang mau jual sawah. Luasnya sekitar 1.300 meter persegi. Lokasinya setelah ngelewatin sungai, sebelum masuk kampungnya Ibu Sami. “Anak-anak niatnya emang mau patungan, tapi belom terealisasi. Akhirnya karena pas saat itu gue lagi ada rezeki dari bisnis kartu pulsa, langsung kita tawar-tawar tuh sawah. Jatohnya di harga Rp9 juta. Plus macem-macemnya jadi Rp12 juta. Langsung kita bayar,” begitu penjelasan Bonan.

AYO BACA : ANAK PANCONG: Mukadimah (1)

Seremoni transaksi pembelian ‘sawah untuk Ibu Sami’ disaksikan sama kepala dusun setempat. Kepala dusun itu juga nerbitin surat transaksinya. Untuk mudahin pengurusan, surat sawah itu masih atas nama Bonan, walaupun niatnya memang untuk dikasihin ke Ibu Sami. Tapi, setelah urusan pembelian sawah beres, dalam hitungan minggu, Ibu Sami udah balik lagi ke Terminal Rawamangun. Alesannya, karena dia perlu uang untuk sewa pompa air dan lain-lain. Di daerah kampungnya Ibu Sami sana sawah harus diaerin dengan pompa air pake diesel.

Btw, surat tanah sekarang hilang euy. Pas ane pindahan rumah,” kata Bonan.

Bayangin, sampai segitunya kasih sayang anak-anak sama Ibu Sami dan sama Babeh juga tentunya. Gak mungkin deh hubungan yang dalam itu muncul tiba-tiba. Pasti karena kita memang sudah menjadi kayak keluarga besar, Anak Pancong dengan mereka sebagai orang tua kita.

Sekarang, setelah lebih dari 30 taon dari kita nongkrong-nongkrong di warung pancong Ibu Sami dan Babeh deket Terminal Rawamangun, gue masih suka kumpul sama anak-anak lintas angkatan. Setiap Anak Pancong senior ngadain kumpul-kumpul, kita-kita yang junior pasti diundang.

Sebaliknya, kalau kita-kita lagi ngumpul, yang senior-senior gak kita undang lah. Ngapain juga nongkrong sama orang-orang tua, ye gak...?

*****

Farid Arafat sejak Februari 2019 sampai sekarang mengemban amanah menjadi Direktur Utama PT Pindad International Logistic, anak usaha PT Pindad. Penyuka musik yang piawai memainkan beberapa alat ini memang lama berkiprah di bisnis kargo. Kegemarannya terhadap musik sempat juga membawa Farid berkiprah di salah satu label yaitu EMI Music Indonesia.

Lulusan SD Islam, SMPN 74 dan SMAN 31, semuanya berlokasi di Jakarta, ini kemudian menimba ilmu di Universitas Parahiyangan pada 1989—1991 tetapi tidak selesai. Ia melanjutkan kuliah ke STIE Perbanas pada 1991—1995. Farid kemudian melanjutkan pendidikan Master Business of Bogor Agricultural Institute pada 2016—2018.

AYO BACA : KISAH ANAK PANCONG: Sawah Untuk Ibu Sami Tercinta (1)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar