Yamaha

Terobosan Baru Membuat Parfum dengan Teknologi AI

  Senin, 20 Juli 2020   Budi Cahyono
Carto, mesin AI di Swiss yang mampu mengombinasikan hingga 1500 data wewangian untuk parfum. (Givaudan)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Saat ini perusahaan pengembang parfum memiliki metode baru yaitu memanfaatkan artificial intelligence (AI). Pada tahun 2019, Givaudan Fragances di Swiss mengenalkan Carto, sebuah AI, untuk membantu pembuat parfum.

Melalui serangkaian kode di mesinnya, Carto dapat menyarankan kombinasi bahan parfum. Menggunakan layar sentuh, pembuat parfum dapat dengan mudah menguji beragam formula dari data yang dimiliki Carlo. Setelah itu sebuah robot kecil segera memproses formula itu menjadi parfum, memudahkan pembuat parfum menguji aroma baru mereka.

Dikutip dari BBC, Direktur Givaudan Perfumery School Celice Becker, mengatakan proses pembuatan parfum telah berkembang bertahun-tahun. Menggunakan AI dalam pembuatannya jadi satu langkah baru.

Ia menambahkan, dulu pembuat parfum akan menulis bahan-bahan di kertas. Setelah diperkenalkan pada komputer, mereka mengembangkan sistem yang mirip Excel spreadsheet. Dengan Carto, para pembuat parfum dapat menghemat banyak waktu dan lebih produktif menghasilkan beragam formula wewangian baru.

Rumah wewangian Jerman, Symrise, telah melangkah lebih jauh dan bekerja sama dengan IBM Research untuk menciptakan AI bernama Philyra. Seperti Carto, Philyra tidak bisa mengendus bau apa pun. Untuk mengatasinya, bau, termasuk bau bunga dan sebagainya diganti dengan kode.

Philyra juga diajarkan tentang seberapa takaran masing-masing bahan akan cocok. Claire Viola, wakil presiden digital strategy fragrance di Symrise, menyatakan AI memang tidak sempurna."Ini machine-learning dan terkadang hasilnya salah," katanya.

Viola berujar butuh semakin banyak pelatihan dan pengujian agar kemampuan AI terus meningkat. Menurutnya semakin banyak mereka berinvestasi dalam pelatihan, semakin akurat hasilnya.

"Mesin tidak pernah lupa (dibandingkan manusia). Mesin juga datang dengan pilihan aroma dan kombinasi menarik yang tidak akan pernah terpikirkan," tutur Viola seperti dilansir BBC, Senin (20/7/2020).

Di Belanda, dengan metode yang sedikit berbeda, ScenTronix membolehkan pelanggan untuk membuat aroma pribadi mereka. Aroma dibuat berdasarkan kuesioner yang dijawab ketika berjalan ke toko Algorithmic Perfumery milik ScenTronix.

Kuesioner berisi pertanyaan seperti bagaimana pelanggan melihat perannya dalam kehidupan dan lingkungan, seperti apa mereka tumbuh dewasa. Setelahnya, algoritme akan menganalisis data untuk membuat parfum unik bagi pelanggan hanya dalam tujuh menit.

Pendiri ScenTronix Frederik Duenrick mengatakan, Ia ingin orang-orang dapat menggunakan parfum cerminan dirinya sendiri. Untuk mengurangi kendala bagi pelanggan, di tokonya juga masih ada pekerja profesional untuk membantu.

Lalu apakah teknologi AI ini menghentikan peran para pembuat parfum? Menurut Celice Becker, jawabannya tidak sebab peran manusia masih sangat penting. "Komputer tidak akan pernah memunculkan ide-ide indah. Namun mereka (AI) bisa membantu menghidupkannya," kata Becker.

Senada dengan itu, Viola dari Symrise pun setuju. Ia menuturkan AI adalah bentuk dukungan pelengkap untuk pekerjaan mereka, memungkinkan pembuat parfum profesional bereksperimen lebih banyak. Setidaknya untuk saat ini, seperti yang dikatakan Viola, "Ini (AI) adalah kolaborasi manusia dan mesin." (Ventriana Berlyanti)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar