Yamaha

KOPI SUSU CING ABDEL: Sepotong Roti dari Bilangan, Daerah Paling Top di Jakarta!

  Selasa, 21 Juli 2020   Eries Adlin
Komedian Abdel Achrian/Istimewa

 

Oleh Abdel Achrian

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- INIcerita beberapa tahun lalu. Tentang temen gue, sebut aja Fulan, asli dari Jawa Timur. Baru sekali ke Ibu Kota. Ketika gue ajak dia round a round dan menuju kawasan Monas, tiba-tiba my prend itu tanya.

Fulan: Del, daerah Bilangan di Jakarta di mana ya...? Kok kayaknya ngetop banget?

Gue yang lahir dan besar di Jakarta malah bingung denger pertanyaan itu. Di mana tuh daerah Bilangan. Perasaan baru denger.

Gue: Daerah mana itu? Aku malah baru denger. Sampeyan tahu dari mana...?

Fulan: Masak sih? Aku tahunya malah dari TV.

Gue: Yang sampeyan tonton, nyebutnya di daerah mana itu, Bilangan?

Fulan: Banyak lah. Rumah artis, tempat makan mewah, mal, rumah pejabat bahkan tempat yang sering terjadi kecelakaan katanya di daerah Bilangan itu.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Kuburan di Depan Rumah & Cerita Tentang Drakula

Tambah gak paham deh gue. Mana di mana tuh daerah Bilangan?

Gue: Berita TV jelasinnya gimana...?

Fulan: Itu lho. Katanya rumah Raffi Ahmad, di ‘Bilangan’ Jakarta Selatan. Ada mal di ‘Bilangan’ Jakarta Selatan, pusat perkantoran di bilangan jalan Sudirman.

Gue: Ooh.... bilangan....!

*****

Ini cerita yang berbeda, tapi kayaknya ada juga deh hubungannya dengan kisah daerah Bilangan yang membingungkan gue itu. Ceritanya tentang tiga orang sufi, sering juga disebut darwis, pengembara yang sahabatan.

Dalam pengembaraannya, tiga darwis itu ngalamin defisit bekel. Cuma tersisa roti sepotong, dan air dalam botol kecil. Karena tiga-tiganya kelaparan dan kehausan, roti dan air itu menjadi rebutan. Masing-masing ngajuin argumen tentang siapa yang paling pantas atas barang berharga itu. Cuma gak dapat titik temu.

Terus, muncul usul untuk membagi rata itu roti dan dan air yang tersisa. Sekilas sih, idenya masuk akal. Cuma setelah ditimbang-timbang, boro-boro dibagi tiga. Untuk menghilangkan rasa lapar dan haus satu orang aja, rasanya gak cukup tuh roti dan air.

Malam tiba, jalan keluar belum di dapat. Sementara haus dan lapar makin menjadi-jadi.  Akhirnya satu dari tiga darwis itu ngajuin usul yang juga diokein olah dua sahabatnya.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Belajar dari Gus Baha dan Anak Tongkrongan

Pembagian roti dan air akan dilakukan esok hari. Mereka tidur dulu dan ketika bangun, masing-masing mesti ceritain mimpi yang dialamin. Orang yang bermimpi paling hebat, dialah yang berhak atas roti dan air itu!

Pagi hari, mereka bangun. Darwis paling senior pun diminta nyeritain mimpinya. Dengan wajah semringah, sufi itu berkisah bahwa dalam mimpinya, dia bertemu dengan Orang Bijak di satu tempat yang keindahannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin, tempat itulah yang dimaksud dengan surga.

Orang Bijak itu kemudian berkata, “Engkau lah yang paling berhak atas roti dan air itu. Kehidupan masa lalu dan masa depanmu begitu mulia dan berharga.”

Giliran darwis kedua. Anehnya, dia juga mengaku bertemu dengan Orang Bijak di tempat yang indah tak terkira.

Engkau lebih pantas menyantap roti dan air itu karena engkau lebih sabar dan berilmu tinggi. Masa lalu dan masa depanmu mengagumkan juga. Engkau harus tetap hidup karena engkau ditakdirkan untuk memimpin manusia.” Begitu kata Orang Bijak yang dikutip Darwis kedua.

Darwis ketiga paling biasa-biasa saja dapat kesempatan cerita paling akhir. Dengan nada datar-datar saja dia kisahkan mimpinya.

“Dalam mimpiku, aku tidak bertemu dengan siapapun. Tidak mendengar atau melihat apapun. Aku cuma merasa amat lapar dan haus, sampai-sampai aku terbangun dibuatnya. Ketika terjaga, aku lihat ada roti dan air. Ya, terus, aku makan itu roti dan aku minum itu air.”

Kira-kira, moral cerita dari kisah yang gue sadur dari buku terjemahan Para Pencari  Tuhan: Menyibak Kearifan Para Sufi karya Idries Shah itu apa ya menurut kalian?

Bingung? Sama dong sama gue ketika ditanya soal daerah Bilangan itu hehehehe.

Gue sih udah punya kesimpulan dari cerita tiga darwis itu. Cuma, ketika nyeritain ke beberapa temen tentang kisah itu, mereka ternyata punya kesimpulan yang berbeda dengan gue.

Makanya sekarang, gue bebasin kalian memberikan tafsiran sendiri atas cerita itu dan kemudian kita sama-sama ambil hikmahnya. Semoga bermanfaat.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar