Yamaha

Lusiawati Dewi Ajak Berinovasi Tempe untuk Naik Kelas

  Sabtu, 25 Juli 2020   Budi Cahyono
Lusiawati Dewi saat mengenalkan 8 produk olahan tempe, Sabtu (25/7/2020). (ist)

SALATIGA, AYOJAKARTA.COM -- Jangan menganggap remeh tempe yang identik dengan makanan masyarakat kelas bawah.  Sebab, makanan yang berbahan dasar dari kedelai ini bisa diolah menjadi berbagai macam penganan. Hal itulah yang membawa Dra Lusiawati Dewi Msc terus tergerak untuk berinovasi mengembangkan berbagai olahan tempe.

Dalam acara “Tempe-Based Food Innovation Training”, Sabtu (25/7/2020), Lusiawati mengajak masyarakat untuk mengubah tempe menjadi makanan menarik dan naik kelas sehingga bisa dikenal masyarakat dunia.

“Berbagai olahan tempe yang saya buat antara lain tempe ikan atau Tekan yang sudah dipatenkan, tempe pelangi dengan bahan pewarna alami dari kunyit, angkak, dan daun pandan serta masih banyak olahan tempe seperti gulai tempe, dan sate tempe,” kata Lusiawati.

Acara yang didukung penuh oleh U.S Soybean Export Council (USSEC) tersebut, Lusiawati, yang  menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Tempe Indonesia (FTI) Jawa Tengah ini menyampaikan kepada peserta dari perhotelan, perajin tempe, Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Salatiga, serta masyarakat umum.

Dalam paparannya, Lusiawati mengatakan inovasi tempe yang dipamerkan itu akan dibawa kepada masyarakat luas bahwa tempe produk Indonesia bisa dikenal dunia.

“Saya ditunjuk oleh USSEC untuk memperkenalkan serta memotivasi bagaimana tempe hasil olahan para perajin dan masyarakat pada umumnya dapat diinovasikan terus sehingga produk mereka bisa diekspor,” ujar wanita yang juga Ketua Pusat Studi Tempe Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Ada 8 olahan tempe yang disajikan untuk dipilih menjadi panganan favorit dan dikembangkan untuk  menuju  ekspor yakni bakso, nugget, bacem, satai bacem, satai mayo, gulai, serabi, serta spageti.

 Tes  pasar ini  menentukan produk olahan ini layak jual atau tidaknya, dengan mengetahui  pilihan masyarakat atas olahan dari tempe.  Pilihan masyarakat ini bisa dikembangkan lagi untuk sampai  layak eksport dengan penyempurnaan berbagai hal.

Kota Tempe

Ketua Kadin Salatiga, Arso Adji Sajiarto mendukung penuh terhadap inovasi yang dilakukan oleh Lusiawati dan perajin tempe khususnya di Salatiga. Arso mengajak untuk terus mengangkat derajat tempe dan memasukkan menu olahan tempe ke hotel-hotel di Salatiga.

“Saya mengajak Anda semua apa yang diberikan bu Lusi ini bisa menjadi menu pilihan sehingga Salatiga bisa terkenal dengan sate tempe atau gule tempe yang belum ada di tempat lain,” kata Arso yang juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Salatiga.

Arso juga berharap nantinya tempe menjadi penggerak perekonomian di masa pandemi dan berharap Salatiga menjadi kota tempe karena pernah meraih rekor tempe terpanjang di dunia tahun 2012.

Pada sesi tanya jawab, Yitno dari Kopti menanyakan solusi apa yang bisa dikembangkan apabila tempe yang sudah diproduksi tidak terjual, apakah tempe yang sudah tidak segar lagi bisa dimanfaatkan untuk membuat tepung tempe.

Lusiawati menjelaskan bahwa untuk membuat tepung tempe, sebaiknya menggunakan tempe segar agar bau yang dihasilkan dari tepung tersebut tidak menyengat.

“Untuk membuat tepung tempe sebaiknya pilih tempe segar yang dioven atau dipanaskan 60-70 derajat lalu dihaluskan dengan blender,” papar Lusiawati.

Hal lain juga disampaikan oleh Mochtar, bahwa tempe yg sudah tidak segar bisa diolah menjadi terasi, namun hal itu perlu dipelajari lagi.

Acara yang berlangsung dari pukul 10,00 hingga 12,00 itu juga sangat diminati oleh peserta dari pemilik Kafe Groovy dan pusat oleh-oleh Mbok Maneh, Kiki. Dia menyatakan acara inovasi tempe sangat bermanfaat untuk pengembangan usahanya.

“Ide-ide inovasi ini bisa dicontoh untuk pengembangan usaha. Saya juga berharap acara seperti ini terus berlanjut dengan adanya pelatihan sehingga kita bisa mencoba langsung,” kata Kiki.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar