Yamaha

Pelaku Usaha Optimistis Mampu Bangkit di Era New Normal

  Senin, 03 Agustus 2020   Budi Cahyono
Andri Sumirat salah seorang pelaku usaha Simping di Purwakarta tengah memperlihatkan produknya. (Ayopurwakarta/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Andri Sumirat (40), harus berpikir keras agar usahanya tetap bertahan. Meskipun dampak pandemi Covid-19 sangat luar biasa pada sektor ekonomi, tidak kecuali bagi para pelaku UMKM.

Andri adalah penjual Simping yang memiliki kios di Jalan Ahmad Yani, Purwakarta.

Sejak adanya wabah corona beberapa bulan lalu produksi penganan khas Purwakarta yang satu ini lesu. Omzetnya turun drastis.

"Bagaimanapun simping tidak boleh punah. Kami harus mempertahankan usaha kami. Bagaimanapun caranya," kata dia, Sabtu (1/8/2020).

Upaya yang dilakukan adalah membuka pemasaran baru melalui media sosial untuk mempermudah mengenalkan Simping kepada masyarakat.

AYO BACA : Pengajuan Izin UMKM di DKI Jakarta Dipercepat

Apalagi, simping miliknya memiliki berbagai varian rasa cukup beragam seperti bawang, keju, cabai dan kencur. Sementara rasa manis ada stroberi, nangka dan coklat.

Warna dari simping ini pun disesuaikan dengan varian rasanya agar lebih menarik.

"Dengan banyak varian rasa itu saya optimistis simping akan lebih mudah mendapatkan calon pembeli," ujar Andri.

Keunggulan lain dari simping milik Andri adalah memiliki rasa yang gurih, nikmat dan kelezatan mampu memanjakan lidah bagi para penikmatnya.

"Saat mengolah adonan simping saya mempertahankan resep warisan dari orang tua sehingga memiliki rasa khas, itu juga menjadi keunggulan simping milik saya," ucap dia.

AYO BACA : Prospek Bisnis Properti di Tengah Pandemi Covid-19, Masihkah Lesu?

Adapun untuk harga Andri mematok Rp9.000 perbungkus, harga akan lebih murah jika membeli dengan jumlah banyak. "Kalau belinya banyak saya kasih harga Rp8.000 perbungkus," ujar Andri.

Sementara, Kepala Bidang UMKM pada Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Purwakarta, Ahmad Nizar mengakui jika beberapa bulan terakhir para pelaku usaha mengalami penyusutan dampak wabah virus corona.

Setelah diberlakukan new normal pihaknya mengatur strategi untuk meningkatkan produktivitas agar memiliki pasar lebih luas di era new normal ini, di antaranya adalah melakukan pembinaan bekerja sama dengan salah satu perusahaan minimaret dua pekan lalu.

"Dalam pembinaan itu mereka diberikan teknik dan strategi pemasaran dan pengemasan agar mampu menarik perhatian konsumen," kata dia.

Ia menyebut, kekurangan para pelaku usaha di Purwakarta enggan menempuh izin produksi seperti pangan industri rumah tangga (PIRT). Sehingga sulit masuk pemasaran minimarket atau pusat perbelanjaan lainnya.

Meski begitu, ia berkomitmen akan mendorong para pelaku usaha agar memiliki PIRT. Upaya yang dilakukan adalah memberikan pemahaman melalui pembinaan secara berkala.

"Akan kita dorong secara berlahan, sayang kalau tidak memiliki izin apalagi UMKM di Purwakarta cukup banyak," kata Ahmad Nizar. (Dede Nurhasanudin)

AYO BACA : Curhatan Perajin Bambu Gunung Halu: Ingin Pemerintah Turun Tangan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar