Yamaha

Ganjil Genap Berlaku, Penumpang Angkutan Umum Naik 4,4%

  Rabu, 05 Agustus 2020   Eries Adlin
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo (kanan)/ INSTAGRAM: @dishubdkijakarta

 

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta mencatat kenaikan jumlah penumpang angkutan umum sebesar 4,4% pada pemantauan hari pertama penerapan sistem pembatasan kendaraan berdasarkan nomor polisi Ganjil Genap dibandingkan dengan sebelum penerapan ketentuan tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah penumpang angkutan umum pada 27 Juli 2020 atau sebelum penerapan Ganjil Genap mencapai 742.315 orang. Sementara itu, pada hari pertama penerapan Ganjil Genap pada Senin 3 Agustus 2020 meningkat sebanyak 774.952 orang.

AYO BACA : DAMPAK COVID-19: Jokowi Siapkan Bantuan Rp600 Ribu Selama 5 Bulan Untuk Pekerja Gaji di Bawah Rp5 juta

Secara rinci, jumlah penumpang bus Transjakarta pada 27 Juli 2020 318.155 orang, kemudian meningkat 5,96% menjadi 337.118 orang pada 3 Agustus 2020.

Jumlah penumpang KRL pada 27 Juli 2020 sebanyak 400.600 orang, lalu meningkat 3,5% menjadi 414.637 orang pada 3 Agustus 2020.

Untuk penumpang LRT pada 27 Juli 2020 sebanyak 849 orang, kemudian meningkat 20,85% menjadi 1.026 orang pada 3 Agustus 2020.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Kuburan di Depan Rumah & Cerita Tentang Drakula

Sementara itu, untuk MRT malah terjadi penurunan, dari tanggal 27 Juli 2020 yang mencapai 22.711 orang pada 3 Agustus 2020 turun 2,38% menjadi 22.171 orang.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengatakan, untuk peningkatan jumlah penumpang Transjakarta masih bisa dilayani oleh jumlah bus eksisting.

“Hasil kalkulasi kami pada jam sibuk, kapasitas yang tersedia, yang terisi paling tinggi 40%. Artinya masih 60% tempat duduk kosong yang bisa dioptimalkan pada jam sibuk,” ujar Syafrin, Rabu (5/8), seperti dilansir laman resmi Pemprov DKI, beritajakarta.id.

Syafrin menambahkan tujuan pemberlakuan sistem pembatasan lalu lintas Ganjil Genap sebelum pandemi Covid-19 berbeda dengan saat pandemi.

Ganjil Genap sebelum pandemi bertujuan untuk memindahkan pergerakan warga dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, sedangkan saat pandemi Ganjil Genap merupakan instrumen pembatasan pergerakan orang agar mereka tidak melakukan perjalanan yang tidak penting.

“Dengan pembatasan ini, perkantoran atau perusahaan akan disiplin menerapkan prinsip 50% WfH dan 50% bekerja di kantor, dan dibagi minimal dua shift, itu tujuannya,” ujar Syafrin.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Belajar dari Gus Baha dan Anak Tongkrongan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar