Yamaha

Nilai Sejarah di Balik Lomba Makan Kerupuk saat Perayaan 17-an

  Rabu, 05 Agustus 2020   Budi Cahyono
lomba makan kerupuk (dok)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Apakah Anda tahu? Makanan yang kita konsumsi bisa berperan sebagai alat identifikasi nasionalisme dan ideologi masing-masing.

Lomba makan kerupuk merupakan salah satu acara paling lazim dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya menyenangkan, nilai filosofis lomba ini pun menunjukkan nasionalisme bangsa.

Kemiskinan warga Indonesia selama masa penjajahan membuat kerupuk dan nasi menjadi makanan yang dianggap “cukup” namun sulit didapatkan.

Perbedaannya, pada zaman sekarang, kerupuk bisa didapatkan dengan harga murah di berbagai warung. Selain itu, nasi dan kerupuk tidak lagi diasosiasikan sebagai makanan “mahal”, justru murah.

Namun, Hari Kemerdekaan merupakan satu-satunya hari resmi di mana kerupuk dianggap sebagai makanan bertingkat tinggi. Alasannya sederhana. Kerupuk dan nasi adalah santapan “paling sehat” yang bisa dimakan pejuang kemerdekaan di tengah pertempuran.

AYO BACA : Jelang 17an, Ada Golok Betawi di Lagoa Jadi Simbol Perlawanan Covid-19

“Di TK-TK Denmark, guru menggunakan makanan sebagai area sosialisasi penting, di mana ia akan memperkenalkan dan menekankan norma masyarakat di dalamnya,” ujar Martha Sif Karrebaek, ahli etnografi linguistik Universitas Copenhagen.

Apabila kita membandingkan lomba tradisional panjat pinang dan makan kerupuk, kedua memiliki nilai sejarah. Perbedaannya, panjat pinang berada di ranah kontroversial karena dianggap tidak mengedukasi.

Saat masa penjajahan, Belanda seakan-akan “mengolok-olok” kemiskinan pribumi dengan menggantungkan bahan pokok sebagai hadiah panjat pinang. Lomba ini akan diadakan saat ada acara besar Belanda.

Bagi Belanda, semangat dan gotong royong pribumi untuk memenangkan bahan-bahan pokok yang murah di mata Belanda merupakan hiburan. Apabila ada peserta yang jatuh, gelak tawa akan semakin kencang.

Namun, lomba makan kerupuk tidak memiliki sejarah perbedaan kelas segelap itu.

AYO BACA : Empat Siswa Indonesia Sabet Medali dalam IChO ke-52

Sampai saat ini, lomba makan kerupuk masih senantiasa diselenggarakan untuk menerapkan dua nilai: nasionalisme dan rasa syukur.

Tidak heran apabila peserta lomba makan kerupuk umumnya diutamakan anak-anak. Makanan dapat dijadikan sarana sempurna untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan bagi pikiran muda.

Sayangnya, hingga kini konsumsi kerupuk sebagai lauk pauk utama masih dilakukan oleh masyarakat dari kelas ekonomi bawah. Di sinilah tradisi Hari Kemerdekaan bergerak untuk menghapuskan perbedaan kelas selama satu hari.

“Saat orang-orang dalam kelas sosial ekonomi tertentu dikatakan makanan mereka ‘buruk’, pesan sebenarnya adalah mereka adalah orang buruk dengan nilai-nilai buruk’,” tutur antropolog linguistik Universitas Rutgers, Kathleen Riley.

Menekankan “makanan sebagai identitas”, lomba makan kerupuk di setiap Hari Kemerdekaan Indonesia dapat menghapuskan stigmatisasi kemiskinan yang ada di baliknya. Justru, masyarakat diajarkan agar menghormati orang-orang miskin.

Pasalnya, orang-orang miskin yang mengonsumsi kerupuk pada zaman penjajahan adalah para pahlawan yang berkontribusi memerdekakan Tanah Air. (Farah Tifa Aghnia)

AYO BACA : 4 Cara Seru Rayakan Hari Kemerdekaan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar