Yamaha

Kasepuhan Ciptagelar Menolak Jadi Destinasi Wisata Unggulan

  Kamis, 06 Agustus 2020   Budi Cahyono
Aktivitas warga di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. (Ayobandung/Tri Junari)

SUKABUMI, AYOJAKARTA.COM -- Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat menolak tempat tinggal mereka dijadikan destinasi pariwisata. Mereka menilai konsep pariwisata kurang tepat menjaga nilai budaya dan tradisi yang kini diemban Ciptagelar.

Juru wicara Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana mengatakan, wisatawan mulai datang tahun 2001, di mana saat itulah nama Kasepuhan Ciptagelar dipakai dengan mengemban misi atau tugas menyebarluaskan ajaran leluhur soal kehidupan dan keseimbangan alam.

Meski tidak memiliki data tertulis, Yoyo mengatakan secara kasat mata tiap pekan ratusan orang luar datang ke Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar dan 10.000 orang lebih saat acara adat Seren Taun. 

AYO BACA : Cegah Klaster Baru, Destinasi Wisata di Kabupaten Majalengka Bakal Ditutup

Tujuan datang mereka beragam, ada yang sekadar ingin bersilaturahmi, menimba ilmu dan penelitian bahkan ada pula menganggap Kampung Gede sebagai obyek wisata. 

 

Konsep wisata yang digaungkan pemerintah ini kemudian membawa kekhawatiran warga Kasepuhan Ciptagelar hingga mereka tidak ingin masuk dalam salah satu destinasi wisata unggulan. 

AYO BACA : Keindahan Wisata Bangkai Kapal di Yunani

 

Bagi warga adat Kasepuhan Ciptagelar, kilau ekonomi sektor pariwisata bukan menjadi tujuan utama tugas mereka. Mereka khawatir konsep wisata ini merusak tatanan sosial masyarakat yang menganggap bisa segala dibeli oleh uang.

Belum lagi persoalan sampah plastik yang dibawa wisatawan nyaris sama dirasakan dengan masyarakat adat Kanekes, Baduy. Selama ini penanganan sampah masih sebatas dibakar karena belum ada upaya pemerintah untuk memberikan sistem penanganan sampah yang tepat bagi Ciptagelar.

"Sampah plastik ini kan dibawa wisatawan, cara sementara ya dibakar. Pemerintah belum memberikan sistem pengolahan sampah yang tepat,"ujarnya.

Sejatinya, warga Kasepuhan Ciptagelar sedang menjalankan tugas leluhur memelihara keseimbangan manusia dalam mengisi kehidupan di alam.

"Sebelum pemerintah menetapkan lockdown, Kasepuhan Ciptagelar sudah menerapkan blockdown akhir Februari 2020. Tetamu tidak boleh masuk karena kami tidak ke mana-mana, yang dikhawatirkan paparan dari luar," ucap Yoyo disinggung masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) di Ciptagelar. (Tri Junari)

AYO BACA : UNESCO Tetapkan Kaldera Toba sebagai Global Geopark

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar