Yamaha

Praktisi Sebut Pertumbuhan Investasi Syariah Bertumbuh Tiap Tahun

  Jumat, 07 Agustus 2020   Budi Cahyono
Ilustrasipertumbuhan ekonomi

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Produk investasi kini semakin beragam. Banyaknya pilihan produk investasi syariah serta kemudahan dalam transaksinya, menjadi alasan mengapa investasi syariah digemari oleh masyarakat.

Geliat pertumbuhan industri pasar modal syariah yang semakin pesat ikut membuat masyarakat semakin melek terhadap investasi syariah. Jika diperhatikan tren investasi syariah masyarakat mulai bergeser seiring dengan pemanfaatan teknologi dalam dunia investasi.

Jika zaman dulu masyarakat berinvestasi pada benda-benda berbentuk hard asset atau aset berwujud nyata, seperti emas, tanah, dan properti, sekarang masyarakat mulai beralih ke instrumen investasi keuangan. Saham syariah, sukuk, dan reksa dana syariah kini sudah semakin digemari. Lalu, Seperti apa tren investasi syariah beberapa tahun ke belakang?

Praktisi dan dosen pasar modal dari UIN Sunan Gunung Djati, Dr Yoyok Prasetyo mengungkapkan, melihat tren masa lalu investasi syariah memang mengalami pertumbuhan di jumlah investor saham syariah yang pada awalnya hanya kisaran persentase 1%, kini berada di angka 4,8%.

Artinya, menurut Yoyok, setiap tahun investasi syariah ini mengalami pertumbuhan. Meski di satu sisi pertumbuhan ini menggembirakan. Namun lanjut Yoyok, dengan persentase yang masih berada di bawah 5 % itu belum cukup proporsional.

AYO BACA : Melejit, Harga Emas 7 Agustus Rp1.065.000

Kendati begitu, Yoyok menilai hal itu wajar lantaran dibandingkan nonsyariah  alias konvensional investasi syariah masih membutuhkan waktu untuk pengembangan.

"Gak apa-apa, mungkin butuh waktu. Memang untuk meningkatkan market share misalnya investor saham berbasis syariah memang tidak bisa serta-merta. Memang butuh waktu, tapi kalau secara tren memang mengalami pertumbuhan," kata Yoyok kepada Ayobandung.com, Kamis (6/8/2020) malam.

Yoyok justru menilai, momentum pertumbuhan inilah yang harus dijaga hingga pertumbuhan instrumen investasi syariah mencapai angka yang proporsional. Apalagi melihat potensi yang cukup besar dari kehadiran jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim.

Yoyok juga menyebut, saat ini terjadi perubahan tren investasi. Ada yang disebut ethical investment atau investasi bertanggung jawab sosial.

Investasi sosial ini adalah suatu bentuk strategi investasi yang menggabungkan antara perolehan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan kebajikan sosial.

AYO BACA : Industri Hasil Tembakau Pacu Percepatan Pemulihan EKonomi

"Jadi investor itu sekarang ada pergeseran. Kalau zaman dulu investasi itu yang penting untung. Sekarang bergeser, ethical investment ini berlaku untuk muslim maupun non-muslim.  Misal di barat, investor itu mulai bergeser, mereka memilih perusahaan-perusahaan yang tidak merusak lingkungan," katanya.

"Mereka yang pakai indikator syariat islam ya tadi misal memilih  perusahaan-perusahaan yang tidak memudaratkan, tidak menjual barang-barang yang memberikan efek negatif karena ini kan instrumen-instrumen syariah, perusahaan-perusahaan syariah," lanjutnya.

Yoyok tak memungkiri, meski tujuannya untuk memberikan kontribusi sosial, para investor ethical investment ini tetap memikirkan keuntungan agar berjalan seimbang. Namun di balik itu, tren investasi juga mulai memperhatikan kepuasan batin bahwa mereka mendapatkan return dengan benar dan sesuai koridor.

"Dalam koridor yang non-Islam mungkin tidak merusak lingkungan dengan konsep go green, misalnya. Kalau yang Islam mungkin tidak melanggar koridor dan sesuai syariat," katanya.

Yoyok meyakini, pergeseran itu dapat menjadi potensi cukup besar untuk dikembangkan di masa depan. Namun dia menilai instrumen investasi syariah pun harus mulai dipersiapkan agar semakin banyak instrumen untuk meningkatkan peminat investor.

"Berarti dari kedua belah pihak saling bersinergi, simultan sehingga nanti potensinya lebih besar," ujarnya. (Eneng Reni)

AYO BACA : Jokowi Wacanakan Penggabungan BUMN Aviasi dan Pariwisata

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar