Yamaha

Gejala Keracunan Makeup, Penyebab Kematian Ratu Elizabeth I

  Senin, 10 Agustus 2020   Budi Cahyono
Lukisan potret Elizabeth I yang diresmikan ratu sebagai salah satu lukisan dirinya yang diterima untuk dipakai,

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Ratu Elizabeth I dapat dibilang sebagai salah seorang pemimpin Monarki Inggris yang paling terkenal. Wajah putih, rambut dan bibir merah, serta gelar “Ratu Perawan” merupakan karakteristik menonjol akan ratu satu ini.

Selain itu, ia memiliki segudang prestasi yang berhasil membangkitkan kejayaan Inggris pascapemerintahan ayahnya, Henry VIII, yang terkenal senang main dan mengeksekusi wanita, juga kakaknya, Mary I, yang dikenal dengan gelar “Bloody Mary”.

Saat ia wafat, terkisahkan hampir semua masyarakat Inggris berduka, menangisi ratu mereka. Namun, siapa sangka berabad-abad kemudian, penelitian menunjukkan kosmetik bisa menjadi penyebab kematian Elizabeth?

Pada era Elizabeth (1558 – 1603), ceruse adalah substansi kosmetik yang paling umum digunakan. Subtansi berwarna putih ini diaplikasikan ke wajah layaknya foundation zaman sekarang, memberikan tampilan putih merata seperti boneka porselen.

Namun, ceruse rupanya merupakan substansi berbahaya. Kosmetik yang dijadikan standar elite para wanita era Elizabeth ini dibuat dari timah putih dan cuka.

Saat itu, tekstur dan warna timah putih sudah cukup meyakinkan masyarakat sebagai produk kosmetik terdepan. Kini, kita tahu penggunaan timah sehari-hari di kulit dapat mengakibatkan kerusakan kulit, rambut rontok, dan keracunan timah.

AYO BACA : Masker Covid-19 Termahal di Dunia Seharga Rp22 Miliar

Saat itu, Elizabeth mewajibkan dirinya untuk memasang makeup sempurna dengan ceruse. Pasalnya, kulitnya dipenuhi oleh bekas luka cacar yang lazim diderita oleh para wanita saat itu.

Saat ia semakin tua dan kulitnya mengalami korosi semakin parah akibat timah, Elizabeth justru terus menebalkan lapisan makeup. Mendekati kematiannya, dilaporkan Elizabeth melapisi makeup wajahnya hingga setebal 1 inci!

Dilumuri Racun

Selain wajah yang dilumuri racun setiap harinya, pewarna bibir merah khas Elizabeth pun beracun. Pewarna itu dibuat dari cinnabar, sebuah substansi padat berwarna merah yang merupakan salah satu jenis raksa.

Gejala keracunan raksa adalah hilangnya ingatan, mudah marah, dan depresi—sejumlah kondisi yang dilaporkan berbagai sejarawan sebagai kondisi mental Elizabeth di dekat kematiannya.

Penyalahgunaan makeup di era Elizabeth pun tidak berakhir di situ. Pada masa itu, makeup tidak langsung dibersihkan di malam sebelum tidur. Para bangsawan justru memakai makeup-nya hingga minimal seminggu.

AYO BACA : Masker, Item Fesyen Baru Quinceanera

Bukan hanya tersumbatnya pori-pori, kulit Elizabeth justru menyerap begitu banyak timah yang membuat kulitnya abu-abu dan keriput.

Zat yang membentuk zat penghapus makeup-nya pun sama beracunnya! Sejarawan berteori penghapus makeup pada zaman itu terdiri dari kulit telur, tawas, dan lebih banyak raksa lagi.

Pada masa itu, para bangsawan menganggap zat penghapus makeup tersebut efektif karena kulit yang terasa halus setelah penggunaan. Padahal, kehalusan kulit itu diakibatkan oleh raksa yang mengikis setiap lapisan kulit.

Saat Elizabeth semakin tua, ia pun melarang seniman kerajaan untuk melukis potretnya dengan jelek. Sejelek apa pun kondisi wajahnya akibat penuaan, para seniman diharuskan berimprovisasi kreatif untuk membuatnya cantik menarik.

Masalahnya, penggunaan timah setiap hari selama bertahun-tahun bukan hanya dapat merusak kulit, tapi membuatnya melepuh!

Salah satu gejala keracunan timah yang dialami Elizabeth adalah rambut rontok. Semakin tua, ia semakin terobsesi dengan penggunaan rambut palsu. Tahun 1599, bangsawan Earl of Essex akhirnya mengungkapkan rambut sang ratu sudah hampir tidak ada.

Gejala keracunan kosmetik yang dialami Elizabeth mendekati kematiannya adalah depresi berat. Elizabeth begitu melankolis sehingga ia tidak mengizinkan dokter memeriksanya dan ia takut tidur. Ia mengatakan, apabila ia tidur ia bisa saja tidak bangun lagi.

Elizabeth I akhirnya wafat pada 24 Maret 1603. Penyebab kematiannya tercatat sebagai sepsis, komplikasi infeksi saat zat dalam tubuh yang harusnya melawan infeksi luar justru tidak terkendali. Akhirnya, kerusakan berbagai organ pun terjadi. (Farah Tifa Aghnia)

AYO BACA : Langkah Mudah Mengaplikasikan Foundation agar Terlihat Alami

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar