Yamaha

Kebijakan Ganjil Genap Hanya Pindahkan Masalah

  Selasa, 11 Agustus 2020   Fitria Rahmawati
ilustrasi penerapan ganjil genap di DKI Jakarta/ Suara.com

TEBET, AYOJAKARTA.COM - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman berpandangan bahwa penerapan kebijakan ganjil genap yang diberlakukan kembali di DKI Jakarta hanya memindahkan masalah saja. Penanganan corona yang belum masif dan berintegrasi membuat kebijakan tersebut tidak efektif dan efisien. 

"Maksudnya saya harus diintegrasi atau melakukan kordinasi dahalu agar ada kerja sama dari pemangku kepentingan di pemerintahan dengan perusahaan tersebut," jelas Dicky, Senin (10/20/2020).

AYO BACA : 12 Kendaraan Terjaring Melanggar Ganjil Genap

Dicky menjelaskan, cara ideal perkantoran yang ingin tetap menerapkan protokol kesehatan, yaitu dengan melihat karyawan tersebut termasuk berisiko tinggi bukan penyakit bawaan (komorbid). Kemudian, harus ada surat aturan baru antara dinas perhubungan, kepolisian, dan dinas kesehatan untuk mengatur perkantoran di Jakarta.

"Karena kalau mempunyai komorbid dan risiko pendarahan tidak diizinkan masuk bekerja itu lebih rentan penularan nya, apalagi jika menggunakan kendaraan umum. Namun ada baiknya saat pandemi Covid-19 sampai akhir tahun ini WFH (work from home) saja, supaya dalam penyebaran Covid di lingkungan perkantoran tidak padat," ujar Dicky.

AYO BACA : Jangan Lupa Lho, di 28 Pintu Tol Ini Berlaku Sistem Ganjil Genap, Jangan Sampai Ditilang!

Dalam hal ini, Dicky menganjurkan, pihak pemerintah yang menerapkan kebijakan ganjil-genap harus berker jasama dengan perkantoran atau perusahaan. Dia mendapati, umumnya mereka yang bekerja badan usaha milik megara (BUMN) dan perkantoran swasta, pastinya banyak yang membawa kendaraan pribadi. 

"Oleh karena itu, harus dikordinasikan. Bukan hanya membuat kebijakan untuk masyarakat dengan sistem pemberlakukan 50% masuk dan sisanya WFH," ujar Dicky.

Dicky mengatakan, penerapan kebijakan meredam mobilitas aktivitas masyarakat yang dilakukan Pemprov DKI sebenarnya sudah berjalan baik. Hanya saja, sambung dia, ganjil-genap  tidak tepatnya saat berlangsung saat ini, lantaran hanya memindahkan masalah.

"Begini saya jelaskan, meredam mobilitas pekerja ini memang sudah tepat kebijakannya dengan gnjil-genap. Namun jika tidak harus memiliki opsi lain. Karena jangan sampai, dengan peraturan ganjil-genap ini (kasus Covid-19) malah meningkat di transportasi publik yang berdampak pada kerumunan," ujar Dicky.

AYO BACA : Kebijakan Gage Dinilai Bertentangan dengan Penanganan Covid-19 di Jakarta

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar