Yamaha

PT MRT Jakarta Akui Banyak Tantangan Bangun MRT Fase II

  Kamis, 13 Agustus 2020   Icheiko Ramadhanty
Silvia Halim. (Foto : Beritajakarta.id)

TEBET, AYOJAKARTA.COM - PT MRT Jakarta sudah mulai melakukan pembangunan transportasi umum pada fase II sejak akhir Juli 2020. Rencananya, pembangunan MRT fase II terdiri dari dua paket proyek. Fase 2A mencakup jalur dari kawasan Hotel Indonesia (HI) sampai Kota dan Fase 2B dari Kota hingga Ancol Barat.

Namun, dalam proses pembangunan Fase II, PT MRT mengaku mempunyai banyak tantangan. Dikatakan oleh Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim, tantangan tersebut berupa penemuan cagar budaya.

Sejauh ini, kata Silvia, pihaknya menemukan beberapa temuan fragmen keramik atau piring, hingga temuan berupa struktur batu bata. Temuan tersebut kini telah diamankan ahli arkeologi BUMD bersama pihak cagar budaya Provinsi DKI Jakarta.

"Inilah salah satu tantangan besar di Fase II ini. Kami juga harus melindungi cagar budaya. Informasi yang kami dapat di sisi barat Monas ini dahulunya merupakan pasar malam dan lokasi kantor polisi," ujar Silvia, dikutip Ayojakarta.com dari beritajakarta.id, Rabu (12/8/2020).

Dengan adanya penemuan cagar budaya tersebut, Silvia mengaku akan bersikap terbuka dengan para arkeolog. Dia menuturkan, jika hasil penelitian tim arkeologi mengharuskan proyek MRT Fase II harus diubah, maka PT MRT siap melakukan modifikasi desain.

AYO BACA : Ditemukan Artefak Berupa Keramik & Struktur Batu Bata di Jalur MRT II di Monas

Di tempat lain, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta, Candrian Attahiyat, mengungkap bahwa posisi artefak di lokasi proyek mayoritas berada di kedalaman maksimal 10 meter.

"Artefak yang ditemukan MRT Jakarta memiliki nilai sejarah tinggi, tapi kami belum bisa memastikan dari abad ke berapa artefak tersebut berasal. Sebab analisisnya belum dikaji secara menyeluruh," kata Candrian.

Dia sempat bercerita, di kawasan Monas sekitar tahun 1930 rupanya merupakan bekas pasar malam, Pasar Gambir, taman, dan pos polisi. Namun, pihaknya ingin melakukan pengecekan ulang untuk mendapatkan sample terkait bentuk dan denah bangunannya.

"Penggalian ini sifatnya menentukan ada atau tidak, kalau ada signifikan atau tidak? Kalau signifikan kita akan rapatkan lalu berikan usulan untuk melakukan perubahan desain ke PT MRT Jakarta," jelasnya.

Namun apabila sifatnya artefak lepas seperti pecahan keramik dan batu bata, kata Candrian, maka proyek bisa dilanjutkan sesuai dengan desain PT MRT. Hanya saja, menurutnya temuan tersebut tetap harus diselamatkan.

"Ada rencana dari MRT Jakarta untuk membuat museum di dalam stasiun agar publik bisa melihat temuan-temuan tersebut. Kami dukung rencana itu," ungkap dia. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar