Yamaha

Penanganan Hukum Perbudakan WNI ABK di Kapal Long Xin, Indonesia Minta Ada Saksi Dari WN China

  Jumat, 21 Agustus 2020   Icheiko Ramadhanty
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi / dok

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, untuk pertama kalinya kembali melaksanakan kunjungan kerja di tengah pandemi yang belum usai. Dia bersama dengan Menteri BUMN, Erick Thohir, mengunjungi Kota Sanya di China.

Dalam kunjungan bilateral itu, salah satu yang dibahas dan disepakati adalah mengenai tindak lanjut dari dugaan pelanggaran kemanusiaan atau perbudakan kepada WNI Anak Buah Kapal (ABK) di kapal ikan milik perusahaan China.

“Saya sampaikan kembali concern kita mengenai masih terjadinya kasus-kasus yang menimpa ABK Indonesia yang bekerja di kapal-kapal ikan RRC,” ucap Retno dalam telekonferensinya, Kamis (20/08/2020) malam hari.

Retno menekankan bahwa isu tersebut sudah bukan merupakan isu antara pihak swasta. Namun, pemerintah masing-masing negara harus terlibat untuk memastikan bahwa pelanggaran kemanusiaan seperti itu tidak terjadi di masa mendatang.

“Indonesia juga meminta kerjasama Mutual Legal Assistance antara lain adanya keperluan saksi WN China dan investigasi transparan untuk tuduhan perdagangan manusia di kapal Long Xin 629,” tegasnya. 

Permintaan Indonesia itu, kata Retno, ditanggapi dengan positif oleh State Councillor dan Menteri Luar Negeri RRT, Wang Yi.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu), menyoroti empat kematian WNI sebagai ABK di kapal berbendera China. Salah satu kapal tersebut membuang jenazah (melarung) WNI ABK di perairan Korea Selatan. Hal itu diketahui berdasarkan video yang diunggah oleh media milik Korea Selatan, MBC News.

AYO BACA : Tadi Pagi KBRI Seoul Pulangkan 14 ABK Long Xin, Sorenya Pulangkan 6 ABK Lim Discoverer

Retno menegaskan bahwa pihaknya telah meminta penyelidikan lebih lanjut terkait empat kapal berbendera cHINA sejak awal Mei lalu. Kapal-kapal tersebut yaitu Kapal Long Xin 629, Kapal Long Xin 605, Kapal Long Xin 606, dan Kapal Tian Yu 8. Keempat kapal tersebut milik perusahaan swasta di China.

Retno membeberkan bahwa empat WNI yang meninggal berasal dari Kapal Long Xin 629. Kapal tersebut awalnya membawa 15 WNI ABK. Kapal tersebut sempat mendarat di pelabuhan Busan, sebelum akhirnya berlayar lagi menuju China.

Pada tanggal 26 April, KBRI Seoul mendapatkan informasi bahwa satu WNI berinisial EP mengalami sakit. 

"Setelah dihubungi ke kamarnya, yang bersangkutan mengaku telah sakit lama, yaitu sesak napas dan batuk berdarah. Dia dibawa ke Busan Medical Center untuk dilakukan pemeriksaan," kata Retno dalam telekonferensinya, Kamis (7/5/2020).

Lebih lanjut, sehari setelah mengetahui informasi tersebut, EP meninggal dunia di rumah sakit setempat. Dari keterangan pihak rumah sakit, kata Retno, EP meninggal dunia karena pneumonia. EP merupakan satu diantara 15 ABK WNI yang bekerja di Kapal Long Xin 629.

Setelah itu, pihak Kementerian Luar Negeri mendapatkan informasi dari pernyataan tertulis Kapal Tian Yu 8 bahwa terdapat satu lagi ABK WNI yang berasal dari Kapal Long Xin 629 yang meninggal diatas kapal.

Informasi tersebut diketahui pada tanggal 26 Maret, dimana yang bersangkutan berinisial AR. Retno menuturkan AR mengalami sakit. 

AYO BACA : Menlu Retno: Ada Potensi Pelanggaran HAM ABK WNI di Kapal Tiongkok

"Dia dipindahkan dari Kapal Long 626 ke Kapal Tian Yu 8 untuk dibawa berobat ke pelabuhan. Dia dalam kondisi kritis," tutur Retno.

Pada 30 Maret pukul 7 pagi waktu setempat, Retno mengungkap bahwa AR meninggal dunia diatas kapal dan akhirnya memutuskan untuk dilarung ke laut. AR dilarung pada 31 Maret 2020 pukul 8 pagi waktu setempat.

"Dari info yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberitahu pihak keluarga dan mendapat persetujuan tertanggal 30 maret 2020 untuk jenazah agar dilarung. Pihak keluarga juga sepakat menerima kompensasi dari Kapal Tian Yu 8," jelas Retno.

Tidak berhenti disana, terdapat dua kasus kematian lain yang menimpa ABK WNI di kapal yang sama, yaitu Kapal Long Xin 629. Dua ABK tersebut meninggal ketika kapal mereka sedang berlayar di Samudera Pasifik.

"Saya tekankan, semua ABK WNI yang meninggal adalah dari Kapal Long Xin 629," tegasnya.

Retno menuturkan dua ABK tersebut sudah dilarung pada Desember 2019. 

"Keputusan pelarungan karena kematian disebabkan karena penyakit menular dan atas persetujuan awak kapal lainnya," jelas dia.

 

AYO BACA : Menlu Retno: Penerbangan dari dan ke China Ditunda Sementara

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar