Yamaha

Luminary Bakery : Lebih dari Sekadar Pelatihan Bekerja bagi Wanita di London

  Jumat, 21 Agustus 2020   Budi Cahyono
Luminary Bakery adalah toko roti di London yang bertujuan untuk memberi pelatihan dan memberdayakan wanita untuk membangun karier mereka. (Twitter/@LuminaryBakery)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Luminary Bakery, berlokasi di London, adalah perusahaan sosial yang dirancang untuk menawarkan kesempatan bagi wanita yang memiliki kelemahan sosial dan ekonomi, dalam membangun masa depan mereka sendiri.

Dilansir dari laman resminya, Rabu (19/8/2020), Luminary Bakery berfokus pada pembuatan kue sebagai bekal keterampilan untuk membawa wanita dalam kelayakan kerja.

Mereka memberikan kursus, pengalaman kerja, dan pekerjaan berbayar di toko roti tersebut, sekaligus memberdayakan wanita untuk membangun karier mereka.

Luminary Bakery memang dimulai sebagai salah satu cara untuk menemukan pekerjaan bagi wanita. Namun, pada praktiknya, Luminary Bakery menjadi wadah yang lebih dari itu. Inilah ceritanya, dirangkum dari The Guardian, Rabu (19/8/2020).

Alice Williams, pendiri Luminary Bakery bertemu dengan para wanita yang tinggal di jalan atau di akomodasi yang genting, saat melakukan volunter. Mereka tidak memiliki CV dan peluang.

Tidak ada yang mau mempekerjakan, sehingga mereka tidak dapat bergerak menuju kehidupan baru yang stabil.

AYO BACA : Rapper 11 Tahun Sampaikan Kondisi di Gaza lewat Lirik Lagu

Menurut Williams, para wanita ini terjebak dalam keadaan mereka. Ia kemudian juga menyadari para wanita tersebut masih jauh dari kemampuan berkontribusi di lingkungan kerja.

“Jadi kami mengembangkan program pelatihan untuk membantu mereka,” ujarnya.

 “Hal yang saya suka tentang memanggang kue adalah prosesnya yang berdasarkan aturan dan kreatif,” kata Rachel Stonehouse, kepala pelatihan di Luminary Bakery.

Enam Bulan

Membuat kue, baginya memiliki beragam manfaat di baliknya, termasuk banyak keterampilan untuk dipelajari.

“Ketepatan waktu, mengikuti instruksi, bekerja secara efisien, hal-hal yang dapat ditransfer ke pekerjaan apa pun yang dilakukan orang," tambahnya.

AYO BACA : Disebut Helmy Yahya Berpenghasilan Rp23 Miliar, Atta Halilintar: Amin

Kegiatan siswa-siswa Luminary selama enam bulan yakni sehari membuat kue dalam seminggu, ditambah pembelajaran kelompok dalam komunikasi, manajemen waktu, mengelola emosi dan ketahanan.

Mereka juga memiliki akses ke pekerja inti untuk mendapatkan dukungan individu, membantu di bidang-bidang seperti urusan rumah dan perawatan anak. Hal itu berlanjut selama setidaknya 18 bulan.

“Kami sangat fokus pada akses ke pekerjaan karena itulah kunci untuk membuka begitu banyak pintu lain,” jelas Williams.

Ia lalu menambahkan adanya dukungan dan bantuan atas berbagai aspek yang melatarbelakangi kesulitan bekerja para siswa.

“Untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan, saat mengatasi begitu banyak hal lain di masa lalu, termasuk trauma,” katanya.

Lulusan mendapatkan pengalaman kerja berbayar di Luminary. Beberapa di antaranya melanjutkan belajar tentang kue di tingkat lanjut, memulai toko roti kecil mereka sendiri, atau memilih untuk bersekolah.

Di akhir pelatihan, para lulusan membuat resep untuk merayakannya. Beberapa di antaranya sangat mudah diingat sehingga dimasukkan ke dalam buku. Bagi Stonhouse, hal ini terasa seperti sebuah buku yang disatukan oleh komunitas wanita.

“Semua resep yang mereka bawa melalui pintu kami, ditinggalkan bersama kami,” tambahnya.

Stonehouse juga ambil bagian sebagai penulis buku resep Luminary “Rising Hope”. Ia memamerkan resep dan cerita dari lebih dari 50 siswa, yang sejauh ini telah menyelesaikan program pelatihan toko roti ini. Dalam buku juga tercatat jelas para lulusan telah berhasil, meski berasal dari sisi paling gelap seperti ketidakstabilan domestik dan keuangan. (Ventriana Berlyanti)

AYO BACA : Wow, Ekostis! Ini Daftar Teater dan Bioskop Terbuka Terbaik di Eropa dan Inggris

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar